Generasi Muda Butuh Perisai Menghadapi Era Digital
Gaya Hidup | 2026-01-30 16:18:41
Bagai kehilangan pijakan. Mungkin itulah kondisi generasi muda kita saat ini. Hidup mengalir mengikuti zaman yang penuh dengan hiruk pikuk permasalahan yang tak kunjung menemukan solusi hakiki. Hidup pada masa dimana setiap detik dijejali dengan berbagai informasi yang saling berebutan untuk menguasai pemikiran. Serangan bertubi-tubi dari media sosial yang menuntut kemampuan tinggi untuk memfilter berbagai konten yang semakin lama semakin tak menentu arah tujuannya.
Generasi muda hari ini dikelilingi dengan kemajuan teknologi yang kian pesat. Terlahir di era digital yang memudahkan segala urusan hanya dengan layar di depan mata. Tak bisa dipungkiri perkembangan teknologi membuat hidup terasa lebih mudah dan praktis. Namun, dibalik segala kemudahan yang disajikan tersimpan ancaman terhadap keberlangsungan generasi muda Islam dalam menjalani kehidupan kedepannya.
Hari ini, orientasi hidup generasi muda semakin bergeser. Tolak ukur keberhasilan seseorang dinilai dari popularitas, materialistik dan kebebasan tanpa batas. Kepedulian sosial dan kedalaman berpikir semakin menurun. Arus informasi yang semakin deras tak diiringi dengan kekuatan Aqidah yang kuat. Jadilah generasi muda hari ini berjalan tanpa arah tujuan yang sebenarnya.
Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan Allah SWT bukan tanpa tujuan. Al-qur’an menjelaskan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
Makna beribadah dalam ayat ini bukanlah sebatas menjalankan kewajiban ibadah mahdhah saja. Beribadah berarti tunduk dan patuh terhadap aturan Allah SWT dalam segala aspek kehidupan.
Dalam surah Al-Baqarah ayat 30, Allah SWT menjelaskan peran manusia sebagai khalifah atau pengelola di bumi. Manusia diberi amanah untuk menjadi pemimpin dengan menerapkan syariat Islam sebagai aturan dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini. Ketika manusia menjalankan amanah yang berada dipundaknya tidak sesuai dengan aturan Allah SWT, maka konsekuensinya adalah terjadinya kerusakan dalam semua aspek kehidupan.
Sebagaimana yang kita saksikan hari ini, generasi muda kita sudah teracuni dengan pemikiran sekuler. Penggunaan gadget yang aktif menjadikan mereka sebagai penerima informasi yang sangat massif tanpa filter aqidah yang kokoh. Mereka akan menjadi target pasar para kapitalis dalam menjual segala jenis barang dagangannya. Fashion, food, film, games dan lain sebagainya. Ditambah lagi sistem di negara ini yang berkiblat pada barat yang menjadikan kebebasan sebagai asas dalam berkehidupan. Jadilah aturan Sang Khaliq hanya digunakan pada saat ibadah menghadap-Nya saja. Akibatnya pergaulan generasi muda pun menabrak garis batas yang berujung pada perzinahan yang semakin marak terjadi. Kebebasan bertindak yang menyebabkan terjadinya perundungan dikalangan remaja, bahkan di tempat yang seharusnya paling aman, yaitu sekolah. Harusnya kita bertanya, mengapa ini bisa terjadi? Yang paling parah, kasus pembunuhan pun banyak diisi oleh para pemuda yang seharusnya berjuang menuntut ilmu agar mampu menerima amanah yang kelak akan diembankan kepadanya.
Tak hanya sampai disitu, kelihaian dalam penggunaan media sosial mempermudah transaksi narkoba di tengah-tengah generasi muda. Belum lagi berbagai platform judi online yang mudah diakses dan berhasil menjerat generasi muda sehingga terperosok ke dalam jurang kehancuran. Narkoba dan judol sudah terbukti menjadikan manusia semakin ganas dan sadis dalam melakukan tindak kriminal lainnya. Bahkan sampai tega melakukan pembunuhan terhadap ibu kandung sendiri. Na’udzubillahi min dzalik.
Sekuler Liberal adalah akar pemasalahan yang menyebabkan hancurnya generasi muda kita saat ini. Negara juga abai terhadap tanggungjawabnya dalam mendidik generasi muda dengan membiarkan masuknya arus informasi yang tidak seharusnya menjadi konsumsi generasi muda yang masih rentan teracuni pemikiran-pemikiran yang rusak.
Sistem Islam memiliki aturan yang tegas dan terperinci dalam menghadapai era digital saat ini. Khalifah sebagai pemimpin negara berfungsi sebagai ra’in (pengurus rakyat) dan junnah (perisai) yang bertanggungjawab terhadap seluruh rakyat yang dipimpinnya. Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Maka, segala kebijakan yang dirancang oleh negara khilafah adalah untuk menjaga dan menyelamatkan generasi. Khilafah memiliki visi ideologis yang jelas sehingga dapat dipastikan bahwa setiap kebijakan digital, pendidikan dan informasi selalu berpihak pada penjagaan aqidah, akhlak dan intelektualitas umat.
Dalam pengelolaan media digital, negara akan melakukan penyaringan ketat terhadap seluruh konten yang merusak akidah, kepribadian Islam, dan struktur sosial umat menggunakan teknologi yang paling mutakhir. Media digital diarahkan menjadi sarana pendidikan Islam, penyebaran dakwah, dan media propaganda negara untuk menunjukkan kekuatan peradaban dan ketangguhan umat Islam kepada dunia. Penegakan syariat Islam secara kaffah akan mencabut akar-akar kerusakan yang saat ini tumbuh subur di ruang digital, baik pornografi, kriminalitafs, penipuan, maupun liberalisasi.
Untuk itu, hal terpenting yang harus dilakukaan saat ini adalah pembinaan Islam kaffah yang mampu mencetak generasi pejuang yang layak untuk mengemban dakwah. Dakwah untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang akan menjadi perisai untuk melindungi generasi dan mengembalikan posisinya sebagai pemimpin peradaban yang mulia dan bermartabat. Wallahua’lam Bishawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
