Cahaya di Balik Bukit Lappara: Jejak Ramadan Kopsula yang Menyatukan Hati
Agama | 2026-03-10 17:16:28
Sinjai — Di bawah langit Kampung Lappara yang tenang, sebuah kisah tentang ketulusan baru saja terukir. Bukan sekadar seremoni tahunan, Jejak Ramadhan Kopsula Vol II 2026 yang digagas oleh UKM KOPMA Sultan Alauddin hadir sebagai bukti bahwa jarak antara bangku kuliah dan pengabdian nyata hanyalah sejauh niat untuk melangkah.
Selama tiga hari, sejak 6 hingga 8 Maret 2026, dinginnya udara Lappara berubah menjadi hangat oleh tawa dan kebersamaan. Mahasiswa tidak datang sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga baru bagi warga setempat.
Bayangkan keriuhan di "Kelas Ceria", di mana 17 anak-anak Lappara belajar dan bermain dengan binar mata yang penuh mimpi. Di sudut lain, gema takbir dan doa menyatu di dalam Masjid Kuba, mempererat ikatan spiritual antara pemuda dan orang tua.
Puncaknya, cahaya obor yang membelah kegelapan malam bukan hanya sekadar pawai, melainkan simbol semangat yang menyala di hati setiap warga.
Melalui program Pasar Murah, sebanyak 22 Kepala Keluarga merasakan langsung sentuhan kepedulian dari tangan-tangan mahasiswa yang percaya bahwa ekonomi kerakyatan harus dimulai dari rasa berbagi.
Mappiara, Ketua Umum UKM KOPMA Sultan Alauddin, menatap haru pada setiap momen yang tercipta. Baginya, Lappara telah memberikan pelajaran yang tidak ada di buku teks tentang penerimaan dan rasa syukur.
"Kebersamaan ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Kami datang untuk memberi, tapi justru kami yang pulang dengan hati yang penuh karena kehangatan warga Lappara," ungkapnya dengan penuh syukur.
Senyum tulus pun terpancar dari wajah para ibu dan tokoh masyarakat. Imam Masjid Kuba Kampung Lappara mengakui bahwa kehadiran para mahasiswa telah menghidupkan kembali denyut kebersamaan yang mungkin sempat redup oleh rutinitas.
"Kami berharap kebersamaan seperti ini tidak berhenti di sini saja," harap salah satu warga dengan mata berkaca-kaca.
Sebuah Refleksi
Jejak Ramadhan Kopsula Vol II telah usai secara fisik, namun jejak kebaikannya tertanam dalam di sanubari warga Lappara. Ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah raksasa, melainkan dari langkah-langkah kecil yang konsisten dalam menebar manfaat.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah jejak kita meninggalkan manfaat bagi sesama hari ini?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
