Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eril Sadewa

Abu Fida: Sejarawan, Politikus, dan Pengembara dari Negeri Syam

Sejarah | 2026-09-04 16:53:58
Kitab Al-Mukhtasar fi Akhbar al-Basyar karya Abu Fida. Sumber gambar: Abe Books.

Sosok ini, merupakan salah satu tokoh yang memiliki keunikan tersendiri. Ia menggabungkan status sebagai sejarawan, politikus, dan pengembara. Berasal dari keluarga yang sama dengan pembebas Baitul Maqdis Shalahuddin al-Ayyubi, Abu Fida meneruskan perjuangan leluhurnya dengan mengembangkan keilmuan di Negeri Syam, khususnya di kotanya, Hama, Suriah.

Dilahirkan dengan nama asli Ismail bin Ali bin Mahmud, pada 1273 M, di Kota Damaskus, Suriah, Abu Fida merupakan keturunan keluarga Dinasti Ayyubi. Kakeknya adalah Penguasa Ayyubi di Aleppo. Sejarawan Ahmad Ramadhan Ahmad dalam bukunya, Para Pelancong Muslim: Catatan Perjalanan Menjelajahi Dunia Timur dan Barat dari Abad Pertama Hingga Abad ke -10 H, menjelaskan dengan sangat rinci masa kecil Abu Fida. Sejak kecil, Abu Fida belajar dengan sangat giat pada para sejarawan di masanya.

Paman nya adalah Gubernur Hama dibawah Dinasti Mamluk. Bersama pamannya, Abu Fida juga mengikuti pertempuran melawan Mongol dan Romawi, serta Pasukan Salib sejak usia 11 tahun, menumbuhkan jiwa kepemimpinan nya. Salah satu guru Abu Fida, adalah Washil yang wafat pada 1298 M. Dalam karyanya Al-Mukhtashar fi Akhbar al-Basyar , yang dikutip oleh Ahmad, Abu Fida mempelajari kitab Manzhumah Ibn Hajib , sebuah kitab yang menjelaskan tentang ilmu Arudh ( nada syair) pada Washil. Disamping mempelajari biografi beberapa tokoh.

Keluarganya mengungsi ke Damaskus untuk menghindari invasi Mongol. Sejarawan Islam abad ke 14, Imam Adz-Dzahabi ( wafat 1348 M) dalam karyanya, Duwal al-Islam jilid II, menyebutkan pada 658 H/1260 M, Aleppo menjadi sasaran invasi brutal Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Pasukan Mongol merebut Aleppo dari penguasa Ayyubiyah disana, Turan Syah dan melakukan pembantaian dan penawanan selama 5 hari.

Saat itu juga mereka menguasai Hama, Baalbek, dan Nablus. Hingga ditahun yang sama, Pasukan Mamluk dibawah kepemimpinan Saifudin Quthuz mengalahkan mereka dalam pertempuran di Ain Jalut. Dengan demikian, keterangan Ahmad Ramadhan Ahmad bahwa keluarga Abu Fida mengungsi ke Damaskus dan Abu Fida lahir di kota itu tahun 1273 M, dapat diterima.

Selain itu, Abu Fida juga memiliki hubungan yang dekat dengan Sultan Mamluk, An-Nashir Muhammad bin Qalawun. Pada 1312 M, ia sering menemani perjalanan Sultan An-Nashir keluar pergi dari Mesir, pusat kekuasaan Dinasti Mamluk.

Imam Adz-Dzahabi, mencatat bahwa Abu Fida dinobatkan sebagai Penguasa Hama pada 720 H/1320 M. Gelarnya, sebagaimana dicatat oleh Imam Adz-Dzahabi, adalah Al-Muayyid.

Antara 1316-1321 M, mengabadikan hasil lawatannya ke berbagai negeri, Abu Fida mengarang kitab Taqwim al-Bulddan yang menjelaskan berbagai negeri, dan juga peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di negeri-negeri tersebut, lengkap dengan cerita seputar peninggalan-peninggalan yang ia tulis.

Dalam buku Taqwim al-Buldan , ia menjelaskan istana-istana Dinasti Umayyah ( 661-750 M) serta peninggalan-peninggalan di berbagai kota di Syam, seperti Aleppo dan Baalbek. Menurutnya, saat itu, masjid-masjid di Aleppo jumlahnya mencapai 208 masjid. Juga sejumlah istana dan kastil yang ada di Hama, yang pembangunannya diperintahkan oleh seseorang bernama Ibn Washil.

Beliau juga menyebutkan beberapa istana Dinasti Umayyah, seperti Qashr Kharnah, Qashr Musyatta, Qashr Thubbah, Qashr Kharabah al-Mufajjar, dan lainnya. Peneliti Syahidah Akmal bint Abd Rahman, dalam sebuah kajian mengenai Taqwim al-Buldan, yang berjudul Penulisan Karya Abu Fida Mengenai Catatan-catatan Geografi Dan Buldan: Kajian Terhadap Kitab Taqwim al-Buldan, menjelaskan bahwa Abu Fida membagi beberapa wilayah dalam bukunya. Yaitu Semenanjung Arab, Mesir, Maghribi ( Maroko), Andalusia ( Spanyol dan Portugal), daerah-daerah utara, Syam, Khuzistan dan lainnya. Jangkauan geografisnya sangat jauh hingga Tiongkok. Syahidah memperkirakan, saat itu, Abul Fida telah mencapai Tiongko, seperti para penjelajah Islam lainnya: Ibn Rustah, Ibn Nadim, dan lain sebagainya.

Selain karya tersebut, Abu Fida juga memiliki karya lain, yaitu Al-Mukhtashar fi Akhbar Basyar yang membahas sejarah dunia hingga abad ke 8 hijriah/ abad ke 14 M . Selama memimpin Hama, Abu Fida juga menghormati para ulama. Hama, dibawah kepemimpinannya menjadi sebuah kota keilmuan dan sastra. Pada 732 H/1331 M, Abu Fida wafat. Posisinya sebagai Penguasa Hama, digantikan oleh anaknya, Al-Afdhal Ali. Tentangnya Imam Adz-Dzahabi berkomentar: “Ia mempunyai sejumlah karangan dan pengetahuan.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image