Mencegah Tingginya Angka Perceraian
Agama | 2026-09-28 12:58:29
Perceraian sering kali tidak terjadi karena satu persoalan besar. Ia bisa bermula dari persoalan kecil yang terus dibiarkan: komunikasi yang buruk, masalah ekonomi, campur tangan keluarga, kecemburuan, hingga hadirnya orang ketiga.
Karena itu, menjaga rumah tangga tidak cukup hanya dengan mengatakan “harus sabar”. Kesabaran harus diikuti dengan komunikasi, perubahan sikap, pengaturan ekonomi, batasan yang sehat, dan kemauan mencari solusi.
A. FAKTOR INTERNAL: MASALAH DARI DALAM PASANGAN
1. Perbedaan prinsip yang tidak dikelola
Suami dan istri berasal dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan kebiasaan, cara berpikir, cara mengatur uang, mendidik anak, hingga cara berkomunikasi adalah hal yang wajar.
Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi pertengkaran tanpa akhir.
Solusi nyata:
- Jangan menyelesaikan masalah ketika sedang sama-sama emosi.
- Buat waktu khusus untuk berbicara, bukan berbicara sambil bertengkar.
- Bedakan masalah yang prinsip dengan masalah selera.
- Jangan menggunakan kalimat “kamu selalu...” atau “kamu tidak pernah...”.
- Sepakati beberapa aturan rumah tangga bersama.
- Jika tidak menemukan titik temu, libatkan orang yang dipercaya dan tidak memihak.
Allah berfirman:
«وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ»
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)
Kadang yang dibutuhkan bukan pasangan yang selalu sepemikiran, tetapi pasangan yang mau saling memahami perbedaan.
---
2. Masalah ekonomi
Jangan membangun rumah tangga dengan standar kehidupan yang dibentuk oleh media sosial, sinetron, atau drama.
Kehidupan nyata tidak selalu indah. Ada masa penghasilan cukup, ada masa berkurang. Ada kebutuhan mendadak, usaha sepi, kehilangan pekerjaan, atau utang yang harus diselesaikan.
Solusi nyata:
- Buka kondisi keuangan secara jujur kepada pasangan.
- Bedakan kebutuhan dan keinginan.
- Buat anggaran rumah tangga sederhana setiap bulan.
- Hindari utang konsumtif yang tidak perlu.
- Jangan membandingkan kondisi rumah tangga dengan kehidupan orang lain di media sosial.
- Jika penghasilan terbatas, sepakati gaya hidup sesuai kemampuan.
- Ketika ekonomi sulit, cari tambahan penghasilan bersama sesuai kemampuan, bukan saling menyalahkan.
Menikah bukan berarti setelah akad semua persoalan selesai. Justru setelah akad, perjuangan bersama dimulai.
Allah berfirman:
«إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ»
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
---
3. Ekspektasi rumah tangga yang tidak realistis
Drama sering selesai dalam beberapa episode. Kehidupan rumah tangga tidak demikian.
Masalah tidak selalu selesai dalam satu percakapan. Perubahan pasangan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Ekonomi tidak langsung membaik hanya karena sudah menikah.
Solusi nyata:
Jangan bertanya:
«“Mengapa rumah tangga kita tidak seperti orang lain?”»
Tetapi tanyakan:
«“Apa yang bisa kita perbaiki dari rumah tangga kita hari ini?”»
Kurangi membandingkan pasangan dengan pasangan orang lain. Yang terlihat di media sosial biasanya hanya bagian yang ingin ditampilkan.
---
B. FAKTOR EKSTERNAL: PENGARUH DARI LUAR
1. Campur tangan orang tua dan keluarga
Orang tua tetap harus dihormati. Namun setelah menikah, suami dan istri telah membangun keluarga baru.
Nasihat orang tua adalah sesuatu yang berharga, tetapi keputusan rumah tangga tidak semestinya selalu ditentukan oleh orang tua, mertua, atau ipar.
Solusi nyata:
- Jangan menceritakan seluruh masalah rumah tangga kepada keluarga besar.
- Jangan menjadikan orang tua sebagai “hakim” setiap kali bertengkar.
- Sepakati bersama persoalan apa yang boleh dibicarakan dengan keluarga.
- Suami dan istri harus menyampaikan batasan kepada keluarga masing-masing dengan cara yang santun.
- Jika tinggal serumah terus-menerus memicu konflik dan kondisi memungkinkan, pertimbangkan tinggal terpisah atau mengontrak terlebih dahulu.
Tinggal terpisah bukan berarti durhaka kepada orang tua.
Kadang jarak tempat tinggal justru diperlukan agar hubungan tetap baik.
---
2. Orang ketiga dan perselingkuhan
Orang ketiga sering kali masuk melalui celah yang sebelumnya dianggap sepele: komunikasi intens dengan lawan jenis, curhat berlebihan, pertemanan tanpa batas, pesan pribadi yang disembunyikan, atau perhatian yang seharusnya diberikan kepada pasangan tetapi diberikan kepada orang lain.
Solusi nyata:
- Bangun keterbukaan dalam komunikasi.
- Hindari hubungan pribadi yang berpotensi merusak kepercayaan.
- Jangan menyimpan komunikasi yang memang sengaja disembunyikan dari pasangan.
- Ketika muncul kabar atau tuduhan, jangan langsung percaya.
- Lakukan tabayyun sebelum mengambil kesimpulan.
- Jangan membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan.
- Jika kepercayaan sudah rusak, cari bantuan pihak ketiga yang bijaksana.
Allah berfirman:
«فَتَبَيَّنُوا»
“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Namun perlu ditegaskan: mempertahankan rumah tangga bukan berarti membiarkan kekerasan atau perilaku yang membahayakan. Jika terdapat kekerasan dalam rumah tangga, ancaman, atau kondisi yang membahayakan keselamatan, keselamatan pasangan harus menjadi prioritas dan bantuan yang tepat perlu dicari.
---
C. SOLUSI PRAKTIS: BUAT “RAPAT RUMAH TANGGA”
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan pasangan adalah membuat waktu khusus, misalnya seminggu sekali, untuk berbicara tanpa gangguan.
Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi membahas lima hal:
1. Apa yang membuat kita bersyukur minggu ini?
2. Apa yang membuat kita tidak nyaman?
3. Apakah ada masalah keuangan yang harus dibicarakan?
4. Apakah ada masalah dengan keluarga besar?
5. Apa satu hal yang bisa kita perbaiki minggu depan?
Hanya satu hal yang diperbaiki setiap minggu pun sudah lebih baik daripada saling menuntut berubah tetapi tidak pernah membicarakan caranya.
---
D. JANGAN MENUNGGU MASALAH MENJADI BESAR
Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang tidak mempunyai masalah.
Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang mampu menyelesaikan masalah sebelum masalah menjadi lebih besar.
Jangan menunggu komunikasi benar-benar putus baru mencari bantuan.
Jika masalah terus berulang dan pasangan sudah tidak mampu menyelesaikannya sendiri, jangan malu meminta bantuan kepada konselor, mediator keluarga, tokoh agama yang bijaksana, atau pihak profesional yang kompeten.
Meminta bantuan bukan berarti rumah tangga gagal.
Justru bisa menjadi ikhtiar agar masalah tidak semakin besar.
PADA AKHIRNYA...
Sebelum mengatakan:
«“Kita berpisah saja.”»
cobalah bertanya terlebih dahulu:
«“Apa yang sudah saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”»
Sebab mempertahankan rumah tangga bukan berarti mempertahankan ego.
Kadang yang harus dikalahkan adalah ego, gengsi, keinginan menang sendiri, dan kebiasaan menyalahkan pasangan.
Dan yang harus dipertahankan adalah:
komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, kesabaran, dan kemauan untuk memperbaiki diri.
«Rumah tangga yang kokoh bukan rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah, tetapi rumah tangga yang tidak berhenti mencari jalan keluar ketika masalah datang.»
Keluarga sakinah tidak tercipta karena pasangan kita sempurna.
Keluarga sakinah tumbuh karena dua orang yang tidak sempurna mau terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Penulis:
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Balongan Indramayu
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
