Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kirania Zahra Revana

Hidup di Era Validasi: Mengapa Kita Selalu Ingin Diakui Orang Lain?

Gaya Hidup | 2026-11-06 12:39:12

Di tengah perkembangan media sosial, kehidupan seseorang seolah menjadi sesuatu yang bisa dinilai melalui layar. Jumlah likes, komentar, dan pengikut terkadang dianggap sebagai ukuran seberapa menarik atau berharganya seseorang. Tidak sedikit orang yang merasa senang ketika unggahannya mendapatkan banyak respons, tetapi justru kecewa ketika tidak ada banyak orang yang memperhatikannya.

Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan anak muda, khususnya Gen Z. Media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau cerita, melainkan juga menjadi ruang untuk menunjukkan pencapaian, penampilan, bahkan kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, muncul keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain agar merasa dihargai dan dianggap memiliki kehidupan yang menarik.

Validasi yang Menjadi Kebiasaan

Mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain sebenarnya bukan hal yang salah. Setiap orang tentu senang ketika usaha dan keberadaannya dihargai. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran kebahagiaan.

Contohnya, ketika seseorang mengunggah foto dan terus memeriksa jumlah likes atau komentar. Bahkan, ada yang merasa kurang percaya diri ketika unggahannya tidak mendapatkan respons sesuai harapan. Hal sederhana seperti ini bisa menunjukkan bahwa perhatian orang lain terkadang memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Terjebak dalam Kehidupan Orang Lain

Media sosial juga membuat kita lebih mudah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Melihat teman yang sering berlibur, memiliki barang bagus, atau mendapatkan pencapaian tertentu terkadang membuat kita merasa tertinggal.

Padahal, kehidupan yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya. Kita hanya melihat momen yang ingin dibagikan, bukan seluruh cerita di baliknya. Setiap orang memiliki masalah dan proses hidup yang berbeda, sehingga tidak adil jika kebahagiaan kita diukur berdasarkan kehidupan orang lain.

Belajar Menghargai Diri Sendiri

Mengurangi ketergantungan pada validasi orang lain bisa dimulai dari hal sederhana. Kita perlu belajar menghargai pencapaian diri sendiri, tidak terlalu memikirkan jumlah likes, serta menggunakan media sosial dengan lebih bijak.

Tidak semua kegiatan harus dibagikan dan tidak semua kebahagiaan harus diketahui orang lain. Ada kalanya menikmati waktu bersama keluarga, teman, atau diri sendiri tanpa sibuk memikirkan unggahan justru terasa lebih menyenangkan.

Bahagia Tidak Harus Diakui Semua Orang

Mendapatkan perhatian memang menyenangkan, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasa percaya diri hanya karena kurang mendapatkan pengakuan. Hidup bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling bahagia, paling sukses, atau paling menarik di media sosial.

Pada akhirnya, kita tidak harus selalu membuktikan sesuatu kepada orang lain. Belajar menerima diri sendiri, menghargai proses, dan menikmati kehidupan yang sedang dijalani jauh lebih penting daripada terus mengejar pengakuan. Sebab, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan penonton.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image