Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Lagi-lagi Bullying, Cerminan Sistem Pendidikan yang Gagal

Eduaksi | 2026-09-25 05:52:38

Penganiayaan terhadap siswa atau bullying ini tidak henti-hentinya. Baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal. Malah semakin marak saja. Nama korban boleh berganti. Lokasi kejadian bisa berbeda. Namun polanya nyaris sama. Yakni seorang anak yang menjadi sasaran kekerasan hingga menimbulkan trauma bahkan tidak jarang berakhir pada kematian.

Data PISA 2025 mengungkap 24 persen siswa Indonesia mengalami intimidasi beberapa kali dalam sebulan — lebih tinggi dari rata-rata negara OECD (20 persen). Dengan rincian 15,2% dijadikan bahan lelucon, 11,6% korban rumor buruk, 7% perundungan siber, 5,6% dipukul atau didorong, dan 3,2% diancam

Mengapa hal ini terjadi? Sekularisme . Hal ini yang membuat individu dan keluarga jauh dari Islam sehingga anak tumbuh tanpa benteng keimanan. Ketika tidak ada benteng keimanan, maka tidak ada yang mencegah seseorang menyakiti orang lain. Arah hidupnya tidak jelas.

Saat ini saat anak mudah marah, mereka melampiaskannya dengan kemarahan sampai menyakiti fisik temannya. Jika kita memperhatikan bahkan mereka terampil menyakiti orang lain dengan memilih organ-organ vital. Dan ini dinormalisasi.

Masyarakat yang terbentuk dalam sistem Sekuler-Kapitalis yang berpikiran permisif, individualistik, dan tidak peduli. Bullying dinormalisasi karena orang-orang merasa "bukan urusan saya” atau “yang penting bukan saya dan keluarga yang dibully”.

Mudahnya anak menjadi marah yang sangat dinormalisasi ini dipicu dengan adanya pengggunaan media sosial. Karena anak mempergunakan gadget tidak sebatas untuk mengerjakan tugas saja. Namun mereka juga mengakses hal-hal yang beragam termasuk video-video yang menampilkan kekerasan.

Anak-anak jadi menyimpulkan bahwa kekerasan ini bisa dijadikan solusi saat mereka bermasalah dengan orang lain. Selain itu ada juga rasa menjadi 'hero' saat mereka bisa membully orang lain.

Kemana Pendidikan kita?

Negara yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme melahirkan sistem pendidikan sekuler yang tidak membentuk generasi berkepribadian Islam. Tidak adanya sanksi tegas bagi pelaku bullying bahkan pelaku di bawah 17 tahun pun dilindungi karena masih dianggap anak-anak di bawah umur..

Pada diri manusia ada yang berperilaku untuk mempertahankan diri. Hal yang salah dari cucuran ini salah satunya adalah bullying . Baik verbal maupun fisik. Naluri yang dimiliki kebanyakan manusia ini seharusnya tidak dibebaskan. Tapi kendalikan.

Ada yang menyebutkan memang posisi pendidikan saat ini tidak mudah. Sekolah sekarang menghadapi aneka regulasi. Terutama guru. Jika guru menasehati, ada kemungkinan guru ditindak. Sehingga banyak guru memilih diam. Daripada menanggung risiko.

Orang tua dalam sistem sekuler saat ini tidak rela jika anaknya mendapat pendidikan yang dianggapnya keras. Seringkali orangtua tidak menerima bahkan memprotes atau memperkarakan guru yang mendidik anaknya ke ranah hukum.

Pandangan Islam

Islam membangun akidah sebagai landasan kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Anak yang tumbuh dengan keimanan yang kokoh akan menjadikan taqwa sebagai kendali dalam setiap perilakunya. Sehingga tidak mudah untuk melakukan perbuatan sesuka hati.

Islam juga membangun masyarakat yang peduli dan beramar ma'ruf nahi munkar, tidak permisif dan tidak membiarkan kedzaliman terjadi di depan mata. Jika ada kemungkaran didepan mata maka setiap orang akan saling mengingatkan sesuai dengan kemampuannya. Tatanan masyarakat menjadi kontrol dalam kehidupan. Tidak saling cuek dan tidak peduli.

Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan memberikan sanksi tegas (uqubat) zawajir dan jawabir bagi pelaku bullying . Tidak ada wilayah usia abu-abu, setiap muslim yang telah baligh wajib menanggung taklif atas perbuatannya. Tidak ada pembiaran.

Lalu solusinya apa? Sebagai muslim kita dituntut hidup dengan syariah Islam. Hidup dengan berlandaskan Aqidah Islam. Sehingga manusia selalu takut akan tanggung jawabnya kepada Allah.

Oleh: Marwa Ummu Afa

www.ykp.or.id

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image