Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (012): Doa Bersyukur dan Berbuat Baik

Khazanah | 2026-01-24 19:34:11

Di waktu malam, syukur tidak selalu datang bersama senyum. Ia sering hadir dalam bentuk penerimaan—bahwa hidup tidak sempurna, namun tetap layak disyukuri. Dari sanalah doa syukur menemukan kedalamannya. Bukan syukur yang lahir dari keberlimpahan, tetapi syukur yang tumbuh dari kesadaran bahwa setiap keadaan tetap mengandung rahmat.

Syukur yang jujur tidak berhenti pada rasa, tetapi mendorong pada perbuatan. Orang yang benar-benar bersyukur akan lebih ringan berbuat baik, karena ia sadar bahwa kebaikan yang dilakukan hanyalah bagian kecil dari nikmat yang telah diterima. Syukur yang hanya diucap tanpa perubahan perilaku sering kali kehilangan maknanya.

Doa Nabi Sulaiman mengajarkan keseimbangan itu: memohon kemampuan bersyukur dan kekuatan untuk beramal saleh. Sebab iman yang hidup selalu bergerak, tidak diam di hati semata. Bersyukur bukan sekadar mengingat nikmat, tetapi menjadikannya energi untuk memberi manfaat.

Syukur juga melatih cara pandang. Ia mengubah keluhan menjadi pelajaran, luka menjadi guru, dan keterbatasan menjadi pintu tawakal. Di tengah dunia yang gemar membandingkan, syukur mengembalikan manusia pada ukuran yang paling jujur: cukup menurut Allah, bukan menurut manusia. Dalam keheningan malam, kita belajar bahwa banyak nikmat tidak datang dalam bentuk kelebihan, tetapi dalam bentuk kecukupan yang menenangkan.

Tahajud menjadikan doa itu lebih dekat dengan kesadaran. Tidak ada yang dipamerkan, tidak ada yang dikejar selain ridha Allah. Di sujud yang panjang, manusia belajar bahwa syukur bukan sekadar konsep spiritual, tetapi disiplin jiwa yang membentuk karakter dan tindakan.

Barangkali, syukur yang paling indah adalah yang mengalir menjadi kebaikan tanpa banyak suara. Ketika tangan memberi tanpa merasa lebih, ketika hati tenang tanpa merasa kurang, dan ketika hidup berjalan sederhana namun penuh makna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image