Hukum Tidur Seharian Saat Puasa Ramadhan: Benarkah Mendapat Pahala?
Agama | 2026-03-15 17:24:21
Oleh: Juliandra Ali Ibrahim_Mahasiswa Institut SEBI.
Sebagian besar orang sering merasa lemas dan tidak bertenaga ketika menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini terkadang dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang hari selama bulan Ramadhan.
Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa tidurnya orang yang berpuasa termasuk ibadah. Lalu, apakah benar tidur seharian saat berpuasa dapat bernilai pahala?
Pandangan Ulama tentang Tidur Saat Puasa
Dilansir dari situs NU Online, berdasarkan pandangan mazhab Syafi'i dan sebagian besar ulama, seseorang yang tidur seharian saat berpuasa di bulan Ramadhan tetap dianggap sah puasanya, selama ia telah berniat puasa pada malam hari sebelumnya.
Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmū' Syarh al-Muhadzdzab:
“Para ulama telah bersepakat bahwa ketika seorang yang berpuasa bangun sebentar dari tidur di siang hari, kemudian tidur kembali, maka puasanya tetap sah.” (Al-Majmū' Syarh al-Muhadzdzab, juz VI, halaman 384).
Artinya, orang yang tidur hampir sepanjang hari saat berpuasa di bulan Ramadhan tetap dianggap sah puasanya, selama niat puasa telah dilakukan pada malam hari.
Ketika Tidur Menyebabkan Lupa Kewajiban
Namun demikian, tidur seharian tidak boleh sampai menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban lain, seperti shalat fardhu. Ketika seseorang tertidur sehingga meninggalkan shalat wajib seperti Zuhur dan Ashar, maka hal tersebut merupakan dosa, meskipun puasanya tetap sah dan tidak batal.
Hal ini mengingat bahwa kedudukan shalat dalam Islam sangat tinggi. Bahkan, shalat merupakan ibadah yang menjadi tiang agama dan memiliki kedudukan yang lebih utama dibandingkan ibadah lainnya.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda:
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar, dan berapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR.Ahmad).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ibadah tidak hanya dilihat dari pelaksanaannya secara lahiriah, tetapi juga dari kesungguhan dan kualitasnya.
Benarkah Tidurnya Orang Puasa adalah Ibadah?
Menurut Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Jember yang dikutip dari NU Online, memang terdapat hadis yang menyebutkan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.
Namun, hadis tersebut sering kali disalahpahami oleh sebagian masyarakat sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan dan memperbanyak tidur selama berpuasa. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu adab dalam berpuasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari.
“Sebagian dari adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, agar seseorang merasakan lapar dan haus serta merasakan lemahnya kekuatan, sehingga jantung menjadi lebih jernih.” (Ihya' Ulumuddin, juz 1, halaman 246).
Hal ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kesadaran spiritual.
Kapan Tidur Saat Puasa Bernilai Ibadah?
Menurut penjelasan Ustadz Ali Zainal Abidin, tidur saat berpuasa dapat bernilai ibadah apabila memenuhi dua syarat utama:
- Tidur tidak dimaksudkan untuk bermalas-malasan, namun untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap kuat dalam menjalankan ibadah.
- Tidak mencampuri ibadah puasanya dengan amalan maksiat, serta tetap menjalankan kewajiban lainnya seperti shalat.
Dengan demikian, tidur saat berpuasa memang diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Namun, tidur yang berlebihan hingga mengabaikan ibadah dan aktivitas kebaikan justru dapat mengurangi nilai dari ibadah puasa itu sendiri.
Kesimpulan
Tidur saat berpuasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa dan tetap dianggap sah selama seseorang berniat puasa pada malam hari. Namun, memperbanyak tidur hingga meninggalkan kewajiban seperti shalat merupakan perbuatan yang berdosa.
Selain itu, anggapan bahwa tidurnya orang yang berpuasa selalu bernilai ibadah tidak dapat dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, bulan Ramadhan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal ibadah, meningkatkan kedekatan kepada Allah, serta melatih kesabaran dan pengendalian diri.
Dengan menjaga keseimbangan antara istirahat dan ibadah, puasa yang dijalankan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai pahala dan membawa keberkahan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
