Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dahlia-Ku

Meneropong MBG dan Belajar Dari Kelembutan Hati Umar bin Khattab

Nasihat | 2026-09-18 18:29:52
Picture : magnific (freepik)

Kisahnya selalu berhasil menarik perhatian siapapun yang mendengar. Viralnya pun tak dibatasi hanya hitungan bulan, namun hingga detik ini teladan kepemimpinan beliau akan melekat di dalam hati. Siapa lagi kalau bukan kisah Umar bin Khattab, dimana beliau memikul sendiri sekarung gandum untuk diberikan pada seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan. Luarbiasa bukan akhlaq beliau, bahkan saat sang pengawal (Aslam) menawarkan bantuan untuk memikul gandum tersebut, Umar dengan tegas menolak sambil mengatakan "apakah engkau mau memikul dosa-dosaku kelak ketika di akhirat?". Sungguh siapapun yang masih mempunyai kebersihan hati pasti akan merindukan sosok kepemimpinan seperti beliau. Pribadi yang sangat lembut dan peduli dengan rakyatnya.

Apalagi saat akhir-akhir ini kita mendengar banyak pemberitaan tentang anak-anak sekolah yang diduga mengalami keracunan massal setelah mengkonsumsi MBG. Hati siapapun pasti sedih dan ikut terluka. Pemberitaan ini bisa kita lihat salah satunya di media bbc Indonesia -- telah terjadi keracunan massal lebih dari 3.000 orang dan sebagian besar dialami anak-anak. Diduga keracunan ini setelah memakan menu dari MBG. Kejadiannya ada di beberapa wilayah diantaranya Pati (Jawa Tengah), Sidoarjo (Jawa Timur), Rembang (Jawa Tengah), Agam (Sumatra Barat), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), dan Kabupaten Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat). (11 September 2026).

Bapak Sudaryono selaku Kepala BGN menyampaikan bahwa 80%-90% kasus yang terjadi berkaitan dengan keracunan program MBG disebabkan pelanggaran pada SOP (Standar Operasional Prosedur). Diantaranya tidak taat SOP saat penerimaan dan penyimpanan barang, tidak taat SOP terkait suhu dan batas konsumsi dan lainnya.

Mari kita jujur melihat kasus keracunan massal ini. Benarkah kasus yang menimpa anak-anak disebabkan karena pelanggaran dan kelalaian SOP saja?. Kasusnya sudah sedemikian parah, dan dialami tidak hanya satu dua anak. Sehingga ini membuktikan bahwa problem ini tidak hanya soal teknis, tetapi problem sistemik. Sistem yang lebih mengagungkan unsur bisnis dibanding memberi pelayanan totalitas untuk pemenuhan gizi dan kesehatan generasi.

Inilah gambaran nyata kehidupan ala demokrasi kapitalisme, dimana jalannya program MBG harus ditopang dengan efisiensi anggaran dan target kuantitas. Berbagai problem pun muncul bersamaan dengan program ini, mulai dari problem kelayakan tempat, peralatan dan rekrutmen karyawan SPPG. Selain itu muncul juga problem terkait higienitas dan kualitas bahan makanan MBG, serta bentuk kelalaian lainnya, yang ternyata belum mendapatkan pengawasan yang lebih ketat dari pemangku kebijakan. Termasuk belum ada orang yang ditetapkan sebagai tersangka dari dugaan kasus keracunan massal yang akan mendapatkan sanksi tegas.

Sungguh masih terus teringat dengan respon kepemimpinan Umar bin Khattab saat mendengar tangisan dari anak-anak yang kelaparan. Beliau sangat mengedepankan pelayanan dan pengurusan untuk rakyat, karena memang seperti itulah hubungan antara seorang pemimpin dan rakyatnya dalam pandangan Islam.

Pemimpin ibarat pelayan umat. Maka dalam hubungan keduanya tidak boleh ada niat dan tujuan untuk bisnis (misal mencari keuntungan sebanyak mungkin). Dan pandangan seperti ini harus ada pada semua level pemerintahan, mulai dari pusat, daerah hingga level unit pelaksana teknis misal di dapur-dapur sekolah. Dengan begitu akan lahir rasa tanggungjawab yang besar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pondasi dalam bersikap adalah aqidah Islam yang kuat, sehingga semua pemegang amanah (baik di pusat sampai daerah), akan selalu merasa diawasi Allah, hingga tidak berani melakukan pelanggaran-pelanggaran SOP terkait proses membuat makanan bergizi untuk anak-anak. Islam memandang bahwa kebutuhan dasar masyarakat harus dijamin dan dipenuhi secara adil dan merata. Paradigma ini akan melahirkan mekanisme penyediaan makanan halal dan bergizi yang dikelola dengan mudah dan seefisien mungkin. Disamping itu ada jabatan qadhi hisbah yang mempunyai tanggungjawab untuk melakukan pengawasan program ini dengan optimal.

Dengan pengaturan seperti inilah, maka akan ada perubahan dan solusi nyata dalam memenuhi kebutuhan dasar generasi. Masa depan bangsa ini ada di pundak generasi, jadi sudahkah kita berperan dalam membersamai mereka sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, sehat dan penuh rasa empati?. Sudah saatnya kita benar-benar merenungkan hal ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image