Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Apakah Keberhasilan Kampus Bisa Dikuantifikasi?

Pendidikan dan Literasi | 2026-01-29 09:41:04

Dunia pendidikan tinggi saat ini hidup di era di mana segala sesuatu harus bisa diukur. Peringkat dunia, jumlah publikasi Scopus, berapa paten yang diperoleh, berapa besar dana riset yang masuk, jumlah dosen bergelar Doktor dan berjabatan akademik Guru Besar, semua jadi patokan utama untuk menilai sebuah kampus. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah angka-angka itu benar-benar bisa menangkap apa yang seharusnya dilakukan oleh sebuah universitas?

Seorang guru besar yang baru dikukuhkan dikelilingi mahasiswa. (Sumber: GenAi, Gemini Google)

Masalahnya bukan pada angka itu sendiri. Angka memang penting sebagai salah satu indikator. Yang jadi soal adalah ketika angka berubah dari alat menjadi tujuan. Kampus-kampus berlomba mengejar peringkat, dosen dipaksa publikasi sebanyak-banyaknya, mahasiswa dikejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Semua sibuk mengejar target kuantitatif sampai lupa bertanya: untuk apa semua ini? Apakah institusi pendidikan sedang dibangun atau sekadar pabrik penghasil angka?

Korban Pertama: Integritas Akademik

Fenomena ini menciptakan budaya akademik yang terdistorsi. Produktivitas ilmiah diukur dari berapa banyak artikel yang terbit, bukan dari seberapa dalam pemikiran yang dihasilkan. Kualitas pengajaran dinilai dari skor evaluasi mahasiswa, bukan dari transformasi intelektual yang terjadi di ruang kelas. Bahkan kolaborasi riset pun sering dipilih berdasarkan perhitungan strategis: siapa yang bisa mempercepat publikasi, bukan siapa yang benar-benar kompeten dalam bidangnya. Dalam sistem seperti ini, integritas akademik menjadi korban pertama.

Lebih jauh lagi, tekanan untuk memenuhi target numerik ini memaksa banyak akademisi masuk ke dalam lingkaran setan yang sulit diputus. Mereka tahu bahwa apa yang dikerjakan tidak substansial, tapi sistem tidak memberi ruang untuk pilihan lain. Dosen muda yang idealnya punya waktu untuk mengembangkan pemikiran orisinal justru harus fokus pada strategi "bertahan hidup" dalam dunia publikasi.

Mahasiswa yang seharusnya bebas bereksperimen dengan ide-ide baru malah terperangkap dalam permainan aman demi IPK. Hasilnya bukan hanya kampus yang gemilang di atas kertas tapi kosong dalam dampak nyata, melainkan generasi akademisi yang kehilangan semangat untuk bertanya dan berani salah.

Obsesi Metrik

Yang lebih memprihatinkan, obsesi terhadap metrik ini justru merusak dari dalam. Dosen tidak lagi meneliti karena penasaran atau ingin menjawab masalah nyata, tapi karena dikejar target publikasi. Riset pun dipilih yang "gampang dimuat jurnal", bukan yang penting buat masyarakat. Mahasiswa fokus pada nilai, bukan pada belajar berpikir kritis. Hasilnya? Kampus yang gemilang di atas kertas tapi kosong dalam memberi dampak nyata.

Padahal, keberhasilan sejati sebuah kampus justru terletak pada hal-hal yang sulit diukur. Bagaimana alumni membawa integritas dalam pekerjaan mereka. Bagaimana riset kampus menginspirasi kebijakan publik yang lebih adil. Bagaimana tradisi intelektual yang dibangun menjadi penerang bagi generasi berikutnya. Ini semua adalah indikator yang autentik, tapi tidak akan pernah muncul dalam spreadsheet peringkat internasional.

Ironisnya, beberapa kampus terkemuka di dunia justru mulai mengurangi obsesi mereka terhadap peringkat. Mereka sadar bahwa mengejar angka sering mengorbankan hal yang lebih penting: relevansi lokal, pengembangan karakter, dan kontribusi nyata pada masyarakat. Universitas yang bertahan lama bukan yang peringkatnya paling tinggi, tapi yang mampu beradaptasi sambil tetap setia pada nilai-nilai dasarnya.

Independensi Riset

Persoalan lain yang tidak bisa diabaikan adalah ketergantungan pada dana internasional. Banyak kampus bergantung pada hibah riset yang mensyaratkan pemenuhan standar tertentu. Ini pedang bermata dua: membuka peluang berkembang di satu sisi, tapi di sisi lain bisa membuat kampus kehilangan fokus. Institusi jadi lebih responsif pada agenda donor ketimbang kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Di tengah krisis ekologi, ketimpangan sosial, dan disrupsi teknologi, kampus seharusnya jadi ruang untuk mencari solusi, bukan sibuk mengejar peringkat. Masyarakat butuh universitas yang mampu membaca kebutuhan mereka dan memberikan jawaban nyata.

Sudah waktunya ada pertanyaan jujur yang diajukan: apakah yang diinginkan adalah lulusan yang pintar secara statistik, atau manusia yang mampu memberi manfaat nyata bagi bangsa? Apakah yang dicari adalah peneliti yang pandai main sistem metrik, atau intelektual yang berani mengajukan pertanyaan sulit dan mencari solusi untuk masalah riil?

Pendidikan sebagai Transformasi

Jika kampus benar-benar ingin menjadi motor perubahan sosial, bukan sekadar pabrik sertifikat, maka cara menilai keberhasilan harus dirombak secara fundamental. Ini bukan persoalan teknis evaluasi atau penyesuaian indikator semata, melainkan pertanyaan filosofis mendasar: apa yang sesungguhnya bernilai dalam pendidikan tinggi? Pendidikan bukanlah arena kompetisi untuk menjadi "yang terbaik" menurut standar global yang seragam dan dirancang dengan logika pasar.

Pendidikan adalah proses transformatif membangun manusia utuh, yaitu yang beretika, kritis, kreatif, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan kebijaksanaan, bukan sekadar kompetensi teknis. Ketika metrik kuantitatif menjadi tujuan, bukan alat, maka esensi pendidikan sebagai pembentuk karakter dan agen perubahan sosial akan teralienasi oleh obsesi terhadap angka.

Dibutuhkan keberanian epistemik dan politik untuk menolak tekanan homogenisasi global yang mereduksi keragaman perguruan tinggi menjadi entitas-entitas yang seragam dan dapat dibandingkan. Kekhasan konteks lokal, baik geografis, kultural, maupun sosial-ekonomi, bukanlah kelemahan yang harus ditutupi atau hambatan yang harus diatasi, melainkan kekuatan strategis yang menjadi basis legitimasi dan relevansi kampus.

Perlu dikembangkan kerangka evaluasi holistik yang mengukur dampak sosial riset, bukan hanya jumlah sitasi; yang menilai kualitas pengajaran dari transformasi intelektual dan etis mahasiswa, bukan sekadar tingkat kelulusan; yang menghargai kontribusi kampus pada penguatan demokrasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekologis, bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi.

Evaluasi semacam ini menuntut investasi waktu, refleksi mendalam, dan dialog demokratis, berupa sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh spreadsheet atau algoritma pemeringkatan.

Mencetak Lulusan Berintegritas

Keberhasilan sejati pendidikan tinggi tidak terletak pada posisi dalam tabel peringkat yang disusun oleh lembaga asing dengan agenda dan kepentingan tertentu. Keberhasilan diukur dari seberapa besar dampak positif dan transformatif yang diciptakan bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan bangsa. Apakah lulusan kampus menjadi agen perubahan yang berintegritas? Apakah riset yang dihasilkan menjawab persoalan nyata komunitas lokal? Apakah kampus berkontribusi pada pemberdayaan kelompok marginal, perlindungan lingkungan, dan penguatan ruang publik demokratis?

Ilustrasi wisudawan-wisudawati. (Sumber: GenAI, Gemini Google)

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih substansial daripada jumlah publikasi di jurnal terindeks atau persentase dosen berpendidikan doctor, dan berapa banyak profesor.

Jika pemahaman ini gagal diraih oleh para pengambil kebijakan dan sivitas akademika, maka yang akan terus terjadi adalah pertukaran makna pendidikan dengan angka-angka semu yang memberikan ilusi kemajuan namun mengaburkan kemunduran substansial. Dalam proses itu, hilanglah kesempatan emas membangun sistem pendidikan tinggi yang benar-benar transformatif, yang mampu melahirkan generasi pemikir kritis, inovator yang berakar pada konteks lokal, dan warga negara yang bertanggung jawab. Yang tersisa hanyalah institusi-institusi yang mahir bermain dalam permainan metrik global, tetapi kehilangan jiwa dan relevansinya bagi masyarakat yang seharusnya dilayani.

Terbaik dengan Standar Sendiri

Saatnya perguruan tinggi Indonesia berani mendefinisikan keunggulan dengan bahasa dan parameter sendiri, bukan sebagai bentuk isolasionisme intelektual atau penolakan terhadap standar kualitas, melainkan sebagai sikap dewasa dan percaya diri bahwa kontribusi terbaik yang bisa diberikan pada dunia adalah dengan menjadi autentik, kontekstual, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat sendiri.

Hanya dengan cara ini, kampus dapat memenuhi misinya yang paling fundamental: bukan menjadi yang terbaik di dunia menurut standar orang lain, tetapi menjadi yang terbaik untuk dunia dengan cara yang unik dan bermakna. Pilihan ini menentukan apakah pendidikan tinggi kita akan menjadi subjek yang menentukan arah perubahan, atau sekadar objek yang dipermainkan oleh tren global yang datang dan pergi.

(Tulisan ini merupakan opini Penulis dan tidak mencerminkan pandangan institusi Penulis berkerja)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image