Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image silvia hidayat

SDM di Era Multi-Working: Ketika Satu Pekerjaan tidak Lagi Selalu Cukup

Bisnis | 2026-09-18 09:19:11

Dunia kerja sedang mengalami perubahan. Jika dahulu memiliki satu pekerjaan tetap dianggap sebagai gambaran karier yang ideal, kini semakin banyak orang menjalani lebih dari satu aktivitas profesional. Setelah menyelesaikan pekerjaan utama, seseorang dapat melanjutkan aktivitas sebagai freelancer, menjalankan bisnis kecil, menjadi content creator, mengajar, atau mengambil pekerjaan berbasis proyek. Fenomena ini dikenal sebagai multi-working.

Perubahan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Bagi sebagian pekerja, satu sumber pendapatan belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang. Namun, pekerjaan tambahan tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan finansial. Sebagian pekerja memanfaatkannya untuk menambah pengalaman, mengembangkan keterampilan, membangun jaringan, atau mencoba bidang pekerjaan yang berbeda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara SDM memandang pekerjaan mulai berubah. Pekerjaan tidak lagi selalu dipandang sebagai hubungan jangka panjang dengan satu perusahaan. Karier semakin menjadi sesuatu yang fleksibel dan dinamis, terutama bagi pekerja yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi digital.

Namun, multi-working juga menghadirkan dilema. Memiliki pekerjaan tambahan memang memberikan peluang, tetapi dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin tipis. Ketika pekerjaan utama belum selesai sementara pekerjaan sampingan juga menunggu, waktu istirahat dapat ikut berkurang. Jika tidak dikelola dengan baik, keinginan untuk meningkatkan produktivitas justru dapat berubah menjadi kelelahan.

Bagi perusahaan, fenomena ini juga perlu dilihat secara lebih terbuka. Memiliki pekerjaan tambahan tidak selalu berarti seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan. Selama pekerjaan utama tetap dilakukan dengan baik, target tercapai, tidak terdapat konflik kepentingan, dan informasi perusahaan tetap terlindungi, aktivitas profesional di luar pekerjaan utama tidak selalu menjadi persoalan.

Di sinilah pengelolaan SDM menghadapi tantangan baru. Perusahaan tetap membutuhkan aturan yang jelas mengenai pekerjaan tambahan, tetapi aturan tersebut perlu mempertimbangkan perubahan pola kerja. Penilaian terhadap karyawan juga dapat lebih diarahkan pada tanggung jawab, hasil kerja, dan kontribusi, bukan hanya pada seberapa banyak waktu yang dihabiskan di tempat kerja.

Di sisi lain, pekerja juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola multi-working secara bijak. Fleksibilitas tidak berarti dapat mengabaikan pekerjaan utama. Kemampuan mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga kualitas pekerjaan, dan memahami batas kemampuan menjadi semakin penting ketika seseorang menjalankan lebih dari satu pekerjaan.

Perubahan ini pada akhirnya menunjukkan bahwa makna karier juga semakin beragam. Karier tidak selalu harus berbentuk satu jalur lurus dalam satu perusahaan. Seseorang dapat memiliki pekerjaan utama sekaligus membangun keahlian, bisnis, maupun sumber pendapatan lain di luar pekerjaan tersebut.

Karena itu, SDM di era multi-working perlu dipandang sebagai individu yang memiliki berbagai kemampuan dan peran, bukan hanya sebagai tenaga kerja yang menjalankan satu pekerjaan. Perusahaan membutuhkan produktivitas dan komitmen, sementara pekerja membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan memiliki fleksibilitas dalam menjalani kehidupan profesional.

Multi-working bukan berarti satu pekerjaan sudah tidak penting. Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa dunia kerja semakin beragam dan dinamis. Tantangannya adalah bagaimana SDM dan perusahaan dapat menemukan keseimbangan antara produktivitas, tanggung jawab, pengembangan diri, dan kehidupan pribadi.

Pada akhirnya, di era ketika satu pekerjaan tidak lagi selalu cukup, hal yang paling penting bukan sekadar berapa banyak pekerjaan yang dimiliki seseorang, melainkan bagaimana setiap peran dapat dijalankan secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan kualitas pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image