Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Akar yang Sama, Jalan yang Beragam: Dari Potensi ke Kebermanfaatan

Kabar Pesantren | 2026-01-26 12:09:58

Penulis : Muliadi Saleh

Pesantren IMMIM tidak pernah sekadar menjadi ruang belajar. Ia adalah rumah waktu—tempat akhlak ditanam, nalar diasah, dan keberanian untuk merantau dipupuk. Dari lorong-lorong asrama, dari subuh yang hening hingga malam-malam panjang bersama kitab dan mimpi, lahirlah manusia-manusia yang kelak berjalan jauh, namun tetap membawa satu kompas yaitu NILAI.

Di antara mereka, ada Shalahuddin Ahmad (IMMIM 1980–1986), yang langkah hidupnya melintasi disiplin dan benua. Dari matematika dan teknik industri di ITB, hingga studi doktoral ekonomi di UIII, dari Singapura hingga Inggris, Ukraina hingga Thailand. Ia pernah mengabdi di jantung industri nasional bersama Astra Group, menjelajah hampir seluruh raksasa otomotif Indonesia, dan menimba pengalaman global di PricewaterhouseCoopers serta IBM. Kini, ia mengemban amanah sebagai Komisioner Badan Wakaf Indonesia dan Direktur Wakara Bursa, menautkan iman dan investasi dalam ekosistem emas—dari perut bumi hingga cetakan peradaban. Kepakarannya merentang dari manajemen strategis, transformasi bisnis, ERP, hingga teknologi pertahanan dan drone. Bahasa-bahasa dunia ia kuasai, namun bahasa pengabdian tetap yang utama.

Ada pula Muhammad Idris Leo (IMMIM 1984–1990), yang selama dua dekade lebih setia mengabdikan ilmu perencanaan wilayah dan kota. Lulusan Universitas 45 Makassar, ia pernah memimpin perusahaan konsultan, duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Takalar, dan kini memasuki tahun keempat sebagai Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Selatan bidang Infrastruktur dan Pembangunan. Ia membaca kota bukan hanya dari peta, tetapi dari denyut warganya.

Dari dunia perbankan, hadir Harris Mannan (IMMIM 1987–1993)—29 tahun mengabdi di Bank BTN, menempuh Gorontalo, Kendari, Banjarmasin, hingga kini menjadi Regional Commercial Risk Head Kanwil Sulampua. Keahliannya di pembiayaan perumahan dan UMKM menjadikannya penjaga keseimbangan antara risiko dan harapan, antara angka dan kehidupan nyata. Latar teknik mesin dan ekonomi membentuknya sebagai profesional yang presisi sekaligus empatik.

Di ranah digital dan kebijakan, ada Firdaus Masyhur (IMMIM 1990–1996). Dari STMIK Bandung, Universitas Indonesia, hingga kini menempuh S3 Inovasi Kebijakan di UGM, ia merajut teknologi dengan kepentingan publik. Pernah memimpin IAPIM Bandung, kini bertugas di Kementerian Komunikasi dan Digital, mengelola pelatihan SDM untuk 11 provinsi Indonesia Timur, sekaligus menjabat komisaris di perusahaan ISP. Dunia maya ia pahami, tetapi jejaring silaturahmi tetap ia rawat.

Jejak kewirausahaan dan organisasi tampak pada Abdul Haris Halid (IMMIM 1987–1993). Dari Komselindo, LAPI Universitas 45, Bosowa Group, hingga sektor properti dan pertambangan—pengalaman hidupnya berlapis. Kini ia memilih satu fokus: mengabdi bagi IAPIM Paradigma Baru, menjadikan pengalaman sebagai bahan bakar perubahan.

Ada pula Adlin Sila, yang meski hanya tiga tahun di IMMIM (1983–1986), tetap menjadikan pesantren sebagai akar identitas. Kini ia bekerja di Kemendiktisaintek, setelah sebelumnya menjadi Staf Ahli Menteri. Singkat di IMMIM, panjang dalam pengabdian—itulah bukti bahwa nilai tidak diukur oleh lama tinggal, tetapi oleh kedalaman yang tertanam.

Dari Jakarta, Amir Zaman (IMMIM 1981–1987) menempuh jalan keummatan. Alumni HI Unhas dan Tadris Inggris IAIN Alauddin ini menetap di ibu kota sejak 1994, pernah memimpin IAPIM Jabodetabek, dan selama 25 tahun mengelola perjalanan haji dan umrah melalui AMITA Tour. Sebagai Ketua Yayasan Langit Cendekia Loka, ia mengingatkan umat tentang wakaf dan wasiat—tentang bekal yang tak habis dimakan waktu.

Di Yogyakarta, Irfan Kamal (IMMIM 1982–1988) mengabdikan diri di dunia konstruksi. Lulusan Teknik Sipil UMY dan MM UGM, ia membangun bukan hanya struktur fisik, tetapi juga kepercayaan, bata demi bata.

Di tingkat nasional, Andi Zabur Rahman (IMMIM 1991–1997) menggeluti bidang pengadaan pemerintah dan BUMN. Pendidikan dari Unhas, STMIK, UGM, hingga UNJ mengantarkannya menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI)—penjaga integritas di jalur belanja negara.

Dan di Takalar, Rahmansyah Lantara (IMMIM 1983–1989) mengabdi sebagai ASN, kini menjabat Kepala Bappelitbangrida Kabupaten Takalar. Latar pendidikan STPDN, Institut Ilmu Pemerintahan, dan Universitas Padjadjaran menjadikannya birokrat perencana yang paham arah dan dampak.

Pelajaran yang Mengikat Semua Nama

Dari kisah-kisah ini, satu pelajaran besar mengemuka adalah: IMMIM tidak mencetak profesi yang seragam, tetapi melahirkan nilai yang sama. Mereka berbeda jalan—akademisi, birokrat, politisi, banker, teknokrat, pengusaha, pelayan umat—namun disatukan oleh etos amanah, kerja keras, dan keberanian mengambil peran.

Maka IAPIM Paradigma Baru bukan sekadar organisasi alumni. Ia harus menjadi ruang kolaborasi nilai dan keahlian. Bukan menumpuk struktur, tetapi mengaktifkan fungsi. Bukan sekadar nostalgia, tetapi orkestrasi potensi. (26 Januari 2026).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image