Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (035) Beribadah Seakan-akan Melihat-Nya

Khazanah | 2026-02-17 17:38:30
Seorang pria bermunajat dalam sunyi malam, menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah seakan-akan melihat-Nya.

Sering kali kita menilai ibadah dari seberapa banyak yang kita lakukan, bukan dari seberapa dalam kita menghadirkannya. Shalat terlaksana, doa terucap, dzikir terlantun—namun hati kadang berjalan ke mana-mana. Padahal kualitas ibadah bukan hanya pada gerakan dan bacaan, melainkan pada kesadaran siapa yang sedang kita hadapi.

Dalam sebuah hadits tentang ihsan, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim sebagai bagian dari Hadits Jibril. Inilah puncak kualitas ibadah: ihsan—tingkatan tertinggi setelah Islam dan iman.

Bayangkan jika setiap shalat kita lakukan dengan kesadaran penuh bahwa Allah melihat kita. Tidak akan ada shalat yang terburu-buru. Tidak ada doa yang setengah hati. Tidak ada gerakan yang kosong makna.

Masalahnya sering kali bukan kurang waktu, melainkan kurang rasa hadir.

Ketika hati merasa diawasi Allah (muraqabah), perilaku pun berubah. Lisan lebih terjaga. Pandangan lebih terkendali. Hati lebih bersih. Karena kita sadar, bukan hanya manusia yang melihat—tetapi Allah.

Ibadah bukan sekadar gerakan jasad. Ia adalah pertemuan batin dengan Rabb. Sujud menjadi dialog. Doa menjadi pengakuan. Dzikir menjadi penguat jiwa.

Ihsan melatih kita menghadirkan Allah dalam setiap momen, bukan hanya di sajadah. Jika kita tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka cukup sadar bahwa Dia selalu melihat kita. Kesadaran inilah yang menumbuhkan keikhlasan, menjaga konsistensi, dan menghadirkan kualitas dalam setiap amal.

Malam ini, mari bertanya: sudahkah kita benar-benar hadir dalam ibadah kita?

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image