Ramadhan di Antara Retakan Dunia
Khazanah | 2026-02-17 10:34:46
Tahun 2026 menyapa kita dengan postur peradaban yang tampak gagah.
Jika Anda berdiri di terminal keberangkatan bandara internasional atau mengamati layar pergerakan saham, dunia tampak sedang dalam performa terbaiknya. Mesin ekonomi berputar, teknologi melesat, dan arus perdagangan tak pernah tidur. Namun, jika kita mau menempelkan telinga lebih dekat ke tanah, kita akan mendengar suara retakan itu.
Suara retakan dari sistem yang menopang hidup miliaran manusia. Dan retakan paling menganga, paling memalukan bagi peradaban kekinian, ada di satu titik: Gaza.
Laporan terbaru dari UNRWA, badan PBB yang memegang mandat kemanusiaan bagi pengungsi Palestina, di awal tahun ini bukan lagi berisi peringatan, melainkan berita kematian nurani. Apa yang kita saksikan di Palestina hari ini melampaui definisi konflik bersenjata. Ini adalah genosida yang telah dinormalisasi.
Kita memasuki tahun ketiga dari pembantaian yang disiarkan secara langsung sejak meletusnya peristiwa Taufan Al-Aqsa. Di Gaza Utara, sisa-sisa tembok rumah sakit telah rata dengan tanah. WFP (World Food Programme), organisasi pangan global yang bergerak di garis depan krisis, mencatat rekor kelam: tingkat kelaparan katastropik tertinggi dalam sejarah modern terjadi di sana. Penduduk tidak mati karena peluru, namun mati perlahan karena akses pangan yang diputus perlahan dan secara sistematis.
Semangat "bertahan di tengah himpitan" yang terjadi di level global itu, sesungguhnya juga berdenyut di rumah kita sendiri. Negeri ini tidak hidup dalam gelembung kaca. Guncangan global merambat hingga ke pasar-pasar tradisional kita. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik), lembaga negara yang memotret denyut nadi ekonomi rakyat, menunjukkan sinyal yang tak boleh diabaikan. Tekanan daya beli kelas menengah bawah terasa nyata.
Kita melihat fenomena di mana porsi pengeluaran pangan semakin membesar. Bagi keluarga muda di pinggiran kota, istilah "makan tabungan" menjadi strategi bertahan hidup. Harga kebutuhan pokok jelang Ramadhan yang merangkak naik bukan lagi statistik dingin, namun kecemasan riil di dapur rakyat.
Inilah wajah dunia 2026: Dunia yang retak, penuh ketidakpastian politik tingkat tinggi, dan tekanan ekonomi di akar rumput.
Di titik nadir inilah, Ramadhan tiba
Bulan ini hadir untuk menjahit kembali retakan-retakan itu. Ramadhan mengajarkan kita bahwa Syukur adalah infrastruktur moral yang paling kokoh. Jika hari ini kita masih memiliki atap yang aman, tidak dikejar oleh drone pembunuh, dan memiliki akses pangan yang stabil, itu adalah kemewahan yang langka.
Dari syukur itu, lahirlah Solidaritas
Solidaritas Ramadhan kita harus naik kelas. Solidaritas bukan lagi sekadar perasaan kasihan atau diskusi di meja seminar. Ia harus menjadi aksi yang solutif dan berani menembus jarak.
Atas dasar itulah, kami memilih untuk tidak berdiam diri. Insya Allah, pada pertengahan Maret 2026 nanti, bertepatan dengan momen-momen syahdu di penghujung Ramadhan, kami bersama konsorsium lembaga kemanusiaan akan bergerak langsung mendekat ke gerbang Palestina.
Ikhtiar ini sederhana. Kami ingin memastikan bahwa amanah dari masyarakat Indonesia tidak hanya tertumpuk di gudang, melainkan sampai ke tangan mereka yang paling berhak. Kami ingin menutup Ramadhan tahun ini dengan membersamai mereka yang sedang diuji habis-habisan.
Bagi sahabat yang ingin menitipkan doa atau dukungan terbaiknya dalam misi kemanusiaan di akhir Ramadhan ini, pintu kolaborasi selalu terbuka. Bukan tentang seberapa besar nilainya, namun tentang bukti bahwa kita memilih untuk hadir.
Kita butuh "Diplomasi Meja Makan": memastikan tetangga kanan-kiri tidak tidur dalam lapar. Kita butuh "Diplomasi Dompet": menyisihkan rezeki terbaik untuk membersamai langkah-langkah nyata yang menembus batas negara.
Ramadhan tahun ini adalah panggilan untuk menjadi "penjahit" peradaban. Kita mungkin tidak bisa menghentikan perang sendirian. Namun, kita punya kendali penuh atas keberpihakan kita. Kita bisa memilih menjadi penonton yang acuh, atau kita memilih menjadi bagian dari barisan yang menolak diam.
Dunia mungkin retak karena konflik dan kepentingan, namun ia akan kembali utuh oleh ketulusan dan keberanian kita untuk peduli. Selamat menunaikan ibadah puasa. Mari merawat peradaban, dimulai dari merawat hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
