Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Akmansyah

Saat Hidup Terasa Berat, Kembalilah kepada Sabar dan Salat

Agama | 2026-10-21 07:49:03
Muhammad Akmansyah, Dosen UIN Raden Intan Lampung

Ada kalanya seseorang tahu persis apa yang harus ia lakukan, tetapi merasa berat menjalaninya. Ia ingin tetap jujur, sementara tekanan terus datang. Ia ingin tenang, padahal persoalan menumpuk satu demi satu. Jalan pintas pun terlihat makin menggoda.

Pada titik itu, keberanian saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keteguhan hati, kemampuan menahan diri, dan hubungan yang kokoh dengan Allah Swt.

Al-Qur’an menjawabnya dengan petunjuk yang singkat. Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45).

Perintah yang sama diulang pada ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Kedua ayat ini mengarah pada satu hal: kekuatan diri saja tidak cukup untuk menghadapi tekanan. Seorang mukmin perlu membangun kesabaran dan memperkuat penghambaan kepada Allah.

Sabar bukan berarti menyerah

Sabar sering dianggap sama dengan diam dan pasrah menghadapi keadaan sulit. Padahal cakupannya lebih luas: teguh menjalankan ketaatan, mampu menjauhi larangan, dan sanggup menghadapi ketetapan Allah.

Ketiganya menuntut kekuatan yang berbeda. Ketaatan butuh disiplin, menjauhi larangan butuh kendali diri, dan menghadapi musibah butuh keteguhan agar kesedihan tidak berubah menjadi putus asa.

Orang yang sabar tetap merasakan kesulitan. Ia bisa sedih, lelah, atau kecewa. Bedanya, ia tidak membiarkan perasaan itu mengatur seluruh tindakannya.

Sabar juga diuji ketika godaan datang. Keinginan akan kedudukan, keuntungan, atau kepuasan sesaat bisa membuat seseorang melepas prinsip yang tadinya ia pegang. Di saat seperti itu, sabar menjadi daya untuk tetap memilih yang benar, walaupun pilihan itu lebih berat.

Maka sabar bukan sikap pasif. Ia adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika dorongan untuk menyimpang muncul.

Salat menguatkan hati yang mulai lelah

Tekanan yang berlangsung lama bisa menguras kesabaran. Mungkin itu sebabnya Al-Qur’an menyandingkan sabar dengan salat; keduanya berkaitan erat dalam membentuk keteguhan spiritual.

Rasulullah saw. memberi teladan dengan kembali kepada salat ketika menghadapi perkara berat. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila suatu perkara berat menghadapi Rasulullah saw., beliau melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud).

Teladan itu menunjukkan bahwa salat tidak dikerjakan hanya di waktu lapang. Ia juga menjadi tempat seorang hamba memohon pertolongan ketika kesulitan datang.

Dalam salat, seseorang mengakui keterbatasannya di hadapan Allah. Ia membaca firman-Nya, berdoa, dan menghadapkan hati kepada Zat tempat bergantung. Kesadaran itu membantunya melihat persoalan dengan ukuran yang lebih pas, sebab kemampuan diri tidak lagi dijadikan satu-satunya sandaran.

Meski begitu, salat tidak boleh berhenti pada gerakan fisik. Mutunya perlu terlihat dalam sikap. Orang yang menjaga salat semestinya terus memperbaiki kejujuran, menahan marah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang.

Khusyuk menghubungkan ibadah dengan perilaku

Mengapa salat terkadang terasa berat? Jawabannya ada pada lanjutan ayat 45 tadi: Al-Qur’an menyebut salat memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan sesungguhnya salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45, penggalan ayat).

Khusyuk berkaitan dengan kerendahan hati dan kesadaran akan hubungan manusia dengan Allah. Ketika kesadaran itu tumbuh, salat tidak lagi terasa sebagai rutinitas. Ia menjadi penghambaan yang membantu seseorang menata arah hidupnya.

Allah juga berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45, penggalan ayat).

Ayat ini mengaitkan ibadah dengan akhlak. Salat semestinya memperkuat kesadaran moral sehingga seseorang lebih mampu mengendalikan perilakunya. Ketika masih bergumul dengan perilaku buruk, seseorang perlu mengevaluasi penghayatan salatnya sekaligus memperbaiki kebiasaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab moralnya.

Kedekatan kepada Allah mestinya berjalan seiring dengan kesungguhan memperbaiki diri.

Sabar dan salat saling menguatkan

Sabar membuat seseorang bertahan dalam ketaatan. Salat mengingatkannya bahwa ia tidak menjalani hidup sendirian. Keduanya saling menguatkan, terutama saat prinsip harus dipertahankan di tengah tekanan atau kewajiban terasa berat.

Memohon pertolongan Allah juga tidak berarti mengabaikan sebab-sebab yang tersedia. Seseorang tetap menjalankan tanggung jawabnya dan memakai kemampuan yang ia miliki. Penghambaan kepada Allah menjadi landasan bagi usaha itu, bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.

Saat masalah datang, manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Sudahkah saya sabar menjalankan kewajiban? Apakah saya tetap menjaga prinsip ketika menghadapi godaan? Apakah salat saya membantu memperbaiki sikap dan mendekatkan hati kepada Allah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengubah ibadah menjadi proses membentuk diri, bukan sekadar rutinitas.

Sabar dan salat mengajarkan dua hal. Manusia harus teguh menjalankan yang benar, dan ia harus tetap sadar akan keterbatasannya di hadapan Allah. Sabar menjaga langkah; salat menguatkan hubungan dengan-Nya.

Karena itu, ketika hidup terasa berat, kembalilah kepada sabar dan salat. Keduanya menjadi pegangan untuk menghadapi kesulitan dengan iman, keteguhan, dan ikhtiar. Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image