Tadabbur Malam (015): Menjaga Iman di Antara Dua Malam
Khazanah | 2026-01-27 19:34:23
Malam sering menjadi waktu ketika iman terasa paling dekat. Sunyi membuat doa terdengar lebih jujur, air mata terasa lebih ringan, dan hati lebih mudah tunduk. Namun, iman tidak tinggal selamanya di malam hari. Ia harus dibawa pulang ke siang hari—ke ruang kerja, ke hiruk pikuk aktivitas, ke godaan yang lebih nyata dan lebih ramai.
Iman bukan sesuatu yang sekali jadi. Ia naik dan turun, menguat dan melemah, tergantung bagaimana ia dijaga. Malam bisa menjadi titik kebangkitan, tetapi siang sering menjadi ruang ujian. Banyak orang merasakan khusyuk di tahajud, tetapi lupa ketika matahari terbit. Di sinilah iman diuji: apakah ia hanya menjadi pengalaman spiritual sesaat, atau benar-benar menjadi kesadaran yang hidup.
Di antara dua malam, iman sebenarnya berjalan dalam senyap. Ia tidak selalu tampak dalam perasaan haru atau semangat ibadah yang meledak-ledak, tetapi dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil di siang hari: memilih jujur saat bisa curang, memilih sabar saat ingin marah, memilih taat saat ada peluang untuk lalai. Iman hidup dalam detail yang sering luput kita sadari, dan justru di situlah ketulusannya diuji.
Tahajud mengajarkan kesinambungan. Bahwa iman tidak cukup dibangkitkan, tetapi juga dijaga. Dijaga dengan syukur yang tidak putus, dengan amal kecil yang konsisten, dan dengan kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap langkah yang kita ambil, bahkan ketika kita merasa sendiri.
Malam datang kembali sebagai pengingat, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menguatkan. Ia seperti jeda yang penuh rahmat, tempat iman yang lelah bisa kembali bersandar. Di malam, kita diingatkan bahwa iman tidak harus selalu sempurna; ia hanya perlu terus diperjuangkan.
Dan di setiap malam yang kita jaga, iman perlahan belajar bertahan. Ia mungkin goyah, mungkin lemah, tetapi selama kita kembali ke malam dengan kesadaran, iman tidak akan benar-benar hilang. Karena di antara dua malam, sebenarnya Allah sedang menjaga hati kita—sementara kita belajar menjaga iman kita sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
