Mengapa Bawang Bisa Membuat Menangis? Ternyata Bukan Karena Patah Hati!
Pendidikan | 2026-10-21 14:18:12
Pernah nggak, kamu sedang membantu memasak, lalu tiba-tiba mata berair saat memotong bawang? Padahal, hidup sedang baik-baik saja, tidak habis dimarahi dosen, tidak sedang menonton film sedih, apalagi life after just friends . Namun, air mata tetap mengalir seolah-olah dunia tidak berpihak padamu. Sebenarnya kenapa sih bawang bisa membuat kita menangis?
Tenang, kamu tidak sedang menjadi terlalu sensitif. Ada penjelasan ilmiah di balik kejadian ini. Bawang memiliki semacam 'senjata kimia' alami yang aktif ketika jaringannya rusak. Reaksi inilah yang membuat mata terasa perih dan akhirnya mengeluarkan air mata. Bahkan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses pemotongan bawang juga melibatkan tetesan cairan kecil ke udara (Wu dkk., 2025).
Bawang punya cara sendiri untuk melindungi diri
Selama ini, bawang dikenal sebagai bahan masakan padahal di dalamnya terdapat sistem perlindungan kimia. Bawang mengandung senyawa sulfur yang membentuk aroma dan rasa khasnya. Menurut Zhao dkk. (2021 ), bawang juga kaya akan senyawa bioaktif, termasuk organosulfur dan fenolik. Saat dipotong, struktur selnya rusak sehingga berbagai komponen bereaksi menghasilkan senyawa baru. Sistem penutupan alami ini pun membuat kegiatan memasak terasa seperti adegan drama.
Apa yang sebenarnya terjadi saat bawang dipotong?
Bayangkan sel-sel bawang seperti ruangan kecil yang menyimpan bahan tertentu. Ketika pisau memotong jaringan bawang, susunan selnya rusak dan berbagai komponen di dalamnya mulai bercampur. Salah satu senyawa yang terlibat dalam proses ini adalah 1-propenyl-L-cysteine sulfoxide . Ketika jaringan bawang rusak, enzim bernama alliinase membantu mengubah senyawa tersebut menjadi beberapa reaksi produk, termasuk asam sulfenat. Selanjutnya, enzim lain yang disebut lachrymatory factor synthase membantu membentuk senyawa bernama propanethial S-oxide . Nama ilmiahnya memang cukup panjang, namun tetap sederhana. Senyawa inilah yang menjadi penyebab utama mata berair ketika kita memotong bawang. Mekanisme ini berkaitan dengan penelitian tentang perbaikan genetik bawang oleh Cramer dkk. (2021) dan genetika molekuler bawang oleh Sharma dkk. (2024). Karena senyawa tersebut mudah diolah, proses berlangsung cukup cepat. Baru beberapa kali mengiris bawang, mata sudah terasa perih. Pisau belum selesai bekerja, air mata sudah lebih dulu mengambil alih suasana.
Kenapa mata langsung mengeluarkan air mata?
Setelah terbentuk, propanethial S-oxide menyebar melalui udara dan dapat mencapai permukaan mata. Senyawa ini merangsang saraf sensorik yang mendeteksi zat pengiritasi. Tubuh kemudian merespons dengan meningkatkan produksi air mata untuk membantu membilas zat yang mengganggu tersebut (Wu dkk., 2025). Air mata yang muncul saat memotong bawang disebut air mata refleks. Berbeda dengan air mata emosional yang muncul ketika kita sedih atau terharu, air mata refleks merupakan respon otomatis tubuh terhadap rangsangan fisik maupun kimia. Dengan kata lain, mata kita tidak ikut sedang merasakan penderitaan bawang. Mata hanya sedang berlari untuk melindungi diri. Jadi, kalau ada yang bertanya mengapa kamu menangis di dapur, jawab saja bahwa tubuhmu sedang melakukan eksperimen kimia secara langsung.
Menariknya, tingkat iritasi bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada jenis bawang, kondisi pemotongan, dan sensitivitas masing-masing orang. Bukan Cuma Bikin Menangis, Bawang Juga Punya Aroma Khas, bawang memang unik. Bahan makanan yang sama bisa membuat mata berair, tapi juga membuat masakan terasa lebih nikmat. Hal ini berkaitan dengan senyawa organosulfur yang berperan dalam membentuk aroma dan rasa khas bawang. González-de-Peredo dkk. (2023) meneliti senyawa volatil dan semivolatil yang mengandung sulfur dalam bawang menggunakan metode analisis kimia. Senyawa yang mudah menguap berkontribusi terhadap aroma yang kita cium, sedangkan komponen lainnya ikut mempengaruhi rasa dan sensasi ketika dikonsumsi. Artinya, reaksi kimia di dalam bawang tidak hanya berkaitan dengan udara mata, tetapi juga dengan karakteristik yang menjadikannya penting dalam berbagai masakan.
Bisakah kita memotong bawang tanpa menangis?
Ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi iritasi mata :
1. Metode pendinginan bawang
Menurut Dapur Umami (2024) , bawang dapat direndam atau dimasukkan ke dalam freezer selama 10–15 menit sebelum dikupas. Suhu yang lebih dingin dapat memperlambat reaksi kimia pada bawang bombay sehingga keluarnya gas yang menyebabkan kerusakan mata bisa berkurang.
2. Metode mempertahankan bagian akar bawang
National Onion Association menyarankan agar bagian akar bawang tetap utuh saat dipotong (CNN Indonesia, 2014) . Hal ini karena bagian akar mengandung senyawa sulfur yang dapat memicu rasa perih pada mata ketika bawang diiris.
3. Metode penggunaan pisau tajam
Menggunakan pisau yang tajam saat memotong bawang sangat disarankan karena dapat menghasilkan potongan yang lebih cepat dan mengurangi kerusakan sel bawang. Dengan begitu, senyawa sulfur yang terlepas ke udara juga dapat berkurang (KlikDokter, 2016) .
Penerapan metode ketiga di atas memberikan manfaat dari segi kenyamanan dan efisiensi saat memasak. Pendinginan bawang, mempertahankan bagian akar, dan mengatur sirkulasi udara dapat membantu mengurangi pelepasan gas iritan yang menyebabkan mata perih dan berair. Dengan demikian, proses pemotongan bawang menjadi lebih nyaman, cepat, dan aman karena tidak terganggu oleh rasa perih maupun pandangan yang kabur.
Sains ada di dapur kita!
Dari bawang yang sederhana, kita bisa belajar bahwa sains dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memotong bawang ternyata melibatkan kerusakan sel, reaksi enzim, pembentukan senyawa volatil, hingga respon perlindungan tubuh berupa air mata.
Jadi, sekarang kita tahu kalau bawang bisa membuat kita menangis karena reaksi kimia. Tapi, kalau hidup setelah sekedar teman bikin hati ikut berantakan, nah, itu cerita lain! Sampai saat ini, belum ada penelitian yang bisa menjelaskan mengapa seseorang berkata, 'Kita teman aja, ya,' tetapi sikapnya malah seperti orang pacaran. Setidaknya, kamu tidak pernah PHP. Dari awal, dia memang sudah menunjukkan tanda-tanda bakal bikin kita nangis. Lah, kalau dia? Perhatiannya lebih dari teman, bikin baper setiap hari, tapi pas ditanya hubungan kita apa, penjelasannya tetap teman. Waduh, ini yang perlu diteliti lebih lanjut sama ilmuwan!!
Daftar Pustaka
CNN Indonesia. (2014, 30 Desember). 10 cara aman memotong bawang menangis tanpa. https://share.google/pGzThBRTChUZdTGuu
Cramer, CS, Mandal, S., Sharma, S., Nourbakhsh, SS, Goldman, I., & Guzman, I. (2021). Kemajuan terbaru dalam peningkatan genetik bawang bombai. Agronomi, 11(3), 482. https://doi.org/10.3390/agronomy11030482
Dapur Umami. (2024, 27 Oktober). Cara cerdas mengupas bawang tanpa nangis: 6 tips yang wajib dicoba . https://share.google/fhLooXj7kSOfTXmiq
González-de-Peredo, AV, Vázquez-Espinosa, M., Espada-Bellido, E., Ferreiro-González, M., Carrera, C., Palma, M., & Barbero, GF (2023). Penerapan desorpsi termal langsung – kromatografi gas – spektrometri massa untuk penentuan senyawa organosulfur yang mudah menguap dan semi-volatil dalam bawang: Pendekatan analitis baru. Farmasi, 16 (5), 715. https://doi.org/10.3390/ph16050715
KlikDokter. (2016, 17 Desember). Bebas air mata saat memotong bawang . https://www.klikdokter.com/
Sharma, S., Khar, A., Khosa, JS, Mandal, S., & Malla, S. (2024). Kemajuan terkini dalam genetika molekuler bawang merah. Hortikultura, 10 (3), 256. https://doi.org/10.3390/horticulturae10030256
Wu, Z., Hooshanginejad, A., Wang, W., Hui, C.-Y., & Jung, S. (2025). Semburan tetesan dari pemotongan bawang. Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, 122 (42), e2512779122. https://doi.org/10.1073/pnas.2512779122
Zhao, X.-X., Lin, F.-J., Li, H., Li, H.-B., Wu, D.-T., Geng, F., Ma, W., Miao, B.-H., & Gan, R.-Y. (2021). Kemajuan terkini dalam senyawa bioaktif, fungsi kesehatan, dan masalah keamanan bawang bombai (Allium cepa L.). Frontiers in Nutrition, 8 , 669805. https://doi.org/10.3389/fnut.2021.66980
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
