10 Malam Terakhir: Mungkin Ini Ramadhan Terakhir Kita
Khazanah | 2026-03-09 18:54:56Malam-malam itu akhirnya tiba.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan—fase yang selalu dinantikan oleh orang-orang yang merindukan kedekatan dengan Allah. Di malam-malam inilah umat Islam berharap dapat bertemu dengan Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Namun sepuluh malam terakhir bukan hanya tentang mencari satu malam yang istimewa. Ia juga tentang kesungguhan hati dalam memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas tentang bagaimana menyambut malam-malam ini. Dalam riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.
Para ulama menjelaskan bahwa “mengencangkan sarung” adalah simbol kesungguhan yang lebih besar dalam beribadah. Rasulullah ﷺ meningkatkan ibadahnya, memperpanjang shalat malam, memperbanyak doa, dan menghidupkan malam dengan amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Padahal beliau adalah manusia yang telah dijamin surga.
Jika seseorang yang telah dijamin keselamatannya masih bersungguh-sungguh seperti itu, maka seharusnya kita lebih merasa membutuhkan kesempatan ini.
Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bertemu Ramadhan.
Setiap tahun Ramadhan datang dan pergi. Namun tidak semua orang yang menyambutnya tahun ini akan kembali merasakannya di tahun berikutnya. Ada yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini hanya tinggal kenangan.
Kesadaran inilah yang seharusnya membuat sepuluh malam terakhir terasa berbeda.
Malam-malam ini bukan sekadar rutinitas ibadah tambahan. Ia adalah peluang yang mungkin terakhir. Kesempatan untuk membersihkan dosa, memperbaiki hati, dan kembali kepada Allah dengan lebih jujur.
Karena itu, jangan tunda tangisan di hadapan-Nya.
Jangan tunda sujud yang lebih lama dari biasanya.
Jangan tunda istighfar yang lahir dari hati yang benar-benar menyesal.
Biarkan malam-malam ini menjadi ruang paling sunyi antara kita dan Allah. Ruang di mana seorang hamba mengakui kelemahannya dan berharap agar dosa-dosanya diampuni.
Bisa jadi, inilah malam-malam terakhir yang Allah berikan kepada kita untuk memperbaiki semuanya.
Dan jika benar demikian, alangkah ruginya jika kita melewatinya dengan hati yang biasa-biasa saja.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
