Kenapa Gen Z Cepat Resign? Benarkah Gen Z Masalahnya?
Info Terkini | 2026-09-28 14:29:37Kalau ngomongin Gen Z dan dunia kerja, pasti ada saja anggapan bahwa Gen Z itu gampang resign. Baru beberapa bulan kerja sudah bilang tidak cocok, sedikit mendapat tekanan ingin keluar, atau ketika ada tawaran kerja lain langsung pindah. Karena hal seperti ini cukup sering dibicarakan, akhirnya muncul anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang tidak tahan bekerja dan kurang loyal terhadap perusahaan.
Tapi, apa memang sesederhana itu?
Sebenarnya, alasan seseorang resign tidak bisa langsung dikaitkan dengan generasinya. Setiap orang punya alasan yang berbeda ketika memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Ada yang merasa gajinya tidak sesuai, tidak nyaman dengan lingkungan kerja, tidak cocok dengan atasannya, merasa terlalu banyak pekerjaan, atau merasa tidak punya kesempatan untuk berkembang.
Jadi, sebelum mengatakan bahwa Gen Z gampang resign, mungkin kita perlu melihat dulu apa yang membuat mereka memilih untuk pergi.
Bekerja Tidak Hanya Tentang Gaji
Gaji memang menjadi salah satu hal yang penting dalam memilih pekerjaan. Tetapi sekarang, banyak anak muda yang tidak hanya melihat pekerjaan dari berapa besar gaji yang akan diterima.
Misalnya, seseorang mendapatkan gaji yang cukup baik, tetapi setiap hari merasa tidak nyaman di tempat kerja. Atasannya sulit diajak komunikasi, pekerjaan yang diberikan terlalu banyak, atau tidak ada kesempatan untuk belajar hal baru. Kalau terus seperti itu, lama-lama seseorang bisa merasa tidak betah.
Sebaliknya, ada juga pekerjaan yang gajinya mungkin tidak sebesar tempat lain, tetapi lingkungan kerjanya nyaman, rekan kerja bisa diajak bekerja sama, dan ada kesempatan untuk berkembang. Bagi sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Artinya, keputusan untuk resign tidak selalu soal mencari gaji yang lebih tinggi. Ada banyak hal lain yang ikut dipikirkan.
Ekspektasi dan Kenyataan yang Berbeda
Alasan lain yang bisa membuat seseorang resign adalah ketika kondisi pekerjaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan sejak awal.
Saat melamar kerja, perusahaan mungkin menjelaskan bahwa pekerjaannya fleksibel, lingkungan kerjanya nyaman, atau ada kesempatan untuk berkembang. Tetapi setelah diterima, ternyata kondisinya berbeda.
Misalnya, aturan di tempat kerja ternyata cukup ketat, pekerjaan yang diberikan lebih banyak dari yang dijelaskan saat awal, atau karyawan sulit menyampaikan pendapat. Kalau perbedaan antara harapan dan kenyataan tersebut terus terjadi, wajar jika karyawan mulai merasa kecewa.
Hal seperti ini sebenarnya bisa dialami siapa saja, bukan hanya Gen Z. Bedanya, sekarang anak muda lebih mudah mencari informasi tentang pekerjaan dan perusahaan lain.
Sekarang Mencari Kerja Lain Lebih Mudah
Dulu, pindah kerja mungkin dianggap sebagai keputusan yang cukup besar. Sekarang, informasi tentang lowongan pekerjaan bisa ditemukan dengan lebih mudah.
Ada LinkedIn, Jobstreet, Glints, media sosial, bahkan informasi dari teman. Seseorang yang merasa tidak cocok dengan pekerjaannya bisa dengan mudah melihat peluang lain yang tersedia.
Gen Z juga bisa mencari tahu lebih banyak tentang sebuah perusahaan sebelum melamar. Mereka bisa melihat informasi mengenai posisi pekerjaan, budaya perusahaan, sampai pengalaman orang lain yang pernah bekerja di sana.
Karena itu, ketika merasa tidak cocok dengan pekerjaan sekarang, pilihan untuk mencari pekerjaan lain menjadi lebih terbuka.
Bukan berarti mereka tidak mau berusaha. Bisa saja mereka merasa sudah mencoba bertahan, tetapi kondisi yang ada memang tidak sesuai dengan apa yang mereka cari.
Lingkungan Kerja Juga Bisa Menjadi Masalah
Kadang-kadang yang membuat seseorang resign bukan pekerjaannya, tetapi lingkungan tempat mereka bekerja.
Misalnya, hubungan dengan atasan kurang baik, pembagian tugas tidak jelas, komunikasi antarpegawai buruk, atau pekerjaan sering diberikan di luar tanggung jawab. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau terjadi terus-menerus tentu bisa membuat karyawan merasa lelah dan tidak nyaman.
Begitu juga dengan kurangnya apresiasi. Karyawan yang sudah bekerja keras tentu ingin merasa bahwa usahanya dihargai. Kalau yang didapat justru semakin banyak pekerjaan tanpa adanya penghargaan atau kesempatan berkembang, mereka bisa mulai berpikir untuk mencari tempat lain.
Jadi, kalau banyak karyawan memilih resign, perusahaan juga perlu melihat kondisi di dalamnya. Jangan sampai semua kesalahan langsung diberikan kepada karyawan.
Gen Z Bukan Berarti Tidak Mau Bekerja Keras
Gen Z sering dianggap ingin pekerjaan yang santai dan tidak banyak tekanan. Padahal, belum tentu seperti itu.
Banyak anak muda yang sebenarnya mau bekerja keras, mengejar target, belajar hal baru, dan menerima tanggung jawab. Yang menjadi pertimbangannya adalah apakah usaha yang mereka lakukan sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.
Kalau pekerjaan memang berat tetapi ada kesempatan untuk berkembang, mendapatkan pengalaman, dan mendapatkan penghargaan yang sesuai, mungkin seseorang masih mau bertahan.
Masalahnya muncul ketika pekerjaan semakin berat tetapi tidak ada perkembangan, apresiasi, atau kejelasan mengenai masa depan mereka di perusahaan.
Jadi, mungkin bukan karena Gen Z tidak mau bekerja keras. Mereka hanya lebih banyak mempertimbangkan apakah pekerjaan tersebut memang sesuai untuk mereka.
Jadi, Benarkah Gen Z Masalahnya?
Kalau melihat berbagai alasan tersebut, rasanya kurang tepat kalau setiap Gen Z yang resign langsung dianggap tidak loyal atau tidak tahan bekerja.
Memang mungkin ada anak muda yang terlalu cepat mengambil keputusan ketika menghadapi masalah di tempat kerja. Tetapi ada juga yang resign setelah mempertimbangkan banyak hal dan merasa bahwa pekerjaannya memang sudah tidak sesuai.
Setiap orang tentu punya batas dan pertimbangan masing-masing. Ada yang memilih bertahan karena membutuhkan pengalaman, ada yang bertahan karena nyaman dengan lingkungan kerjanya, dan ada juga yang memilih pergi karena merasa sudah tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Jadi, ketika membahas kenapa Gen Z cepat resign, jangan hanya melihat dari sisi karyawannya. Perusahaan juga perlu melihat apakah gaji, beban kerja, lingkungan, kepemimpinan, dan kesempatan berkembang sudah sesuai dengan kebutuhan karyawan.Pada akhirnya, resign bukan selalu berarti seseorang malas atau tidak mau bekerja keras. Bisa saja memang ada ketidaksesuaian antara karyawan dan tempat kerjanya.
Jadi, benarkah Gen Z masalahnya? Belum tentu. Mungkin yang perlu dilihat bukan hanya kenapa Gen Z memilih resign, tetapi juga apa yang membuat mereka sampai merasa perlu untuk resign.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
