Sandiwara Gencatan Senjata: Cara AS Memberi Waktu Israel untuk Membantai
Agama | 2026-02-17 05:35:36
Topeng kemunafikan dunia tengah dipertontonkan. Riuh tepuk tangan saat proposal gencatan senjata disodorkan di depan meja perundingan seolah menjadi bukti kepedulian. Nyatanya, dibalik senyum diplomatis Washington atas dibentuknya dewan perdamaian, moncong meriam Isael tak benar-benar dingin. Gencatan senjata dan BoP yang ditawarkan tak lebih sekedar dongeng solusi perdamaian Gaza.
Kejahatan pelanggaran gencatan senjata terus berulang dilakukan oleh Zion*s Isra*l . Bukan sekedar mesiu yang dijatuhkan di wilayah Gaza, namun hujan bom termal dan termobarik. Paparan panas yang sangat tinggi hingga 3.500 derajat celcius dari bom termobarik, telah menyebabkan ribuan jasad warga Palestina yang syahid teruapkan tanpa sisa tubuh. Astaghfirullah. Sungguh kejahatan di luar batas kemanusiaan teus dipertunjukan secara live, meski jeda bernama perdamaian telah ditandatangani sebulan lalu.
Janji Seorang Pendusta Tak Layak Dipercaya
Dunia terlalu naif, percaya dengan janji2 gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Dunia tak perlu bukti sebanyak apa pelanggaran gencatan senjata telah dilakukan oleh Zion*s Isra*l. Setiap kali perjanjian damai dibuat, saat itu juga dilanggarnya.
Tak bisa dinafikan bahwa gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara Amerika Serikat -Israel melanggengkan penjajahan di Palestina. Di saat Hamas tak boleh bersenjata, Zion*s Isra*l terus disuplai dengan berbagai persenjataan canggih oleh Amerika Serikat. Tercatat dua pertiga impor senjata Israel dipenuhi oleh Amerika. Tak hanya senjata. Amerika juga memberikan bantuan militer sebesar 228 miliar dolar. (https://www.dw.com 28/5/25)
Lantas apakah bisa diterima, alasan bergabungnya para penguasa negeri-negeri muslim dalam BoP untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas? Nyatanya makin jelas terlihat bahwa mereka tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel. Padahal jika mereka mau menggabungkan seluruh kekuatan SDA dan SDM di negeri muslim, niscaya kekuatan AS-Israel takkada artinya.
Satu Kata Untuk Pembohong: Tinggalkan!
Kebohongan AS-Israel dalam sandiwara gencatan senjata, seharusnya cukup membuat kaum muslimin meninggalkan meja perundingan, bukan malah bekerjasama. Sikap umat harus tegas dan lugas, yaitu zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Tak perlu ada perundingan bagi pihak yang tak pernah konsisten.
Lemahnya posisi kaum muslimin saat ini menghadapi manipulasi diplomasi penjajah AS-Israel, justru harus dihilangkan. Tak lagi bisa ditawar kebutuhan kesatuan umat, dalam politik dan kepemimpinan untuk melawan hegemoni penjajah kafir mutlak harus diwujudkan. Umat harus disadarkan kembali bahwa agama Islam yang mereka peluk dan yakini mempunyai pengaturan politik dan kepemimpinan yang khas berdasar syariat.
Politik Islam mengatur hubungan dengan negara kafir dengan sangat tegas dan jelas. Terhadap negara kafir yang memusuhi atau memerangi negara Islam, maka tak ada hubungan diplomatik apapun selain hubungan perang. Hal itu ditegaskan Allah Swt. dalam QS. Al Baqarah ayat 190, tentang perintah berperang di jalan Allah terhadap orang-orang ataau negara kafir yang memerangi kaum muslimin.
Maka menjadi suatu hal yang sangat mendesak untuk memahamkan umat dan penguasa muslim tentang kewajiban jihad ini. Termasuk upaya mendorong penyatuan negeri-negeri muslim, untukk menghimpun kekuatan seluruh kaum muslimin, di bawah naungan Khilafah.
Hanya dengan sebuah kekuatan negara yang besar dan tangguh, seluruh kezaliman, kebohongan dan sandiwara gencatan senjata negara AS-Israel dapat dirobohkan. Hingga tegak perdamaian hakiki dan abadi yang melindungi seluruh kaum muslimin dan umat manusia di dunia.
Wallahu’alam bishowwab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
