Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hari Suciono

Uang Beredar Terus Bertambah, Apakah Mesin Ekonomi Indonesia Sedang Memanas?

Pendidikan dan Literasi | 2026-09-24 22:42:12

Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember – Jawa Timur

Bagi sebagian masyarakat, istilah uang beredar atau M2 mungkin terdengar teknis dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, indikator ini sering menjadi cermin yang cukup jujur untuk melihat bagaimana denyut perekonomian bekerja. Ketika uang beredar tumbuh, aktivitas ekonomi biasanya ikut bergerak. Sebaliknya, ketika pertumbuhannya melambat, perekonomian sering kali mulai kehilangan tenaga.

Gambar Ilustrasi Uang Beredar Tumbuh Positif pada Agustus 2026 , Sumber : Website Bank Indonesia-Publikasi Ruang Media

Data Bank Indonesia menunjukkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 mencapai Rp10.448,1 triliun, tumbuh 8,2 persen secara tahunan. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan Juli 2026 yaitu sebesar 8,3 persen, pertumbuhan tersebut tetap menunjukkan bahwa roda perekonomian nasional masih bergerak cukup baik. Perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,0 persen dan uang kuasi sebesar 6,5 persen.

Sekilas, angka tersebut mungkin tidak terlihat spektakuler. Namun, yang menarik bukan hanya besarnya uang yang beredar, melainkan sumber pertumbuhannya. Jika uang beredar meningkat karena aktivitas produktif, maka hal itu menjadi kabar baik bagi perekonomian. Sebaliknya, jika peningkatan terjadi tanpa dukungan aktivitas riil, risiko ke keseimbangan ekonomi dapat muncul di kemudian hari.

Berikut cerita menarik dari perkembangan M2 Agustus 2026. Pertumbuhan uang yang beredar kali ini tidak didorong oleh peningkatan pembiayaan pemerintah atau pelepasan likuiditas yang bersifat sementara. Faktor utamanya justru berasal dari penyaluran kredit perbankan yang terus meningkat. Kredit tumbuh 13,3 persen secara tahunan menjadi Rp9.019,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 13,0 persen pada bulan sebelumnya.

Data tersebut memberi sinyal bahwa sektor perbankan masih aktif menjalankan fungsi intermediasinya. Dengan kata lain, uang yang beredar di perekonomian tidak hanya disimpan di sistem keuangan, tetapi juga mengalir ke sektor usaha dan rumah tangga untuk membiayai aktivitas perekonomian.

Bukan Sekadar Banyaknya Uang,Tetapi Ke Mana Uang Mengalir

Dalam perekonomian modern, kualitas pertumbuhan uang yang beredar sering kali lebih penting daripada kuantitas. Pertanyaan utamanya bukanlah apakah uang bertambah, melainkan ke mana uang tersebut mengalir. Data Agustus 2026 menunjukkan bahwa percepatan kredit terutama berasal dari sektor korporasi yang tumbuh 21,6 persen secara tahunan. Kredit investasi tumbuh sangat tinggi sebesar 23,4 persen, sementara kredit modal kerja meningkat 12,3 persen. Sebaliknya, konsumsi kredit tumbuh lebih moderat sebesar 5,0 persen.

Tulisan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit lebih banyak ditopang oleh sektor produktif dibandingkan konsumtif. Dunia usaha terlihat masih memiliki keyakinan untuk melakukan ekspansi meskipun situasi global belum sepenuhnya kondusif. Bahkan jika dicermati lebih dalam, pertumbuhan kredit investasi terjadi pada sektor-sektor yang memiliki efek pengganda yang cukup besar bagi perekonomian. Kredit investasi untuk sektor konstruksi tumbuh lebih dari 75 persen, sementara sektor jasa-jasa tumbuh sekitar 40 persen. Kredit modal kerja untuk sektor pertambangan, perdagangan, serta transportasi dan komunikasi juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Fenomena ini memberikan gambaran bahwa pelaku usaha masih melihat adanya peluang pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Tidak banyak perusahaan yang berani menambah pinjaman ketika mereka memperkirakan kondisi bisnis akan memburuk. Oleh karena itu, pertumbuhan kredit sering kali dianggap sebagai indikator kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi.

Dari sisi penghimpunan dana, kondisi perbankan juga relatif sehat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh stabil sebesar 7,7 persen menjadi Rp9.732,8 triliun. Pertumbuhan tabungan bahkan meningkat menjadi 9,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,3 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kemampuan menabung sekaligus tetap aktif melakukan transaksi ekonomi.

Menariknya lagi, uang beredar sempit atau M1 yang mewakili uang yang paling likuid masih tumbuh 9,0 persen. Tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu meningkat 8,9 persen, sementara uang elektronik tumbuh 20,9 persen. Fenomena ini mencerminkan semakin besarnya aktivitas transaksi di masyarakat, termasuk yang didukung oleh digitalisasi sistem pembayaran.

Menjaga Agar Likuiditas Tetap Produktif

Meskipun pertumbuhan uang yang beredar merupakan sinyal positif, tantangan berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut tetap produktif. Uang yang terlalu banyak tanpa diimbangi peningkatan produksi dapat menciptakan tekanan inflasi. Sebaliknya, uang yang mengalir ke sektor-sektor produktif dapat menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Saat ini, terdapat indikasi yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan kredit investasi yang tinggi menunjukkan bahwa likuiditas banyak digunakan untuk membiayai pembangunan kapasitas ekonomi baru. Kredit properti masih tumbuh kuat sebesar 18,3 persen, sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 2,3 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,6 persen.

Pada saat yang sama, Bank Indonesia tetap menjaga keseimbangan melalui bauran kebijakan yang hati-hati. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan uang primer atau M0 customized yang mencapai 16,3 persen, sekaligus diiringi kebijakan moneter yang tetap berorientasi pada stabilitas. Dengan demikian, penambahan likuiditas tidak serta-merta dilepas tanpa kendali, tetapi diarahkan untuk mendukung fungsi intermediasi perbankan dan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi global yang masih dibayangi terbuka juga membuat pengelolaan likuiditas menjadi semakin penting. Penguatan dolar AS, volatilitas pasar keuangan internasional, serta berbagai risiko geopolitik menuntut Indonesia memiliki sistem keuangan yang cukup likuid namun tetap stabil. Dalam konteks tersebut, pertumbuhan uang yang didukung oleh ekspansi kredit produktif menjadi modal penting bagi ketahanan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, perkembangan M2 Agustus 2026 sesungguhnya bukan sekadar cerita mengenai bertambahnya uang dalam perekonomian. Cerita yang lebih penting adalah bagaimana likuiditas tersebut mengalir melalui perbankan, mendukung investasi, memperkuat sektor usaha, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ketika peredaran uang tumbuh bersamaan dengan peningkatan kredit produktif, tabungan masyarakat yang tetap kuat, serta aktivitas ekonomi yang semakin dinamis, terdapat sinyal bahwa mesin perekonomian Indonesia masih bekerja dengan baik meskipun lingkungan global belum sepenuhnya ramah. HARI

***

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image