Gaza Palestina, Namamu Kami Seru!
Politik | 2026-09-28 16:43:55
Wahai warga dunia , Dengarkan kami.
Kami tidak tahu berapa lama lagi suara kami akan terdengar.
Hari ini kami masih bernapas. Hari ini kami masih memanggil nama ibu. Hari ini kami masih mencari ayah di antara puing-puing rumah.
Tetapi esok..............................
Kami mungkin sudah tidak ada.
Jangan datang ke Gaza ketika rumah kami telah menjadi debu.
Jangan datang ketika sekolah kami menjadi reruntuhan.
Jangan datang ketika rumah sakit kehilangan cahaya.
Jangan datang ketika azan hanya terdengar dari masjid yang tinggal dinding dan berserakan tulang belulang.
Jangan datang setelah kami menjadi tulang belulang.
Wahai Warga dunia...
Kami tidak meminta kalian datang membawa kebencian.
Kami tidak meminta kalian menambah api peperangan.
Kami hanya meminta......................
Selamatkan manusia.
Selamatkan anak-anak yang belum sempat mengenal seperti apa masa depan itu.
Selamatkan ibu-ibu yang setiap malam memeluk anaknya sambil bertanya dalam hati:
"Apakah pagi masih akan datang?"
Selamatkan para ayah yang tidak lagi memiliki rumah untuk tempat keluarganya pulang.
Dan selamatkan kami sebelum nama kami hanya tersisa dalam daftar korban tanpa nama.
Wahai para ulama.............Allohu Akbar3X
Jangan biarkan mimbar-mimbar hanya menjadi tempat mengabarkan kesedihan.
Biarkan suara kalian menjadi suara kemanusiaan.
Serukan kepada dunia:
Hentikan kekerasan!
Lindungi warga sipil!
Buka jalan bantuan kemanusiaan!
Tegakkan keadilan!
Sebab agama tidak mengajarkan kita untuk menikmati penderitaan manusia.
Agama mengajarkan untuk berdiri bersama yang tertindas dan menegakkan keadilan.
Wahai para pemimpin dunia
Kami bukan angka.
Kami bukan statistik.
Kami bukan sekadar berita yang muncul di layar kemudian hilang ditelan berita berikutnya.
Di balik setiap angka ada seorang ibu.
Ada seorang ayah. Ada seorang anak.
Ada sebuah keluarga.
Ada sebuah mimpi yang belum selesai.
Satu nyawa manusia adalah satu dunia.
Wahai Warga dunia ..Allohu Akbar3X
Jika engkau mampu mengirim makanan .
Kirimkan sekarang.
Jika engkau mampu mengirim obat
Kirimkan sekarang.
Jika engkau mampu mengirim bantuan---
Kirimkan sekarang.
Jika engkau mampu bersuara .
Bersuara sekarang.
Jika engkau hanya mampu berdoa—
Berdoalah sekarang.
Jangan tunggu...
Jangan tunggu hingga kami menjadi sejarah.
Jangan tunggu hingga foto kami menjadi kenangan yang tidak berbentuk.
Jangan tunggu hingga anak-anak kami hanya bisa kalian temui dalam bingkai foto tanpa wujud.
Karena suatu hari nanti, ketika debu telah turun,
ketika senjata telah diam, ketika dunia akhirnya berkata,
"Kami menyesal....."
mungkin kami sudah tidak dapat mendengarnya.
Sebab kami telah berada di bawah tanah.
Menjadi tulang. Menjadi sunyi.
Menjadi saksi.
Dan mungkin saat itu kalian datang membawa bunga...
membawa air mata .. membawa doa.....
Tetapi kami ingin berkata dari balik kesunyian:
Mengapa kalian baru datang sekarang?
Wahai Warga dunia ..
Jangan datang ke Gaza setelah kami menjadi tulang berulang.
Datanglah selagi kami masih bernapas.
Datanglah selagi seorang anak masih menggenggam tangan ibunya.
Datanglah selagi seorang ayah masih berharap keluarganya selamat.
Datanglah selagi Gaza masih memiliki harapan.
Karena pertolongan yang datang setelah kematian hanya menjadi kenangan.
Tetapi pertolongan yang datang sebelum kematian
adalah penyelamatan kehidupan.
Wahai Warga dunia ...
Gaza tidak meminta kalian menjadi pahlawan.
Gaza hanya meminta kalian jangan menjadi penonton.
Jangan biarkan sejarah bertanya:
“Ketika Gaza memanggil, di manakah kalian?”
Dan jangan biarkan jawaban kita hanya berupa keheningan.
Datanglah sekarang. Selamatkan kehidupan.
Tegakkan keadilan. Hentikan penderitaan kami.
Sebelum Gaza berkata untuk terakhir kalinya:
“Wahai Warga dunia....jangan datang lagi. Kami sudah menjadi tulang belulang.”
tulang belulang yang terinjak kaki genocida
tulang belulang yang terinjak kaki kemunafikan
tulang berulang yang berserakan dipuing puing kehancuran moral berbaju Peace
“Kami sudah menjadi tulang belulang.”
(Dibaca perlahan. Beri jeda panjang pada bagian yang ditebalkan.)
September, 26 September 2026
By Tonny Rivani
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
