Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Otentik Art

JEDA (03) Yakin pada Tangan Allah

Khazanah | 2026-02-16 10:48:01
Senja yang hangat menyinari mushaf Al-Qur’an di atas rehal kayu, ditemani lentera dan tasbih, dengan siluet masjid di kejauhan serta burung yang terbang bebas—melambangkan ketenangan hati yang bersandar penuh kepada Allah dan keyakinan bahwa rezeki selalu berada dalam genggaman-Nya.

Zuhud tidak lahir dari kemiskinan, tetapi dari keyakinan. Ia tumbuh dari hati yang percaya bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih bernilai daripada apa yang ada di tangan manusia. Seorang zahid bukan berarti ia tidak bekerja, tidak berusaha, atau menolak dunia. Ia tetap menjemput rezeki, tetap merancang masa depan, tetap profesional dalam tugasnya. Namun sandaran hatinya tidak berpindah kepada manusia.

Ada satu nasihat indah dari cucu Rasulullah, Husain bin Ali, yang mengingatkan bahwa lemahnya iman tampak ketika seseorang merasa apa yang ada pada manusia lebih berharga daripada apa yang ada pada Allah. Kalimat ini sederhana, tetapi mengguncang. Betapa sering kita merasa “aman” jika atasan memuji, jika klien menyetujui, jika angka rekening bertambah. Sebaliknya, kita mudah goyah ketika penilaian manusia berubah.

Padahal Al-Qur’an berulang kali mengisyaratkan bahwa rezeki bukan sekadar hasil kecerdikan, jaringan, atau strategi. Ia adalah pemberian dari Dzat yang Maha Memberi, yang membentangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Bahkan seekor makhluk melata pun tidak luput dari jaminan-Nya. Isyarat ini seakan menenangkan: yang menjamin hidup kita bukan sistem, bukan manusia, melainkan Allah sendiri.

Di tempat kerja, rasa cemas sering datang tanpa diundang. Takut kehilangan proyek. Takut tersaingi. Takut tidak dianggap penting. Perasaan itu manusiawi. Namun ketika rasa takut itu membuat kita menghalalkan segala cara, mengorbankan integritas, atau menukar ketenangan dengan ambisi berlebihan, di situlah keyakinan sedang diuji.

Rasulullah pernah menggambarkan bahwa seandainya manusia bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal, ia akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang. Burung tetap terbang, tetap mencari. Tetapi ia tidak membawa kecemasan berlebihan di sayapnya. Ia bergerak dengan keyakinan.

Zuhud berarti menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Kita boleh mengejar target, tetapi jangan sampai target itu mengejar dan menguasai jiwa kita. Kita boleh menghargai manusia, tetapi jangan sampai menggantungkan harapan hidup sepenuhnya pada mereka.

Siang ini, mungkin kita sedang duduk di balik meja kerja, dikelilingi deadline dan notifikasi. Cobalah tarik napas perlahan. Ingatkan diri bahwa rezeki tidak pernah salah alamat. Tidak akan tertukar. Tidak akan diambil orang lain jika memang telah ditetapkan untuk kita.

Yang perlu kita jaga hanyalah cara kita mencarinya: tetap jujur, tetap bersih, tetap lurus. Karena yang kita tuju bukan sekadar cukup, tetapi berkah. Dan keberkahan selalu turun kepada hati yang yakin—bahwa tangan Allah lebih luas daripada seluruh tangan manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image