JEDA (04) Saat Dunia Tidak Sesuai Rencana
Khazanah | 2026-02-17 11:07:49Waktu istirahat siang sering kali bukan sekadar jeda dari pekerjaan, tetapi jeda dari kegaduhan batin. Di sela suara notifikasi dan sisa target yang belum tercapai, ada ruang kecil untuk bertanya: mengapa hari ini tidak berjalan sesuai rencana?
Dalam sebuah riwayat, sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, pernah menggambarkan zuhud sebagai sikap hati yang lebih yakin pada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Bahkan ketika tertimpa musibah, ia lebih berharap pahala daripada sekadar kembalinya apa yang hilang. Sebuah standar keteguhan yang tidak ringan.
Hari ini mungkin ada proposal yang ditolak. Ada proyek yang batal. Ada usaha yang belum membuahkan hasil. Rasa kecewa itu manusiawi. Namun kedewasaan iman tidak diukur dari seberapa sering kita berhasil, melainkan dari bagaimana kita bersikap saat gagal.
Kitab suci mengisyaratkan bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal di dalamnya tersimpan kebaikan yang belum kita pahami. Sebaliknya, ada hal yang sangat kita inginkan, tetapi justru menyimpan keburukan yang tak terlihat. Perspektif ini menggeser cara pandang: hidup bukan hanya soal kontrol, tetapi juga kepercayaan.
Nabi Muhammad pernah mengingatkan bahwa sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin; semua keadaannya adalah kebaikan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur. Jika tertimpa kesulitan, ia bersabar. Dua sikap ini bukan pasif, melainkan aktif—mengolah peristiwa menjadi makna. Nilai hidup tidak berhenti pada peristiwa, tetapi pada respons.
Zuhud bukan berarti menolak dunia. Kita tetap bekerja, tetap merancang, tetap berjuang. Namun kita tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Ada orang yang berhasil secara angka, tetapi rapuh secara jiwa. Ada pula yang gagal di mata manusia, tetapi bertumbuh secara batin.
Istirahat siang ini mungkin hanya 30 menit. Namun ia cukup untuk mengingatkan bahwa tidak semua kehilangan adalah kerugian. Terkadang yang lepas dari genggaman justru menyelamatkan kita dari arah yang keliru. Terkadang rencana yang tertunda sedang diarahkan ulang agar lebih selaras dengan kapasitas dan kesiapan kita.
Bisa jadi yang hilang hari ini sedang diganti dengan sesuatu yang lebih baik—bukan hanya lebih besar, tetapi lebih berkah, lebih tenang, lebih sesuai dengan pertumbuhan jiwa.
Hidup tidak selalu tentang berhasil menggenggam apa yang kita rencanakan, tetapi tentang mempercayai bahwa setiap kehilangan, kegagalan, dan penundaan sedang membentuk kedewasaan jiwa; ketika syukur dan sabar menjadi respons utama, maka apa pun hasilnya akan tetap bernilai kebaikan.
Tarik napas perlahan. Letakkan sejenak beban ekspektasi. Dunia memang tidak selalu tunduk pada rencana kita. Namun hidup tidak pernah berjalan di luar pengawasan-Nya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
