Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (014): Diam yang Mendekatkan, Bukan Menjauhkan

Khazanah | 2026-01-26 18:59:54

Tidak semua diameter adalah jarak. Ada diam yang justru menjadi—diam yang penuh kesadaran bahwa Allah sedang dekat, lebih dekat dari kata-kata yang ingin kita ucapkan.

Siang hari melatih kita untuk berbicara: menjelaskan, membela, dan membuktikan diri. Malam justru melucuti semua itu—mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan dengan suara.

Di malam hari, diam menjadi bahasa paling jujur. Tak ada audiens, tak ada penilaian. Yang tersisa hanyalah hati apa adanya, tanpa topeng dan tanpa alasan.

Tahajud pun lebih banyak diam daripada lafaz. Diam dalam sujud yang panjang, diam dalam doa yang tak selalu terucap, diam dalam pengakuan bahwa kita sering tidak tahu apa yang terbaik bagi diri kita sendiri.

Dalam diam itu, hati dilunakkan. Bukan karena banyaknya kata, tetapi oleh kehadiran yang utuh—hadir sebagai hamba, bukan sebagai pemenang argumen.

Jarak dengan Allah menyempit bukan karena fasihnya doa, melainkan karena jujurnya kehadirannya. Saat ego diam, cinta pun berbicara.

Malam akhirnya mengajarkan satu hal penting: terkadang, cara paling dalam untuk mendekat kepada Allah adalah dengan diam yang penuh kesadaran.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image