Dari Pangsit Goreng, Luka Bullying, Hingga Ruang Opini Publik
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-27 19:53:20Nama saya Saepani. Perjalanan hidup saya dimulai dari ruang-ruang pendidikan yang sederhana: SD Negeri Bendung 1, MTs Mathla’ul Falah Lempuyang, MA Mathla’ul Falah Lempuyang, hingga akhirnya berkuliah di Universitas Pamulang (UNPAM). Jalur ini mungkin tidak tampak prestisius di atas kertas, tetapi justru di sanalah daya juang, ketahanan mental, dan cara berpikir saya ditempa.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah terbiasa berjualan pangsit goreng buatan sendiri kepada teman-teman dan guru. Aktivitas ini berlanjut hingga SMA, ketika saya membuat dan menjual manisan buah serta basreng—semuanya produksi mandiri. Dari dapur sederhana itu, saya belajar arti proses, konsistensi, dan keberanian mengambil tanggung jawab sejak usia dini.
Namun fase MTs menjadi periode paling berat dalam hidup saya. Saya introvert, sulit bergaul, dan menjadi korban perundungan. Hampir setiap hari saya menangis dan enggan berangkat sekolah. Ibu saya tidak pernah tahu bahwa anaknya menyimpan luka sedalam itu. Yang ia lakukan hanya satu: terus mendesak saya untuk tetap sekolah. Dorongan sederhana itulah yang, tanpa disadari, menyelamatkan masa depan saya.
Memasuki masa MA, hidup saya mulai berubah. Saya belajar bergaul dan menemukan kembali kepercayaan diri. Pada fase inilah saya mengalami pengalaman yang mengubah cara pandang saya terhadap diri sendiri: saya dicintai oleh seorang perempuan bernama Monica, yang kala itu dikenal sebagai salah satu siswi paling cantik di sekolah. Hubungan tersebut bertahan hingga hari ini dan menjadi sumber kekuatan emosional saya.
Perjalanan berlanjut ke bangku kuliah di Universitas Pamulang. Saya menjalani kuliah dengan beasiswa sambil bekerja. Saat ini saya bekerja di Indomaret. Dari rutinitas kerja itulah saya belajar bahwa mimpi tidak selalu lahir dari ruang nyaman. Disiplin, ketekunan, dan ketahanan mental menjadi bagian dari keseharian saya.
Di sela-sela kerja dan kuliah, saya menemukan menulis—awalnya sebagai ruang berpikir, lalu berkembang menjadi ruang publik. Saya aktif mempublikasikan artikel opini di media warga. Salah satu tulisan saya dapat dibaca di Retizen Republika melalui artikel “Saepani Universitas Pamulang”: https://retizen.republika.co.id/posts/300891/saepani-universitas-pamulang
Selain menulis opini, saya juga terlibat dalam penulisan jurnal akademik. Salah satunya terbit di Musytari: Jurnal Manajemen, Akuntansi, dan Ekonomi: https://cibangsa.com/index.php/musytari/article/view/3528
Saya juga berkontribusi dalam publikasi ilmiah di Jurnal Mahasiswa Universitas Pamulang (JMW) yang tersedia melalui Open Journal System UNPAM: https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/JMW/article/download/49135/24030/120126
Bagi saya, capaian ini bukan sekadar soal publikasi, melainkan pembuktian bahwa pengalaman hidup—termasuk luka, keterbatasan, dan proses bertahan—dapat diolah menjadi pengetahuan yang sah. Pengalaman hidup adalah data sosial, selama ditulis secara jujur dan reflektif.
Perjalanan saya dari SD Negeri Bendung 1 hingga Universitas Pamulang, dari menjual pangsit goreng hingga menulis di ruang opini dan jurnal akademik, menunjukkan satu hal: bertahan adalah kecerdasan, dan menulis adalah keberanian. Siapa pun berhak tumbuh dan bersuara, tak peduli dari mana ia memulai.
Tulisan ini merupakan refleksi personal Saepani tentang perjalanan hidupnya—dari berjualan sejak sekolah dasar, menjadi korban perundungan, hingga tumbuh sebagai mahasiswa pekerja, penulis opini, dan kontributor jurnal akademik. Artikel ini menegaskan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi data sosial yang sah dalam ruang publik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
