Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Ketika Nama Kita Dipanggil di Langit

Khazanah | 2026-01-25 14:04:46

Manusia hidup dari pengakuan.Kita merasa berarti ketika nama kita disebut, ketika karya kita diapresiasi, ketika kebaikan kita dipuji. Ada kehangatan yang merambat pelan di dada setiap kali manusia mengingat kita dengan baik.

Namun suatu hari, saya bertanya pada diri sendiri:

bagaimana jika yang menyebut nama kita bukan manusia, melainkan Allah?

Bagaimana jika nama itu bergema bukan di ruang-ruang pertemuan, tetapi di langit—di hadapan para malaikat yang tidak pernah letih bertasbih?

Taman-Taman Surga yang Sering Kita Lewati

Rasulullah ﷺ menyebut majelis zikir sebagai riyāḍ al-jannah—taman-taman surga di dunia.

Beliau bersabda:

“Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.”

Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?”

Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Barangkali kita sering melewati taman itu—di masjid, di ruang kajian, di lingkar kecil diskusi Qur’an—namun memilih berjalan terus. Kita merasa sibuk, merasa cukup, merasa tidak sempat.

Padahal, bisa jadi di sana langit sedang terbuka.

Hamba yang Dipamerkan Allah

Ada hadis yang membuat hati terasa kecil sekaligus berharap.

Sekelompok sahabat duduk berzikir. Rasulullah ﷺ bertanya apa yang mereka lakukan. Mereka menjawab: mengingat Allah dan mensyukuri nikmat Islam.

Lalu Rasulullah menyampaikan kabar yang tidak terbayangkan oleh manusia mana pun:

Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat. (HR. Muslim dan lainnya)

Mereka tidak sedang berdakwah di mimbar besar. Tidak sedang menulis kitab. Tidak sedang memimpin umat. Mereka hanya duduk—mengucap tasbih, tahmid, takbir—dengan hati yang hidup.

Namun Allah menyebut mereka di langit.

Mungkin di bumi mereka tampak biasa.

Di langit, mereka istimewa.

Ketika Langit Mendekat

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa orang-orang yang berkumpul untuk berzikir akan dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya (HR. Muslim).

Saya membayangkan:

Di saat manusia sibuk menilai satu sama lain, ada majelis kecil yang dinilai langsung oleh langit.

Di saat kita sibuk mencari validasi, ada validasi ilahi yang turun tanpa sorotan kamera.

Betapa sunyi tapi agung.

Malaikat yang Mendoakan Kita

Al-Qur’an menyebut malaikat sebagai hamba-hamba yang dimuliakan, yang tidak mendahului Allah dalam ucapan dan sepenuhnya tunduk pada perintah-Nya (QS. Al-Anbiya: 26–28).

Mereka bukan sekadar penjaga kosmos, tetapi juga pendoa bagi manusia.

Setiap pagi, dua malaikat turun: satu mendoakan orang yang gemar bersedekah agar diganti hartanya, satu lagi mendoakan kebinasaan bagi yang kikir (HR. Bukhari dan Muslim).

Doa malaikat bukan doa sembarang makhluk. Ia adalah doa makhluk yang dekat dengan Allah, yang suaranya tidak terhalang oleh dunia.

Fajar yang Disaksikan Langit

Ada waktu yang sering kita perjuangkan—atau sering kita kalah darinya: Subuh.

Allah berfirman bahwa salat Subuh itu disaksikan oleh malaikat (QS. Al-Isra: 78).

Di saat malam menyerah pada cahaya pertama, malaikat malam dan malaikat siang bertemu. Mereka menyaksikan siapa yang bangun, siapa yang berdiri, siapa yang membaca firman Tuhan di saat kebanyakan manusia terlelap.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang salat Subuh berada dalam jaminan Allah (HR. Muslim). Bahkan Subuh berjamaah seolah-olah shalat sepanjang malam (HR. Muslim).

Betapa murahnya tiket menuju jaminan ilahi—dan betapa sering kita melewatkannya.

Nama yang Sunyi di Bumi, Bergema di Langit

Tulisan ini bukan nasihat bagi orang lain. Ia lebih seperti cermin bagi diri sendiri.

Apakah majelis zikir masih menjadi taman yang ingin saya singgahi, atau hanya tempat yang saya lewati?

Apakah Subuh masih saya perjuangkan, atau sekadar jadwal yang saya tunda?

Apakah nama saya hanya ingin dikenal di dunia, atau disebut di langit?

Mungkin kita tidak populer.

Mungkin tidak memiliki panggung.

Namun bisa jadi, nama kita sedang disebut oleh Allah di hadapan para malaikat.

Dan bukankah itu kemuliaan yang tidak bisa ditandingi oleh pujian manusia mana pun?

Semoga suatu hari, ketika nama kita disebut di langit, para malaikat mengenalnya sebagai:

“Ini hamba yang sering mengingat Allah.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image