Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dwi Nesa

Dewan Perdamaian, Bisakah Membawa Perdamaian?

Agama | 2026-02-14 21:00:15

Sebuah video menayangkan seorang anak Gaza yang ditanya "Kalau sudah besar mau jadi apa? ". Anak tersebut menjawab, " Anak-anak tidak tumbuh dewasa di sini". Jawaban polos anak tersebut menunjukkan kenyataan pahit kondisi mereka. Harapan mereka untuk tumbuh dengan bahagia ikut terkubur bersama 60 juta ton puing-puing bangunan yang rusak. Tidak ada rumah untuk berlindung, sekolah, dan taman bermain. Tidak ada makanan ketika lapar, obat ketika sakit, selimut ketika dingin, bahkan pelukan ibu sebagai penenangpun ikut terenggut. Bayangkan ribuan anak harus hidup sendiri tanpa apa-apa di tengah ancaman moncong senapan dan ledakan bom. Jawaban anak tersebut sangatlah beralasan. Jangankan memikirkan hidup dewasa, bagaimana nasib besok saja tak menentu.

Semua sudah terlanjur, Gaza sudah hancur lebur. Sejak Oktober 2023 kaum Muslim di berbagai negara tidak banyak membantu. Bantuan hanya berupa makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, dan keperluan hidup lainnya, yang semua itu untuk menyembuhkan luka sesudah mereka dibombardir. Dari dulu tidak ada bantuan militer untuk melawan Zionis. Padahal itulah yang seharusnya dilakukan.

Kini kawan mesra Zionis yaitu Amerika Serikat, yang juga donatur genosida, menggagas Board of Peace (Dewan Perdamaian). Bagus namanya. Tujuannya juga mulia yaitu untuk menciptakan perdamaian abadi di Gaza, memulihkan pemerintahan, dan mendukung solusi dua negara.

Tapi ada beberapa informasi terkait BoP yang perlu dicermati. BoP dibentuk oleh AS yang notabenenya mendukung penuh serangan Zionis ke Gaza. Bagaimana bisa secepat itu berubah haluan, dari mendukung serangan menjadi mendukung perdamaian? Ditambah, Presiden AS, Donald Trump menjadi Pemimpin Dewan Eksekutif Perdamaian. Ini berlaku seumur hidup meskipun Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Dalam susunan Dewan Eksekutif tersebut tidak mengikutsertakan warga Gaza, padahal merekalah pemilik tanah dan merekalah para korban. Sehingga memunculkan pertanyaan sebenarnya BoP untuk kepentingan siapa, rakyat Gaza atau elit politik global?

Di sisi lain rancangan rekonstruksi Gaza atau proyek New Gaza yang dipromosikan oleh menantu Trump, Jared Kushner, memiliki syarat yang 'nyeleneh'. Salah satunya demiliterisasi Gaza dan pasukan Zionis tetap berada di perimeter keamanan hingga wilayah dinilai sepenuhnya aman. Trump mengancam akan mengakhiri Hamas jika tidak menyepakati syarat tersebut. Hal ini terkesan aneh karena selama ini yang melindungi Gaza secara militer adalah Hamas. Sedangkan pasukan Zionis adalah penjajah. Bagaimana bisa Hamas yang dilucuti sedangkan Zionis bebas melenggang?

Beberapa informasi tersebut layaknya menjadi pertimbangan para pemimpin sebelum ikut bergabung menjadi anggota BoP. Bisakah tujuan mulia tadi terwujud dan menjadikan Gaza damai sejahtera seperti sebelum kedatangan Zionis? Sangat beralasan jika banyak kalangan yang tidak percaya dengan BoP.

Para penguasa di negeri-negeri muslim harusnya sadar bahwa BoP adalah alat untuk menguasai Gaza sepenuhnya tanpa mengangkat senjata. Gaza menjadi 'bancaan' para elit politik global dengan pemetaan geopolitik yang baru dan perekonomian. Rancangan indah New Gaza apakah untuk kepentingan para korban? Apakah ratusan gedung pencakar langit untuk mengganti fasilitas umum yang rusak? Apakah 180 menara apartemen di sepanjang pantai dan ribuan rumah permanen untuk mengganti rumah warga? Apakah pusat pendidikan gratis untuk membantu anak-anak Gaza meraih mimpi-mimpi mereka? Apakah fasilitas kesehatan untuk mengobati warga yang terluka secara cuma-cuma? Tentu tidak.

Seharusnya yang wajib bertanggungjawab membangun kembali Gaza adalah Zionis, karena dialah sumber kerusakan. Bukan negara-negara lain anggota BoP dengan membayar iuran 16,9 triliyun rupiah yang konon akan digunakan untuk membiayai New Gaza. Gaza akan tersandera tidak secara militer, tapi secara ekonomi, investasi, dan pembangunan yang disetir luar. Inilah bentuk new kolonialisme. Masyarakat di berbagai penjuru tahu itu.

Tinggal giliran para pemimpin negeri-negeri muslim untuk menyadarinya. Kalaupun mereka takut dengan negara adidaya yang punya segalanya, ingat bahwa Allah yang punya langit bumi beserta isinya. AS memang punya kekuatan dana, militer, dan teknologi. Tapi Allah Swt Maha Kaya dan Maha Kuasa. Allah Swt menghendaki hambaNya sesama muslim untuk saling tolong-menolong. Dan Allah melarang hambaNya menjadikan musuh-musuh Islam sebagai teman dekat sebagaimana dalam surat Ali Imran ayat 28.

Yang dibutuhkan saat ini hanyalah persatuan. Masyarakat muslim bahkan non-muslim seluruh dunia mayoritas mendukung Palestina bebas dari penjajah. Tinggal para pemimpin muslim mau bersatu membebaskan diri dari rasa takut. Takutlah hanya kepada Allah Swt. Rakyat Gaza tetap bertahan sambil menunggu kaum muslim seluruhnya bersatu. Kemudian mengirimkan tentara-tentaranya untuk menyelamatkan mereka. Dan mengembalikan harapan anak-anak untuk tumbuh dewasa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image