Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Patimah Anjelina

Takut Tua tanpa Pegangan

Trend | 2026-01-29 09:47:06

“Mulailah investasi sedini mungkin.” Kalimat ini terdengar bijak, tetapi bagi banyak generasi muda justru menimbulkan kegelisahan. Bukan karena enggan berinvestasi, melainkan karena hidup hari ini saja sudah terasa rapuh.

Generasi muda tumbuh di tengah ketidakpastian yang berlapis. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya pendidikan dan kesehatan makin mahal, sementara kepastian kerja semakin jarang. Kontrak jangka pendek, kerja lepas, dan ekonomi gig menawarkan fleksibilitas, tetapi minim jaminan. Dalam situasi seperti ini, investasi tidak lagi dipahami sebagai jalan menuju kekayaan, melainkan sebagai upaya bertahan.

Banyak anak muda merasa waktu bergerak lebih cepat daripada kemampuan finansial mereka. Memiliki rumah terasa semakin jauh, pensiun tampak abstrak, bahkan menabung sering kalah oleh kebutuhan harian. Investasi lalu hadir sebagai simbol harapan. Cara sederhana untuk merasa punya kendali atas masa depan yang tidak pasti.

Media sosial memperkuat tekanan tersebut. Kisah tentang mereka yang sukses berinvestasi sejak usia 20-an berseliweran, lengkap dengan grafik pertumbuhan aset dan narasi kebebasan finansial. Tanpa disadari, investasi berubah menjadi standar sosial baru. Tidak ikut berarti tertinggal, atau dianggap tidak memikirkan masa depan.

Padahal, kegelisahan ini bukan semata persoalan literasi keuangan. Ia berkaitan erat dengan perubahan struktur kehidupan. Jalur hidup yang dulu relatif jelas: sekolah, bekerja tetap, menabung, lalu pensiun kini tidak lagi linier. Banyak generasi muda merasa harus mengamankan diri lebih cepat karena tidak yakin sistem akan menopang mereka di kemudian hari.

Di titik ini, pertanyaan “kapan sebaiknya mulai investasi?” menjadi semakin kompleks. Ia tidak lagi soal usia atau jumlah uang, melainkan kesiapan hidup. Ketika pendapatan belum stabil dan biaya hidup terus menekan, investasi justru bisa menjadi sumber stres baru, bukan rasa aman.

Sayangnya, keresahan ini kerap disederhanakan. Generasi muda dianggap kurang disiplin atau terlalu konsumtif. Padahal, banyak dari mereka hidup dalam kecemasan finansial yang konstan. Mereka memikirkan masa depan lebih cepat bukan karena ambisi berlebihan, melainkan karena rasa tidak aman yang nyata.

Penting untuk memandang investasi secara lebih manusiawi. Ia bukan kewajiban moral dan bukan ukuran keberhasilan hidup. Investasi adalah alat, bukan tujuan. Bagi sebagian orang, alat itu relevan sekarang. Bagi yang lain, mengelola pengeluaran atau memiliki dana darurat sudah merupakan langkah besar.

Alih-alih terus menekan pertanyaan kapan harus mulai, mungkin yang lebih jujur adalah: apa yang membuat kita merasa tidak aman? Dari sana, pembicaraan tentang investasi bisa menjadi lebih sehat—bukan sebagai perlombaan, melainkan sebagai bagian dari upaya memahami kondisi hidup masing-masing.

Pada akhirnya, investasi seharusnya menenangkan, bukan menekan. Ia semestinya memberi rasa aman, bukan menambah kecemasan. Dan mungkin, keputusan paling bijak bukanlah memulai secepat mungkin, melainkan memulai ketika kita benar-benar siap secara finansial dan emosional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image