Puasa sebagai Ibadah Revolusioner di Era Digital
Eduaksi | 2026-02-17 15:19:14Puasa dalam esensi Islam bukan sekadar ritus menahan lapar, melainkan sebuah metodologi untuk mencapai kemerdekaan eksistensial manusia. Merujuk pada pemikiran Ali Shariati dalam An Approach to the Understanding of Islam, puasa adalah salah satu ibadah dalam Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat sejatinya dalam sejarah sebagai ibadah untuk melawan determinisme biologis dan sosial.
Dengan sengaja menolak kebutuhan dasar, manusia menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar entitas biologis yang disetir oleh insting, melainkan subjek yang memiliki kehendak bebas (agency). Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan fundamental untuk mengontrol diri dari tarikan ego yang sering kali menjebak manusia dalam siklus keinginan tanpa batas.
Secara epistemologis, Mulla Sadra melalui konsep Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul dalam Tasawuf Mulla Sadra memandang bahwa penyucian diri melalui puasa pun mampu menyatukan akal dengan sumber kebenaran Ilahiyyah. Ketika jiwa dibersihkan dari residu materi yang berlebihan, ketajaman intelektual dan spiritual meningkat.
Ketajaman inilah yang diperlukan untuk mendeteksi " شرك خفي" (syirik tersembunyi) sebagaimana dibahas dalam Tafsir Mulla Sadra, di mana manusia sering kali tanpa sadar menuhankan hawa nafsu, harta, atau kekuasaan yang korup dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dimensi sosiopolitik, puasa berfungsi sebagai instrumen radikal untuk mengontrol kekuasaan yang korup. Spiritualisme puasa mampu meratakan derajat manusia dan menumbuhkan empati kolektif yang mendalam. Kekuasaan yang cenderung korup biasanya berakar pada hilangnya rasa kemanusiaan dan dominasi keserakahan.
Puasa memaksa para pemegang otoritas untuk merasakan kerentanan fisik, yang secara teoretis harus bermuara pada kesadaran untuk tidak mengeksploitasi sumber daya publik demi akumulasi modal pribadi atau kelompok.
Puasa di era kontemporer harus direposisi sebagai alat kontrol terhadap budaya konsumsi media yang buruk. Digitalisasi telah menciptakan fenomena eksistensial "Aku Ada Karena Aku Media," di mana eksistensi manusia disandera oleh validasi digital dan arus informasi yang manipulatif.
Puasa, dalam konteks ini, adalah "puasa informasi" atau "ascesis digital". Ia memberi ruang bagi jiwa untuk menjauh dari kebisingan algoritma dan surveillance capitalism yang terus-menerus mendikte selera dan cara berpikir kita melalui konsumsi konten yang tidak sehat.
Implementasi puasa yang efektif melibatkan transformasi dari sekadar ritual dimension menuju spiritual and social dimensions. Puasa yang benar akan menciptakan individu yang tidak mudah dimanipulasi oleh iklan atau propaganda politik karena ia telah terbiasa mendisiplinkan "keinginan"nya.
Individu yang berpuasa secara substantif adalah individu yang memiliki kedaulatan atas perhatian (attention) dan tindakannya, menjadikannya benteng pertahanan terakhir melawan degradasi nilai-nilai demokrasi di ruang digital.
Korupsi kebijakan yang marak terjadi di birokrasi, seperti kasus yang melibatkan penyalahgunaan wewenang, sering kali bersumber dari kegagalan mengendalikan "lapar" akan materi dan kekuasaan. Puasa mengajarkan bahwa kepuasan tidak ditemukan dalam akumulasi, melainkan dalam pengendalian diri.
Jika filosofi ini diinternalisasi oleh para aktor publik, maka kebijakan yang diambil akan lebih berorientasi pada kemaslahatan umat (masyarakat sipil) daripada sekadar mengejar insentif ekonomi yang tidak transparan atau mufakat jahat dengan vendor.
Gerakan sosial pun juga dapat melihat puasa sebagai simbol pemulihan lingkungan. Kerusakan ekologi sering kali dipicu oleh budaya konsumsi yang rakus dan eksploitatif. Puasa mengajarkan gaya hidup minimalis dan berkelanjutan (sustainable).
Dengan menahan diri dari konsumsi berlebihan, kita secara langsung berkontribusi pada pengurangan beban ekologis bumi, menjadikan puasa sebagai aksi nyata dari "ekologi spiritual" yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Puasa adalah inti ajaran Islam yang mengintegrasikan dimensi mistis dan aktivisme sosial. Melalui kontrol diri yang ketat, manusia mampu melawan struktur yang menindas, baik itu berupa oligarki politik maupun tirani digital.
Puasa mengembalikan martabat manusia sebagai khalifah yang memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri, bukan sebagai obyek yang dimediasi oleh kepentingan pasar. Inilah jalan menuju kesalehan diri dan sosial yang otentik di negeri ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
