Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azkia Rahmah

Satu Karyawan, Banyak Peran: Efisiensi atau Salah Perencanaan SDM?

Info Terkini | 2026-09-18 16:22:59

Di dunia kerja saat ini, memiliki lebih dari satu kemampuan tentu menjadi nilai tambah. Seorang content creator misalnya, mungkin tidak hanya mampu membuat konsep konten, tetapi juga memahami copywriting, fotografi, videografi, editing, hingga pengelolaan media sosial. Bagi perusahaan, memiliki karyawan dengan kemampuan yang beragam tentu menguntungkan.

Namun, ada perbedaan antara memiliki banyak kemampuan dengan harus mengerjakan banyak peran sekaligus.

Fenomena ini cukup mudah ditemui dalam dunia kerja. Seseorang awalnya direkrut untuk satu posisi, kemudian perlahan mendapat tanggung jawab tambahan. Awalnya mungkin hanya sesekali membantu pekerjaan lain. Namun seiring waktu, pekerjaan tambahan tersebut justru menjadi bagian dari rutinitas, sementara tanggung jawab utamanya tetap harus diselesaikan.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut memang dapat dianggap sebagai bentuk efisiensi. Terutama bagi perusahaan dengan jumlah karyawan yang belum terlalu besar, fleksibilitas tenaga kerja dapat membantu operasional berjalan lebih cepat. Karyawan juga memperoleh kesempatan untuk mempelajari kemampuan baru dan mendapatkan pengalaman yang lebih luas.

Namun, efisiensi seharusnya memiliki batas.

Ketika satu karyawan terus menerima tambahan pekerjaan tanpa mempertimbangkan kapasitas, waktu, dan beban kerja, persoalannya tidak lagi sekadar tentang kemampuan multitasking. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa perusahaan perlu mengevaluasi kembali perencanaan sumber daya manusianya.

Penelitian mengenai karyawan dengan rangkap jabatan di Indonesia menunjukkan bahwa kekosongan formasi yang menyebabkan seseorang menjalankan lebih dari satu posisi dapat meningkatkan beban kerja dan waktu penyelesaian pekerjaan. Penelitian lain juga menunjukkan pentingnya analisis jabatan dan analisis beban kerja agar pembagian pekerjaan serta kebutuhan jumlah tenaga kerja dapat ditentukan dengan lebih tepat.

Multiskilling Tidak Sama dengan Overload

Karyawan yang mampu mengerjakan berbagai hal sebenarnya merupakan aset bagi perusahaan. Kemampuan lintas bidang dapat membuat seseorang lebih adaptif dan membuka kesempatan pengembangan karier.

Masalahnya muncul ketika perusahaan menganggap kemampuan tersebut sebagai alasan untuk terus menambahkan tanggung jawab.

Misalnya, seorang karyawan mampu membuat desain meskipun pekerjaan utamanya bukan sebagai desainer. Kemampuan tersebut tentu dapat membantu tim dalam kondisi tertentu. Namun, apabila pekerjaan desain kemudian menjadi tanggung jawab rutin tanpa adanya penyesuaian pekerjaan utama, perusahaan perlu melihat kembali apakah pembagian kerjanya masih realistis.

Menurut saya, di sinilah perusahaan perlu membedakan antara pengembangan kemampuan karyawan dan penumpukan pekerjaan. Karyawan yang diberi kesempatan mencoba bidang baru dapat berkembang. Sebaliknya, jika semua pekerjaan diberikan hanya karena seseorang dianggap “bisa”, kemampuan tersebut justru berpotensi berubah menjadi beban.

Perencanaan SDM Bukan Sekadar Merekrut Orang

Dalam Perencanaan SDM, perusahaan seharusnya tidak hanya menentukan berapa banyak orang yang perlu direkrut. Perusahaan juga perlu memahami pekerjaan apa yang harus dilakukan, kompetensi yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja yang sesuai, hingga bagaimana beban kerja dibagikan.

Karena itu, analisis jabatan dan analisis beban kerja menjadi penting. Jika satu karyawan terus mendapat tambahan tanggung jawab, perusahaan perlu mengevaluasi apakah pekerjaan tersebut masih berada dalam kapasitas yang wajar atau sebenarnya sudah membutuhkan tenaga tambahan.

Perencanaan yang kurang tepat juga dapat membuat beban kerja antarpegawai menjadi tidak merata. Penelitian mengenai perencanaan SDM di Indonesia menunjukkan bahwa kekurangan pegawai dan distribusi beban kerja yang tidak merata dapat menjadi persoalan ketika kebutuhan tenaga kerja belum direncanakan secara optimal.

Artinya, ketika satu orang terlihat mampu mengerjakan banyak hal, perusahaan tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja yang ada sudah cukup.

Efisien Hari Ini, Belum Tentu Efektif untuk Jangka Panjang

Mengurangi jumlah tenaga kerja mungkin dapat menekan biaya dalam jangka pendek. Namun, perusahaan juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas pekerjaan dan keberlanjutan tenaga kerja.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara beban kerja, burnout, dan keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan, walaupun besarnya hubungan tersebut dapat berbeda berdasarkan kondisi dan kelompok pekerja yang diteliti.

Karena itu, persoalannya bukan berarti setiap karyawan yang memegang banyak peran pasti mengalami burnout atau akan resign. Yang perlu diperhatikan adalah apakah perusahaan memiliki mekanisme untuk mengevaluasi beban kerja sebelum masalah tersebut muncul.

Perusahaan dapat melakukan evaluasi job description secara berkala, melihat distribusi pekerjaan dalam tim, melakukan analisis beban kerja, serta membuka komunikasi dengan karyawan. Jika kebutuhan pekerjaan memang terus meningkat, perusahaan juga perlu mempertimbangkan apakah solusi terbaiknya adalah meningkatkan kompetensi karyawan yang ada, membagi ulang pekerjaan, atau menambah tenaga kerja.

Jadi, Efisiensi atau Salah Perencanaan?

Memiliki karyawan multiskill tentu merupakan keuntungan. Perusahaan juga tidak harus merekrut satu orang untuk setiap pekerjaan kecil yang muncul. Namun, efisiensi seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat dibebankan kepada satu orang.

Menurut saya, perencanaan SDM yang baik justru mampu menemukan titik seimbang antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan tenaga kerjanya. Karyawan tetap dapat berkembang dan mempelajari banyak hal, tetapi memiliki tanggung jawab serta beban kerja yang jelas dan realistis.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan perusahaan mungkin bukan lagi, “Apakah karyawan ini mampu mengerjakannya?”, melainkan “Apakah semua pekerjaan ini masih wajar dikerjakan oleh satu orang?”.

Fenomena satu karyawan yang menjalankan banyak peran tidak selalu menunjukkan sesuatu yang buruk. Dalam kondisi tertentu, kemampuan multiskill dapat membantu perusahaan menjadi lebih fleksibel sekaligus memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berkembang. Namun, kondisi tersebut perlu dievaluasi ketika tanggung jawab yang terus bertambah mulai tidak seimbang dengan kapasitas dan beban kerja karyawan.

Perencanaan SDM menjadi penting agar perusahaan dapat menentukan kebutuhan tenaga kerja, membagi pekerjaan secara jelas, dan memastikan setiap posisi memiliki beban kerja yang wajar. Efisiensi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa sedikit tenaga kerja yang digunakan, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mampu menjaga produktivitas dan keberlanjutan karyawannya.

Pada akhirnya, bisa mengerjakan banyak hal tidak berarti seseorang harus mengerjakan semuanya. Perusahaan tetap perlu menemukan keseimbangan antara efisiensi organisasi dan kemampuan manusia yang menjalankannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image