Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (033) Ketika Hati Tunduk, Hidup Menjadi Ringan

Khazanah | 2026-02-15 18:01:48

Tidak sedikit orang merasa berat menjalankan perintah Allah. Shalat terasa seperti beban, meninggalkan maksiat terasa seperti kehilangan, dan ketaatan seakan mengekang kebebasan. Padahal sering kali yang berat bukanlah perintah itu sendiri, melainkan hati yang belum sepenuhnya tunduk.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 21:

Seorang pria berdoa di atas perbukitan saat senja, menggambarkan hati yang tunduk dan jiwa yang menemukan ketenangan di hadapan Allah.

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan ibadah adalah takwa. Takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui. Kesadaran inilah yang melahirkan ketaatan yang ringan, karena dilakukan dengan hati yang rela.

Ketika hati tunduk, shalat tidak lagi terasa dipaksa. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ketika hati tunduk, meninggalkan maksiat bukan lagi penderitaan, melainkan bentuk penjagaan diri. Dan ketika hati tunduk, hidup terasa lebih ringan—bukan karena ujian hilang, tetapi karena jiwa tidak lagi melawan kehendak Allah.

Perintah Allah bukan untuk menyulitkan, melainkan menyelamatkan. Larangan-Nya bukan untuk membatasi kebahagiaan, tetapi untuk menjaga kemuliaan. Semua kembali pada kondisi hati. Jika hati dipenuhi cinta dan pengagungan kepada Allah, dunia tidak lagi mendominasi.

Hati yang tunduk lahir dari pengenalan kepada Allah. Semakin seseorang mengenal siapa Tuhannya—kasih sayang-Nya, keadilan-Nya, dan kebijaksanaan-Nya—semakin mudah ia taat. Maka perbaikan hidup tidak dimulai dari memperbanyak aturan, tetapi dari melembutkan hati: memperbanyak dzikir, tadabbur Al-Qur’an, dan muhasabah diri. Tundukkan hati, maka hidup akan terasa ringan.

Malam ini, mari periksa diri: apakah hati kita sudah benar-benar tunduk atau masih menawar-nawar perintah-Nya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image