Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dwi ahmad Alfaried

Jempol Kita Juga Punya Tanggung Jawab

Humaniora | 2026-09-28 13:17:19

Jam sebelas malam, grup angkatan tiba-tiba ramai. Ada yang meneruskan pesan berantai soal "kerusuhan besar besok di kota kita", lengkap dengan foto yang entah dari mana. Dalam lima menit, sudah ada belasan orang membalas dengan emoji panik. Tidak ada yang bertanya sumbernya. Besok paginya, ternyata semua itu bohong, dan fotonya berasal dari peristiwa tiga tahun lalu di kota lain.

Kejadian seperti ini terlalu sering terjadi sampai kita menganggapnya biasa. Padahal justru di situlah persoalannya. Kita sering membayangkan bela negara sebagai urusan seragam, upacara, atau pelatihan baris-berbaris. Padahal ancaman hari ini datang lewat layar. Hoaks yang dibiarkan menyebar bisa memecah pertemanan, memanaskan sentimen antarkelompok, bahkan memicu keributan sungguhan. Kita tidak sedang berperang dengan senjata, tapi sedang berebut ruang: apakah ruang digital diisi informasi yang waras atau kegaduhan yang sengaja diproduksi.

Sebagai mahasiswa, kita tidak bisa lagi bersikap pasif. Kita dianggap kelompok terdidik, tapi sering kali kita sendiri yang ikut membagikan sesuatu hanya karena judulnya menggugah emosi. Ada tiga hal sederhana yang bisa langsung kita lakukan. Pertama, biasakan verifikasi sebelum membagikan. Cukup cari judulnya di mesin pencari atau cek situs cek fakta seperti Turnbackhoax dan Cekfakta. Kalau tidak ada media kredibel yang memberitakan, tahan jempol. Kedua, jangan ikut menyulut.

Komentar sinis yang memancing perang antarkubu mungkin terasa memuaskan, tapi itu justru bahan bakar bagi pihak yang memang mencari keributan. Ketiga, berani meluruskan di lingkaran sendiri. Menegur teman di grup memang canggung, tapi koreksi yang sopan dan disertai sumber valid jauh lebih berguna daripada diam.

Ada yang bilang ini berlebihan, toh cuma media sosial. Saya tidak sependapat. Apa yang kita lakukan di ruang digital punya dampak nyata, dan kebiasaan kecil yang dikumpulkan banyak orang akan membentuk iklim informasi kita. Bela negara tidak selalu berarti tampil heroik. Kadang wujudnya hanya menolak menekan tombol bagikan pada hal yang belum jelas kebenarannya.

Jadi sebelum meneruskan pesan berikutnya, tanya diri sendiri: sudah dicek belum? Kalau jawabannya belum, jangan kirim. Itu bagian kecil dari tanggung jawab kita sebagai warga negara, dan sebagai mahasiswa, kita seharusnya sudah bisa melakukannya paling awal.

Penulis:

Dwi Ahmad Alfaried

25037010016

Kelas Bela Negara: G216

Mahasiswa UPN "Veteran" Jawa Timur

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image