Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azkya Saradiva

Sarjana Menganggur di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Agama | 2026-08-15 22:19:41

Gelar sarjana selama ini dipandang sebagai salah satu jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, banyak lulusan perguruan tinggi justru masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Jumlah sarjana yang belum memperoleh pekerjaan disebut telah menembus angka satu juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran bukan sekadar masalah kemampuan individu, tetapi juga berkaitan dengan terbatasnya penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi lulusan.

Fenomena ini semakin memprihatinkan karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti pertumbuhan lapangan kerja yang sebanding. Kondisi tersebut sering disebut jobless growth, ketika ekonomi tumbuh tetapi kesempatan kerja belum memadai. Persaingan pun semakin ketat, terlihat dari job fair yang dipenuhi pencari kerja hingga orang tua yang ikut mengantar dan menunggu anaknya berburu pekerjaan.

Di sisi lain, mahasiswa menagih janji penciptaan 19 juta lapangan kerja. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) diharapkan mampu menyerap tenaga kerja, tetapi bagi lulusan perguruan tinggi persoalannya bukan sekadar ada pekerjaan, melainkan apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan kompetensi mereka.
Dalam perspektif ekonomi kapitalisme, pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan dengan produksi, investasi, akumulasi modal, dan mekanisme pasar. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menjamin kesejahteraan setiap individu.

Perekonomian dapat tumbuh ketika sebagian masyarakat tetap kesulitan memperoleh pekerjaan, sementara perusahaan memiliki pertimbangan efisiensi dan keuntungan yang dapat berujung pada pengurangan tenaga kerja ketika menghadapi tekanan. Karena itu, persoalan pengangguran tidak cukup dijawab dengan meminta lulusan meningkatkan keterampilan atau menciptakan pekerjaan sendiri. Peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan bersama penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Persoalan ini kemudian menimbulkan pertanyaan: siapa yang bertanggung jawab? Dalam sistem yang sangat bergantung pada mekanisme pasar, penciptaan lapangan kerja banyak diserahkan kepada dunia usaha dan sektor swasta, sementara negara berperan sebagai regulator. Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap kesejahteraan rakyat. Keberhasilan ekonomi tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu.  Negara ditempatkan sebagai raa'in, yaitu pihak yang bertanggung jawab mengurus dan melindungi kepentingan rakyat, sehingga pengangguran tidak hanya dipandang sebagai persoalan pribadi.

Islam juga memiliki konsep kepemilikan yang berbeda dengan kapitalisme. Sumber daya strategis seperti minyak, gas, tambang, hutan, dan air termasuk kekayaan yang memiliki kepentingan luas bagi masyarakat dan pengelolaannya diarahkan untuk kemaslahatan rakyat. Jika dikelola secara optimal, kekayaan tersebut dapat menjadi sumber pembiayaan untuk membangun industri strategis, menyediakan layanan publik, sekaligus membuka lapangan pekerjaan dalam skala besar.

Dalam konsep Khilafah yang ditawarkan dalam pemikiran ekonomi Islam, negara berperan sebagai penanggung jawab dalam memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi. Negara tidak sekadar menunggu pasar menciptakan pekerjaan, tetapi berperan membuka lapangan kerja, mengembangkan industri strategis, memfasilitasi keterampilan dan penempatan kerja, serta memberikan jaminan bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada menghasilkan lulusan, tetapi diarahkan agar ilmu dan keterampilan masyarakat dapat digunakan secara produktif.

Fenomena satu juta sarjana menganggur seharusnya tidak hanya dipandang sebagai angka statistik. Di baliknya terdapat anak-anak muda yang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk memperoleh pendidikan, tetapi masih harus bersaing mendapatkan pekerjaan. Karena itu, persoalan pengangguran sarjana membutuhkan solusi yang lebih mendasar.

Peningkatan kompetensi memang penting, tetapi negara juga perlu memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar menghasilkan kesempatan kerja dan kesejahteraan. Dalam perspektif Islam, ukuran keberhasilan ekonomi bukan sekadar seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, melainkan sejauh mana kebutuhan rakyat terpenuhi dan kekayaan dikelola untuk kemaslahatan masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image