JEDA (01) Dicintai Allah dan Manusia
Khazanah | 2026-02-14 13:11:14
Waktu istirahat siang sering menjadi momen paling jujur dalam sehari. Setelah rapat, target, pesan masuk yang tak henti, kita duduk sebentar—dan bertanya dalam hati: semua ini untuk apa? Kita ingin berhasil, dihargai, dipercaya. Tapi jauh di dalamnya, ada keinginan yang lebih sunyi: ingin dicintai. Bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh Allah.
Suatu hari, seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang jika aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan manusia pun akan mencintaiku.” Nabi ﷺ menjawab singkat namun dalam makna:
“Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, manusia akan mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)
Jawaban ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Bukan tentang strategi agar populer. Bukan tentang cara membangun citra. Tapi tentang sikap hati.
Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau menolak rezeki. Zuhud adalah tidak menggantungkan nilai diri pada dunia. Kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetap berusaha mencapai target. Tetap menjemput peluang. Namun hati tidak terpaut berlebihan pada hasil.
Ketika seseorang terlalu mencintai dunia, ia mudah kecewa saat gagal dan mudah sombong saat berhasil. Ia hidup dalam kecemasan: takut kalah, takut tertinggal, takut tidak dianggap. Tapi ketika hati belajar zuhud, ada ketenangan yang berbeda. Ia bekerja bukan demi pujian, melainkan demi amanah. Ia berkarya bukan demi pengakuan, melainkan demi kebermanfaatan.
Menjadi zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia juga berarti tidak berharap berlebihan pada mereka. Tidak haus validasi. Tidak menjadikan penghargaan sebagai sumber harga diri. Saat kita tidak menuntut perhatian dan pengakuan, justru manusia merasa nyaman dengan kita. Tidak ada aura iri, tidak ada ambisi yang menekan. Yang ada adalah ketulusan.
Cinta Allah diraih ketika hati tidak diperbudak dunia. Cinta manusia hadir ketika kita tidak rakus atas apa yang mereka miliki. Zuhud bukan tentang kehilangan, tetapi tentang kebebasan. Kebebasan dari ketergantungan, dari iri, dari haus pujian.
Sebelum kembali ke meja kerja, tanyakan sebentar pada diri: apakah hari ini aku bekerja untuk dinilai manusia, atau untuk dinilai Allah?
Karena saat hati tidak lagi mengejar dunia secara berlebihan, justru dunia terasa lebih ringan. Dan mungkin, di situlah cinta itu tumbuh—diam-diam, tapi dalam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
