Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Otentik Art

JEDA (10) Ibu Adalah Tempat Kembali Saat Lelah

Khazanah | 2026-02-23 15:05:58

Ada hari-hari ketika tubuh terasa kuat, tetapi hati terasa runtuh. Kita tersenyum di depan banyak orang, berbicara seolah baik-baik saja, menunaikan tanggung jawab tanpa jeda—namun di dalam dada ada sesak yang sulit dijelaskan. Pada saat-saat seperti itu, tanpa sadar, hati kita mencari satu nama: ibu.

Dalam pelukan ibu, lelah yang tak sempat terucap menemukan tempatnya. Di sana, hati yang retak kembali utuh, dan jiwa yang penat kembali percaya bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian

Entah mengapa, suara ibu selalu punya cara untuk menenangkan. Tidak harus panjang nasihatnya. Tidak perlu rumit solusinya. Kadang hanya dengan kalimat sederhana, “Kamu tidak apa-apa, Nak?” air mata yang lama tertahan akhirnya menemukan jalan pulang.

Sejak kecil, ibu adalah tempat pertama kita kembali. Saat jatuh, kita menangis padanya. Saat takut, kita bersembunyi di baliknya. Saat dunia terasa terlalu besar, ibu membuatnya terasa lebih ramah. Dan anehnya, meski usia bertambah dan tanggung jawab makin banyak, arah hati itu tidak pernah benar-benar berubah. Kita tetap ingin pulang.

Ibu mungkin tidak memahami semua detail kehidupan kita hari ini—pekerjaan yang rumit, tekanan sosial, beban finansial, atau luka batin yang tak kasatmata. Tetapi ia selalu memahami satu hal: anaknya sedang lelah atau tidak. Nalurinya lebih tajam dari logika. Doanya lebih kuat dari jarak.

Namun di tengah semua itu, pernahkah kita berhenti dan bertanya: siapa tempat kembali bagi ibu?

Ia juga manusia. Ia juga punya lelah yang jarang ia ceritakan. Ia juga menyimpan kegelisahan tentang masa depan anak-anaknya. Ia mungkin menahan tangis agar rumah tetap terasa hangat. Ia mungkin memendam cemas agar kita bisa tidur dengan tenang.

Ibu adalah tempat kembali saat kita lelah, tetapi jangan lupa bahwa ia pun membutuhkan ruang untuk dikuatkan. Hargai keberadaannya, ringankan bebannya, dan balas doanya dengan bakti serta perhatian. Karena cinta ibu bukan sekadar rasa, melainkan pengorbanan yang sunyi dan terus-menerus.

Jika hari ini ibumu masih ada, jangan tunda untuk menunjukkan cinta. Duduklah lebih lama di sampingnya. Dengarkan ceritanya sebagaimana dulu ia mendengarkanmu. Jika jarak memisahkan, teleponlah. Suaramu mungkin adalah obat bagi lelahnya yang tak pernah ia ungkapkan.

Dan jika ibumu telah tiada, jangan merasa kehilangan arah. Doakan ia dengan sungguh-sungguh. Teruskan kebaikan yang ia tanamkan. Hidupkan nilai-nilai yang ia ajarkan. Karena cinta seorang ibu tidak berhenti di dunia; ia menjelma menjadi jejak yang membimbing langkah.

Wahai jiwa yang sedang lelah, jangan merasa sendirian. Ingatlah, ada doa ibu yang pernah menguatkanmu berkali-kali tanpa kau sadari. Dan jika hari ini engkau tak bisa bersandar di bahunya, maka bersandarlah kepada Tuhan yang menciptakan cinta itu. Karena dari rahim seorang ibu, Allah mengajarkan kita satu hal paling mendasar: selalu ada tempat untuk kembali.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image