Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Alumni Pesantren, Kepemimpinan Kolektif, dan Arsitektur Kesadaran Sosial

Kabar Pesantren | 2026-02-06 20:03:08

 

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

Transformasi IAPIM (Ikatan Alumni Pesantren IMMIM) hari ini sejatinya tidak berhenti pada perubahan struktur kepemimpinan atau pergeseran model organisasi semata. Ia adalah perjalanan batin kolektif alumni pesantren untuk menjaga agar ingatan pendidikan yang pernah mereka jalani tidak membeku menjadi nostalgia, melainkan tetap hidup sebagai energi sosial. Sebab pesantren sejak awal tidak mendidik melalui kemewahan fasilitas, tetapi melalui kesederhanaan yang sarat makna. Shaf salat yang rapat menanamkan kesetaraan, kamar asrama yang sederhana melatih toleransi, dan sumur tempat santri menimba air bersama diam-diam menumbuhkan solidaritas yang kelak menjadi modal sosial kuat. Para pakar sosiologi pendidikan menyebut pengalaman seperti itu sebagai proses pembentukan kepercayaan sosial—social trust—yang menjadi fondasi penting bagi kemampuan seseorang berkolaborasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Modal sosial inilah yang kemudian dibawa para alumni ke berbagai ruang kehidupan. Kita melihat alumni pesantren hadir dalam dunia pendidikan, birokrasi, bisnis, dakwah, profesi modern, hingga jejaring internasional. Mereka membawa disiplin spiritual, solidaritas sosial, dan orientasi pengabdian yang relatif khas. Namun perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Kesuksesan personal sering membuat perhatian alumni terpecah. Kesibukan profesional menyisakan sedikit ruang bagi organisasi sosial. Sementara generasi alumni muda menuntut organisasi yang lebih profesional, adaptif digital, dan memiliki dampak nyata. Tanpa tata kelola organisasi yang modern yang menghadirkan program berkelanjutan yang jelas dan terarah, komunikasi lintas daerah yang hidup, serta data alumni yang terintegrasi, maka modal sosial pesantren berpotensi tercecer menjadi kenangan personal yang hangat tetapi kurang produktif secara sosial.

Dalam konteks inilah kepemimpinan kolektif melalui sistem presidium menemukan relevansinya. Tradisi musyawarah sebenarnya bukan hal baru dalam kultur pesantren. Ia sudah lama menjadi etika sosial yang menekankan kebersamaan, kesetaraan, dan tanggung jawab kolektif. Model presidium, jika dijalankan dengan kedewasaan spiritual dan kematangan manajerial, dapat memperkuat partisipasi anggota, memperluas legitimasi keputusan, dan mengurangi ketergantungan pada figur tunggal. Namun kolektivitas bukan tanpa risiko. Ia menuntut kejelasan sistem, disiplin komunikasi, dan integritas personal yang terjaga. Tanpa itu, kolektivitas bisa melambatkan gerak organisasi; dengan itu, ia justru memperkuat daya kolaborasi dan keberlanjutan kepemimpinan.

Lebih jauh, organisasi alumni pesantren seperti IAPIM memiliki peluang strategis dalam lanskap sosial nasional. Di tengah kebutuhan akan pendidikan Islam moderat, penguatan ekonomi umat, literasi sosial-keagamaan yang inklusif, serta pembangunan karakter generasi muda, alumni pesantren memiliki posisi unik sebagai jembatan antara tradisi religius dan modernitas sosial.

Mereka membawa nilai spiritual sekaligus pengalaman profesional. Jika jejaring ini disinergikan secara sistematis, dampaknya tidak hanya bagi pesantren asal, tetapi juga bagi masyarakat luas. IAPIM berpotensi menjadi ekosistem kontribusi sosial berbasis nilai pesantren, bukan sekadar forum nostalgia alumni.

Namun transformasi organisasi tetap harus menjaga akar. Sistem boleh modern, strategi boleh kompleks, jaringan boleh luas, tetapi ruh pesantren—keikhlasan, persaudaraan, integritas, dan orientasi pengabdian, harus tetap menjadi kompas. Tanpa ruh itu, organisasi mudah kehilangan makna terdalamnya. Sumur tempat santri dulu menimba air mungkin telah berubah bentuk, tetapi makna kebersamaan yang mengalir darinya tidak boleh kering. Kesadaran berjamaah itulah yang menjaga organisasi tetap hidup, bukan hanya secara struktural, tetapi juga secara moral dan spiritual.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan alumni pesantren tidak berhenti pada prestasi individual. Ia terletak pada kemampuan mereka menjadi arsitek kesadaran sosial:

Kemampuan menyulam jejaring kebaikan. Ketekunan merawat nilai. Mensinergikan kolaborasi potensi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi pesantren, masyarakat, dan bangsa. Di titik itulah organisasi alumni menemukan makna terdalamnya. Bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi ruang di mana kenangan menjadi energi, kebersamaan menjadi kekuatan, dan pengabdian menemukan arah bersama dalam lanskap sosial yang terus berubah.

__________

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image