Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dedy Suherman

Mengimani Akhir Zaman Tanpa Kehilangan Akal Sehat

Agama | 2026-03-03 14:15:41




Setiap kali dunia memasuki fase krisis, langit kembali ditafsirkan. Gerhana bulan menjadi tanda. Perang regional dianggap bab pembuka Armageddon. Krisis ekonomi disebut sebagai runtuhnya tatanan akhir.


Di era media sosial, narasi eskatologis menyebar lebih cepat daripada verifikasi. Kecemasan kolektif menemukan jalannya melalui potongan video, ceramah singkat, dan tafsir instan. Seolah-olah sejarah sedang dipercepat menuju klimaksnya.


Pertanyaannya: apakah setiap keguncangan global memang harus dibaca sebagai tanda akhir zaman?


Dalam ajaran Islam, iman kepada hari akhir adalah rukun iman. Seorang Muslim meyakini bahwa sejarah memiliki tujuan, bahwa kezaliman tidak abadi, dan bahwa keadilan akan ditegakkan. Namun keyakinan itu tidak identik dengan kepanikan kosmik.


Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mengajarkan umatnya untuk sibuk menebak tanggal kiamat. Ketika para sahabat bertanya tentang kapan hari itu tiba, yang beliau tekankan bukanlah waktu, melainkan kesiapan. Bahkan dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan, jika kiamat terjadi sementara di tangan seseorang ada bibit tanaman, maka tanamlah.


Pesan ini radikal dalam kesederhanaannya. Bahkan di ambang kehancuran kosmis, tugas manusia tetap membangun.


Di sinilah letak keseimbangan iman. Mengimani akhir zaman bukan berarti meninggalkan tanggung jawab dunia. Justru sebaliknya: kesadaran akan kefanaan seharusnya memperdalam komitmen etis.


Sayangnya, dalam banyak peristiwa kontemporer, pola pikir eskatologis sering kali berubah menjadi simplifikasi. Konflik geopolitik yang kompleks direduksi menjadi pertarungan hitam-putih. Krisis ekonomi yang lahir dari kebijakan dan struktur global dibaca sebagai skenario metafisik. Fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah diperlakukan sebagai pesan langsung tentang bab terakhir sejarah.


Pendekatan semacam ini berisiko menumpulkan nalar kritis. Ia membuat umat mudah terombang-ambing oleh sensasi. Padahal Islam sejak awal memuliakan akal sebagai instrumen memahami ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda di alam) dan ayat-ayat qauliyah (wahyu).


Sejarah Islam sendiri mencatat bahwa hampir setiap generasi pernah merasa hidup di masa paling genting. Invasi Mongol ke Baghdad pada abad ke-13, Perang Salib, penjajahan kolonial, hingga dua perang dunia—semuanya pernah dianggap sebagai penanda akhir. Namun sejarah terus berjalan, dan umat tetap dituntut membangun peradaban.


Yang perlu dibedakan adalah antara iman eskatologis dan sensasionalisme eskatologis.
Iman eskatologis melahirkan kesadaran moral: bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban. Ia membuat manusia lebih berhati-hati dalam berkuasa, lebih adil dalam memutuskan, dan lebih empatik dalam bersikap.


Sementara sensasionalisme eskatologis justru sering melahirkan kepanikan, polarisasi, bahkan fatalisme. Jika semua dianggap sudah menjadi skenario akhir, maka upaya perbaikan terasa sia-sia. Jika dunia diyakini berada di ambang runtuh total, maka dialog menjadi tidak penting lagi.


Padahal justru dalam situasi global yang tidak stabil—perang, krisis pangan, ancaman resesi—yang dibutuhkan adalah ketenangan berpikir dan keteguhan moral.


Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menutup mata terhadap tanda-tanda zaman. Tetapi Islam juga tidak mendorong umatnya untuk terjebak dalam spekulasi waktu. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa pengetahuan tentang hari kiamat adalah hak prerogatif Allah.


Di tengah dunia yang gaduh, barangkali sikap yang lebih dewasa adalah ini: mengimani akhir zaman tanpa kehilangan akal sehat; menjaga spiritualitas tanpa meninggalkan rasionalitas; memperbanyak amal tanpa memperbanyak ketakutan.


Sebab bisa jadi, ujian terbesar di era informasi bukanlah kurangnya tanda, melainkan berlimpahnya tafsir.


Dan di antara semua tafsir itu, yang paling penting tetap satu: bagaimana kita menjalani hari ini dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.


Karena entah kiamat itu dekat atau masih jauh, tugas manusia tidak berubah—menanam kebaikan di tengah dunia yang terus bergolak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image