Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin Eviyanti

Ramadhan, Al-Quran, dan Rahasia Kejayaan yang Kita Lupakan

Agama | 2026-03-09 07:20:42

Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T

(Aktivis Muslimah)

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah saksi bisu peristiwa paling agung dalam sejarah manusia: turunnya Al-Quran. Allah SWT berfirman:

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran; sebagai petunjuk bagi manusia, berisi ragam penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda (antara yang haq dan yang batil)." (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan Ramadhan sebagai waktu turunnya Al-Quran untuk memuliakan bulan tersebut. Al-Quran hadir bukan sekadar untuk dibaca dengan lisan, melainkan sebagai sumber hidayah bagi mereka yang mengimani dan mengamalkannya.

Cahaya di Tengah Kegelapan

Al-Quran diturunkan pada Lailatul Qadar—malam ketetapan yang mulia. Namun, mengapa hari ini umat Islam, yang memiliki kitab suci paling mulia, justru sering kali berada di posisi yang terpinggirkan?

Jawabannya sederhana namun tajam: Kemuliaan umat berbanding lurus dengan interaksi mereka terhadap Al-Quran.

Saat Al-Quran diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, umat Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan keadilan yang tak tertandingi. Namun, saat Al-Quran hanya dijadikan pajangan di rak buku atau sekadar perlombaan tilawah tanpa penerapan hukum, umat pun terpuruk, kehilangan wibawa, bahkan terjajah secara ekonomi dan politik.

Keberkahan yang Terputus

Allah SWT menyifatkan Al-Quran sebagai kitab yang mubarak—penuh berkah. Menurut Imam ath-Thabari, berkah berarti "banyak kebaikan dan manfaatnya." Keberkahan ini akan melimpah jika Al-Quran dijadikan Imam (pemimpin) yang diikuti dalam sistem pemerintahan, politik, ekonomi, hingga pendidikan.

Sebaliknya, berpaling dari aturan Al-Quran adalah tiket menuju kehidupan yang sempit (ma’isyatan dhanka). Lihatlah realita hari ini:

Negeri yang Kaya, Rakyat yang Papa: Kita hidup di atas tanah yang kaya akan emas, nikel, dan batubara. Namun, karena Al-Quran tidak dijadikan dasar pengelolaan SDA, kekayaan itu hanya berputar di tangan segelintir oligarki.

Jeratan Riba yang Melelahkan: Al-Quran mengharamkan riba dengan tegas, namun hari ini riba dilegalkan bahkan menjadi tulang punggung ekonomi. Akibatnya? Keberkahan menjauh, digantikan beban utang yang mencekik rakyat.

Hukum yang Tajam ke Bawah: Saat otoritas membuat hukum diserahkan kepada hawa nafsu manusia melalui sistem demokrasi-sekuler, yang lahir adalah ketidakadilan. Hukum sering kali "dipesan" untuk kepentingan penguasa, bukan untuk melindungi rakyat.

Al-Quran: Sistem Hidup yang Paripurna

Al-Quran adalah Tibyanan likulli syay’—penjelasan atas segala sesuatu. Ia mengatur urusan ibadah ritual sekaligus urusan publik. Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat kunci:

"Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara—kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya—yaitu: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku." (HR al-Hakim).

Berpegang teguh pada Al-Quran berarti menjadikannya standar dalam memutuskan perkara (tahkim). Iman kita tidaklah sempurna jika kita masih mencari solusi dari hukum-hukum buatan manusia yang cacat, sementara hukum Allah yang Maha Adil dibiarkan teronggok di sudut sejarah.

Saatnya Kembali Pulang

Sejarah telah membuktikan: kemakmuran, keamanan, dan keadilan hanya terwujud secara kaffah saat Al-Quran diterapkan sebagai sistem hukum dan peradaban.

Kemuliaan umat Islam tidak akan pernah kembali melalui sistem kapitalisme-sekuler yang justru menjauhkan kita dari Sang Pencipta. Kemuliaan itu hanya akan lahir dari rahim ketaatan kita untuk menjadikan Al-Quran sebagai ideologi hidup.

Di bulan Ramadhan ini, mari kita tanya pada diri sendiri: Sudahkah kita menjadikan Al-Quran sebagai pemandu setiap langkah kita, ataukah kita masih betah dalam kesempitan hidup akibat berpaling dari aturan-Nya?

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image