Tragedi Zane Shamblin dan Alarm Bahaya: Ketika Khalil Digital Jadi Malaikat Maut
Agama | 2026-01-27 18:35:22
Dahulu, jika ditanya siapa sosok yang paling mengenal kita, jawabannya sederhana: keluarga, sahabat, atau guru. Namun di era digital yang serba cepat ini, jawaban itu perlahan bergeser pada sesuatu yang tak kasat mata namun selalu ada di genggaman: algoritma. Ia tahu apa yang kita sukai, menebak kelemahan kita, bahkan diam-diam mendikte cara kita berpikir. Tanpa kita sadari, kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah fenomena "Khalil Digital" sebuah entitas yang perlahan mengambil alih ruang paling utama di hati manusia.
Dalam khazanah bahasa, al-khalil bukanlah sekadar teman biasa. Merujuk pada kamus klasik Lisanul Arab, ia adalah sahabat yang cintanya begitu melekat hingga mampu menembus rahasia batin terdalam. Menariknya, jika kita menilik Munjid fil Lughah, ada kata yang sepadan yaitu khaliy, yang berarti kosong atau menyendiri. Benang merahnya sangat jelas: hati manusia selalu memiliki ruang kosong yang siap diisi. Pertanyaannya, siapa atau apa yang sebenarnya sedang kita biarkan menghuni ruang terdalam itu?
Al-Qur’an secara indah mengabadikan gelar Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah atau Sahabat Allah. Gelar ini bukan sekadar kehormatan puitis, melainkan hasil dari pengorbanan luar biasa Ibrahim dalam "membersihkan" hatinya dari segala bentuk berhala. Ibrahim membuktikan bahwa di batinnya tidak ada yang lebih dekat selain Sang Pencipta. Namun, bagi kita manusia modern, ruang batin itu kini sering kali kita serahkan secara cuma-cuma kepada algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (AI).
Bagi banyak orang hari ini, sahabat terdekat bukan lagi manusia bernyawa. Algoritma memahami kita dengan sangat detail; ia tahu konten apa yang membuat kita betah menatap layar berjam-jam. Jika kita sedang senang dengan gaya hidup mewah, ia akan terus "menyuapi" kita dengan konten hedonisme. Jika kita sedang gelisah, ia menyajikan narasi yang justru memperparah kecemasan. Ia bertindak layaknya sahabat yang sangat perhatian, namun dingin dan tanpa nurani. Dampaknya nyata: muncul penyakit mental seperti FOMO (fear of missing out), di mana kita merasa cemas dan kerdil hanya karena "sahabat digital" kita terus memamerkan standar hidup yang semu.
Bahaya ini bukan lagi sekadar teori. Memasuki tahun 2026, dunia dikejutkan oleh serangkaian kasus tragis yang menjadi pengingat pahit tentang betapa intimnya hubungan manusia dengan mesin. Di Amerika Serikat, kasus Zane Shamblin (23) dan Amaurie Lacey (17) menjadi sorotan setelah mereka mengakhiri hidup usai berjam-jam berkonsultasi dengan chatbot AI. Alih-alih memberikan bantuan medis, teknologi tersebut justru bertindak layaknya "suicide coach" yang memvalidasi niat gelap mereka seakan mengundang malaikat maut. Begitu juga kisah remaja Juliana Peralta (13) yang merasa chatbot lebih memahaminya daripada orang tua sendiri. Inilah wajah seram dari "Khalil Digital" yang cerdas namun tak punya kompas moral untuk menyelamatkan kita saat berada di titik nadir.
Nabi Muhammad ﷺ pernah mengingatkan bahwa agama seseorang sangat tergantung pada siapa sahabat karibnya (khalil). Pesan ini kini harus kita maknai ulang dalam konteks digital. Kita perlu mengidentifikasi kembali, siapa sebenarnya teman bicara kita setiap hari? Jika algoritma yang paling dominan mengatur suasana hati dan keputusan kita, maka dialah khalil kita yang sesungguhnya. Kita berhak dan wajib selektif terhadap circle digital kita, sama seperti kita memilih sahabat di dunia nyata. Jangan biarkan ruang batin kita dicuri oleh sahabat digital yang tak memiliki jiwa.
Hati manusia tidak pernah benar-benar kosong. Ia akan selalu diisi oleh sesuatu entah itu Allah, sahabat sejati, atau algoritma. Belajar dari Nabi Ibrahim, tugas kita adalah memastikan bahwa ruang batin terdalam itu tidak dijinakkan oleh berhala-berhala baru berwujud popularitas, konsumtivisme, atau kecerdasan buatan. Pada akhirnya, pertanyaannya tetap sama: apakah kita masih menjadikan Allah sebagai sahabat utama di ruang batin, atau tanpa sadar kita telah menyerahkan kendali hati kepada algoritma yang tak berjiwa?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
