Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Otentik Art

JEDA (02) Zuhud Bukan Berarti Tidak Punya

Khazanah | 2026-02-15 12:17:32
Profesional Muslim merenung di tengah simbol dunia, menggambarkan zuhud: memiliki tanpa diperbudak harta.


Waktu istirahat siang sering membuat kita membuka ponsel, melihat pencapaian orang lain, membaca kabar promosi, bisnis yang berkembang, pencapaian finansial yang terus bertambah. Tanpa sadar, hati mulai membandingkan. Di titik itu, banyak orang mengira zuhud berarti menjauh dari semua itu—tidak punya ambisi, tidak ingin berhasil, bahkan seolah harus miskin agar terlihat saleh. Padahal bukan itu maknanya.

Zuhud adalah sikap hati, bukan kondisi dompet.Para ulama menjelaskan bahwa zuhud bukan mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta. Seorang zahid bisa saja memiliki rumah yang layak, kendaraan yang baik, pekerjaan yang mapan. Ia boleh sukses, boleh berkembang, boleh kaya. Namun yang membedakan adalah keterikatannya. Dunia ada di tangannya, bukan di hatinya.

Ia tetap bekerja profesional. Datang tepat waktu. Menyelesaikan tugas dengan amanah. Ia tetap mencari rezeki halal dengan sungguh-sungguh, karena bekerja juga bagian dari tanggung jawab. Namun ketika dunia datang, ia tidak silau. Ia tidak merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dan ketika dunia pergi—ketika proyek gagal, bonus tertunda, atau usaha menurun—ia tidak runtuh. Ia tidak kehilangan harga diri, karena harga dirinya tidak pernah dititipkan pada harta.

Zuhud membuat seseorang stabil. Tidak terlalu tinggi saat dipuji, tidak terlalu jatuh saat kehilangan. Ia tahu bahwa dunia hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Ia menggunakan harta, tetapi tidak diperbudak olehnya. Ia menikmati nikmat, tetapi tidak bergantung padanya.

Di sela istirahat ini, kita boleh bertanya dengan jujur: apakah kita memiliki harta, atau justru harta yang memiliki kita? Apakah kita bekerja untuk keberkahan, atau sekadar untuk gengsi? Apakah kita takut kehilangan dunia, lebih daripada takut kehilangan ridha Allah?
Zuhud bukan tentang mengurangi kepemilikan, tetapi meluruskan keterikatan. Milikilah dunia secukupnya, tapi jangan izinkan ia menguasai hatimu. Bekerjalah dengan maksimal, namun gantungkan hasilnya kepada Allah. Nikmati yang halal, namun jangan jadikan ia sumber kebahagiaan utama. Karena yang membuat hati tenang bukan seberapa banyak yang kita genggam, tetapi seberapa ringan kita melepasnya saat Allah meminta.

Sebab yang berat bukan membawa dunia di tangan, tetapi menyimpannya di dalam hati. Dan hati yang terlalu penuh oleh dunia akan sulit merasakan lapangnya iman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image