Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Kontroversi Mindfulness di Era Bad Reality

Curhat | 2026-09-24 16:26:24
Akuamindbody.com

Pada 21 Agustus, aktris Maudy Ayunda mengungah sebuah video di kanal YouTube yang dengan cepat menjadi bahan perbincangan nasional. Video tersebutberjudul ”Kehati-hatian di Era Berita Buruk”. Video tersebut membahas pentingnya menjaga kesadaran dan kesehatan pikiran di tengah banyaknya berita buruk yang kita terima setiap hari, perlunya pembatasan konsumsi berita, serta memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak dari informasi negatif. Namun, mindfulness bukan berarti menjadi tidak peduli, melainkan tetap sadar dan peduli terhadap keadaan tanpa membiarkan berita buruk menguasai pikiran kita.

Menurut Kabat-Zinn, Profesor di University of Massachusetts Medical School, mindfulness sendiri adalah kesadaran yang muncul dengan memberikan perhatian secara sengaja pada pengalaman yang sedang berlangsung saat ini, tanpa memberikan penilaian terhadap pengalaman tersebut. Sederhananya, mindfulness berarti sadar dan benar-benar memperhatikan apa yang sedang terjadi saat ini tanpa menghakiminya. Sekilas, mindfulness terdengar seperti topik regulasi kesehatan mental yang biasa, tapi mengapa topik tersebut dipandang begitu buruknya orang dewasa ini?

Penulis menyoroti ada 3 penyebab utama video tersebut menjadi penyebab jatuhnya reputasi seorang Maudy Ayunda. Pertama, waktunya yang buruk. Video tersebut diunggah di kala masyarakat menderita karena karhutla, konflik di Papua, letusan gunung-gunung berapi di cincin api Pasifik, serta kondisi Aceh pasca banjir bandang yang masih belum pulih. Bagi mereka, Maudy yang hanya menganggap bencana dan masalah struktural sebagai 'berita buruk' adalah tindakan yang kurang berempati. Padahal bagi korban di lapangan, 'berita buruk' tersebut adalah 'realitas buruk' bagi mereka.

Kedua, Maudy adalah seorang penerima beasiswa LPDP yang dananya berasal dari pajak rakyat. Rakyat berharap Maudy membalas hutang budike para pembayar pajak dengan mengamplifikasi kebohongan mereka di platform miliknya. Namun, alih-alih membantu rakyat menyuarakan keluh kesah mereka kepada para penguasa sumber daya negara, Maudy justru seolah-olah akan meredam kemarahan mereka, seolah-olah akan marah pada para penguasa yang abai adalah hal yang salah.

Ketiga, penulis jugamenyoroti sikap Maudy Ayunda yang menggeser narasi dari “bagaimana kita menuntut pertanggungjawaban atas bad policy rancangan penguasa” menjadi “bagaimana kita mengelola emosi agar tidak stres membaca bad news”. Maudy Ayunda menyempitkan masalah struktural menjadi sekedar masalah individu. Alih-alih memikirkan sistem yang menciptakan stres sosial secara masif, solusi ala Maudy Ayunda, alumni PPE Oxford, justru membebankan masalah kembali kepada individu. Hal ini perlu diberikan perhatian lebih jauh karena pergeseran fokus perbincangan bisa menenggelamkan topik esensial yang selayaknya terus dikawal.

Sudah waktunya kita memerdekakan diri dari jerat sistem sekuler dan kapitalis yang terbukti membatasi rakyat kecil. Pada akhirnya, mindfulness tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjamin wajah dari kenyataan. Kita boleh berhenti sejenak untuk menjaga kewarasan, tetapi bukan untuk berhenti peduli. Sebab, di balik setiap “bad news”, ada manusia yang sedang menjalani “bad reality” dan menunggu perubahan yang nyata.

Penulis : Falihah Ulil Karimah

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image