Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Chatherine Devinda

Propaganda Deepfake di Media Sosial: Tantangan Baru dalam Membentuk Opini Publik

Teknologi | 2026-03-10 16:00:51
https://www.shutterstock.com/id/image-photo/deepfake-deep-learning-fake-news-generator-1914727747?utm_source=iptc&utm_medium=googleimages&utm_campaign=image&dd_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam cara informasi diproduksi dan disebarkan. Salah satu inovasi yang banyak mendapat perhatian adalah teknologi deepfake, yaitu teknik manipulasi digital yang dapat mengubah video, gambar, atau suara sehingga tampak seperti asli. Dalam konteks komunikasi digital saat ini, kemunculan deepfake menghadirkan tantangan baru, terutama ketika teknologi tersebut beredar luas di media sosial.

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) memungkinkan informasi tersebar secara cepat kepada jutaan pengguna dalam waktu singkat. Kecepatan distribusi informasi ini sering kali tidak diikuti dengan proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, konten yang tampak meyakinkan dapat dengan mudah mempengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu.

Dalam situasi tersebut, teknologi deepfake berpotensi dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi propaganda. Konten visual yang terlihat realistis dapat menciptakan kesan bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi, meskipun sebenarnya merupakan hasil manipulasi digital. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya berdampak pada inovasi komunikasi, tetapi juga pada dinamika pembentukan opini publik.

Teknik Propaganda dalam Konten Deepfake

Dalam kajian propaganda, terdapat beberapa teknik yang dapat ditemukan dalam penyebaran konten manipulatif seperti deepfake. Salah satunya adalah card stacking, yaitu teknik propaganda yang menyajikan informasi secara selektif untuk mendukung narasi tertentu. Dalam konteks deepfake, manipulasi visual atau audio dapat membuat sebuah pesan terlihat lebih meyakinkan, sementara informasi lain yang memberikan konteks berbeda tidak ditampilkan.

Selain itu, teknik transfer juga dapat muncul dalam penggunaan teknologi deepfake. Teknik ini mengaitkan pesan tertentu dengan figur atau simbol yang memiliki pengaruh di masyarakat. Melalui manipulasi digital, seseorang dapat terlihat seolah-olah menyampaikan dukungan terhadap suatu gagasan atau posisi tertentu. Karena figur tersebut sudah dikenal publik, pesan yang disampaikan sering kali terasa lebih kredibel.

Teknik propaganda lain yang sering dibahas dalam literatur adalah appeal to fear, yaitu upaya membangkitkan emosi seperti kekhawatiran atau kecemasan agar publik lebih mudah terpengaruh oleh suatu pesan. Dalam konteks media digital, konten visual yang dramatis atau provokatif dapat memicu reaksi emosional yang kuat, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih cepat menyebar di ruang publik.

Pentingnya Sikap Kritis di Era Informasi Digital

Munculnya teknologi seperti deepfake menunjukkan bahwa ruang informasi digital semakin kompleks. Bagi masyarakat, tantangan utamanya bukan hanya menerima informasi, tetapi juga memahami bagaimana informasi tersebut diproduksi dan disebarkan.

Dalam perspektif komunikasi global dan hubungan internasional, fenomena ini juga berkaitan dengan dinamika perang informasi di era digital. Informasi dapat digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi persepsi publik, membentuk narasi tertentu, atau memperkuat posisi suatu aktor dalam diskursus global.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi aspek penting dalam menghadapi perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Kemampuan untuk memverifikasi sumber informasi, memahami konteks pesan, serta bersikap kritis terhadap konten yang beredar di media sosial dapat membantu masyarakat mengurangi dampak manipulasi informasi.

Pada akhirnya, teknologi seperti deepfake menunjukkan bahwa perkembangan digital membawa peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi membuka berbagai kemungkinan baru dalam produksi konten dan komunikasi. Namun di sisi lain, teknologi juga dapat digunakan sebagai alat propaganda yang mempengaruhi cara masyarakat memahami realitas. Dalam situasi ini, kesadaran kritis dan literasi media menjadi kunci penting untuk menjaga kualitas informasi di ruang publik.

Chatherine Devinda, Mahasiswa Hubungan Internasional UNSRI

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image