Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kang Lahudin

Tradisi dan Tajdid dalam Ideologi Muhammadiyah

Agama | 2026-01-27 22:03:45

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah diidentifikasi sebagai sebuah gerakan Islam yang berfokus pada dakwah dan pembaruan, dengan tujuan membawa nilai-nilai Islam ke dalam praktik nyata di tengah masyarakat dan bangsa secara positif. Dalam konteks ini, prinsip al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ sangat erat kaitannya dengan ideologi dan jalur perjuangan Muhammadiyah.

Prinsip ini bukan hanya sekadar norma, tetapi juga merupakan dasar etis dan metodologis dalam menghadapi interaksi antara ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan kondisi sosial yang selalu berubah. Muhammadiyah meyakini bahwa keberagamaan yang sejati bukanlah yang kaku, tetapi yang progresif, yaitu yang mampu mempertahankan keaslian akidah serta prinsip dasar Islam sekaligus responsif terhadap perubahan zaman.

Dalam pandangan ideologi Muhammadiyah, "yang lama" (al-qadīm) tidak diartikan sebagai tradisi agama yang statis atau kebal kritik, tetapi sebagai nilai-nilai ajaran Islam yang telah terbukti kebenarannya, rasionalitasnya, dan manfaatnya bagi kehidupan umat. Sebaliknya, "yang baru" (al-jadīd) tidak diterima dengan sembarangan, tetapi melalui pemilihan yang kritis berdasar pada pertimbangan maslahat, maqāṣid al-syarī‘ah, serta tujuan kemajuan peradaban.

Kaidah Tajdid dan Islam Berkemajuan

Prinsip al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ selaras dengan pemikiran tajdid yang merupakan identitas khas Muhammadiyah. Tajdid dalam Muhammadiyah terdiri dari dua dimensi utama, yaitu:

1. Purifikasi; Pemurnian, yaitu membersihkan ajaran Islam dari praktik-praktik yang tidak memiliki dasar syar‘i.

2. Dinamisasi; Pengembangan, yakni memperbaharui pemikiran dan praktik Islam supaya relevan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial.

Keseimbangan antara pemurnian dan pengembangan ini menjadikan Muhammadiyah dapat bertahan dan melanjutkan eksistensinya dalam perjalanan sejarah yang panjang. Dengan prinsip ini, Muhammadiyah tidak terjebak dalam nostalgia masa lalu, namun juga tetap berpegang pada akar normatif Islam.

Implikasi dalam Gerakan dan Amal Usaha Muhammadiyah

Dalam kegiatan organisasi, prinsip ini dapat terlihat jelas dalam manajemen amal usaha Muhammadiyah di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Nilai-nilai keislaman, keikhlasan, dan misi dakwah tetap dijaga sebagai jiwa gerakan, sementara sistem manajemen modern, profesionalisme, dan inovasi kelembagaan diterapkan sebagai alat untuk memperluas manfaat.

Ini menunjukkan bahwa ideologi Muhammadiyah adalah ideologi yang progresif, rasional, dan fokus pada solusi, bukan defensif. Dengan demikian, prinsip ini berfungsi sebagai pedoman strategis agar Muhammadiyah konsisten dengan identitasnya sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman.

Penegasan Ideologis

Melalui prinsip al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ, Muhammadiyah menekankan pandangan Islam yang moderat, kritis, dan berkemajuan. Prinsip ini menjadi dasar ideologis untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai, memperkuat tajdid, dan mendorong partisipasi aktif Muhammadiyah dalam mengembangkan peradaban Islam yang terpelajar dan adil.

Wallahu a'lam bishshowab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image