Doktor tidak Punya Kemampuan
Agama | 2026-03-05 14:27:25
Dalam sebuah pertemuan informal yang telah lama berlalu, saya berbincang santai dengan seorang rekan dosen dari perguruan tinggi lain. Percakapan mengalir ringan sebagaimana lazimnya suasana akrab antarkolega. Di tengah obrolan itu, rekan tersebut mengatakan, “Gelar doktor kalau tidak punya jabatan, dianggap tidak punya kemampuan.” Kalimat itu entah sebagai candaan, sindiran, atau sekadar gambaran realitas yang terjadi akhir-akhir ini.
Kalimat itu kedengarannya cukup sederhana, namun di balik kesederhanaannya tersimpan cara pandang yang serius. Ia memindahkan ukuran kualitas dari kapasitas intelektual ke posisi struktural. Seolah-olah nilai lulusan S3 tidak lagi ditentukan oleh kedalaman ilmu, integritas akademik, atau kontribusi keilmuan, melainkan oleh kursi yang berhasil diduduki.
Jika pola pikir yang berkembang adalah bahwa tanpa jabatan, seseorang dianggap tidak memiliki kemampuan, maka dampaknya tentu tidak akan sederhana. Cara pandang semacam ini berpotensi melahirkan tekanan yang tidak sehat di kalangan akademisi. Lulusan doktor terdorong untuk membuktikan kualitasnya melalui perebutan posisi struktural, bukan melalui kedalaman riset, integritas ilmiah, atau kontribusi nyata bagi perkembangan keilmuan. Kompetisi yang semestinya menjadi ruang untuk meningkatkan mutu akademik dapat bergeser menjadi perlombaan meraih status.
Budaya semacam ini pelan-pelan menggeser orientasi. Pengembangan ilmu yang semestinya menjadi pusat perhatian bisa tergantikan oleh strategi memperoleh kedudukan. Kampus yang idealnya menjadi ruang kolaborasi, berisiko menjadi arena kontestasi. Ketika jabatan diposisikan sebagai simbol superioritas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya struktur organisasi, tetapi arah moral dunia akademik itu sendiri.
Padahal kontribusi akademik tidak selalu identik dengan jabatan struktural. Banyak dosen yang tidak memegang posisi administratif, tetapi konsisten menghasilkan karya ilmiah, membimbing mahasiswa dengan kesungguhan, dan menjaga etika keilmuan. Nilai seorang doktor tidak menyusut hanya karena tidak memiliki kursi tertentu.
Jabatan dalam dunia akademik memang memiliki peran penting. Keberadaannya diperlukan untuk mendukung tata kelola, proses pengambilan keputusan, serta penentuan arah kebijakan institusi. Namun ketika jabatan dijadikan standar utama dalam menilai kemampuan, terjadi penyempitan makna ilmu. Ilmu tidak lagi dipahami sebagai proses pencarian kebenaran dan pengabdian intelektual, melainkan direduksi menjadi alat legitimasi status. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu dipandang sebagai amanah yang membimbing manusia menjadi pribadi yang lebih arif, berintegritas, dan semakin tunduk kepada Dzat Pemilik Ilmu, bukan sekadar sarana mobilitas meraih jabatan.
Bahkan dalam sudut pandang keimanan, tidak diberikannya jabatan dapat dipahami sebagai bentuk penjagaan dari Dzat Pemilik Kekuasaan. Setiap posisi dan peran dibagikan sesuai dengan kesiapan dan kemaslahatan hamba-Nya. Sebab jabatan bukan sekadar kedudukan administratif, di dalamnya terdapat pengaruh, akses, dan penghormatan yang menyertai. Seluruh fasilitas itu dapat menjadi ladang pahala, tetapi juga membuka peluang munculnya penyimpangan, kesombongan dan ambisi yang bisa saja menjatuhkan pemiliknya. Tidak setiap ketiadaan adalah kekurangan, tidak setiap yang bisa diraih adalah kemuliaan, dan tidak setiap keberhasilan harus diikuti oleh kedudukan. Tidak memiliki jabatan bisa saja merupakan bentuk perlindungan agar seseorang tetap fokus pada amanah keilmuan, tanpa tergelincir dalam dinamika kekuasaan.
Sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan seiring dengan kekuasaan. Dalam kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Firaun berdiri di puncak otoritas politik pada zamannya, namun kekuasaan itu justru menjadi jalan menuju kehinaan. Qarun memiliki kekayaan dan pengaruh yang melampaui kebanyakan manusia, tetapi kejayaan tersebut berubah menjadi sebab kebinasaan karena kesombongannya. Kedudukan yang tinggi tidak otomatis melahirkan kemuliaan, ketika tanpa diiringi kerendahan hati dan tanggung jawab moral.
Sejarah modern pun menunjukkan pola yang serupa. Tidak sedikit pemimpin yang pernah berada di puncak kekuasaan, dielu-elukan dan dihormati, tetapi kemudian harus menghadapi kejatuhan yang menyakitkan akibat penyalahgunaan wewenang, ambisi yang tak terkendali, atau hilangnya integritas. Kekuasaan yang tampak kokoh dalam satu masa dapat runtuh dalam waktu singkat ketika nilai-nilai moral diabaikan. Fakta ini menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah jaminan kemampuan dan kehormatan, melainkan amanah yang sarat risiko.
Di sisi lain, sejarah juga memperlihatkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kursi kekuasaan. Banyak tokoh yang tidak memegang jabatan politik justru diangkat derajatnya oleh-Nya melalui ilmu dan ketulusan mereka. Imam al-Ghazali tidak dikenang karena posisi struktural, melainkan karena kedalaman pemikirannya yang terus hidup berabad-abad setelah wafatnya. Imam Nawawi tidak dikenal sebagai penguasa, tetapi karya-karyanya menjadi rujukan lintas generasi. Demikian pula Ahmad Dahlan, yang pengaruhnya lahir dari gagasan pembaruan dan pendidikan, bukan dari jabatan politik negara.
Nama-nama tersebut bertahan dalam ingatan umat bukan karena struktur formal yang pernah diduduki, melainkan karena keikhlasan, integritas, dan manfaat ilmu yang mereka wariskan. Pengaruh yang lahir dari gagasan dan ketulusan sering kali lebih panjang usianya dibandingkan pengaruh yang lahir dari kekuasaan.
Kemampuan seorang akademisi sejatinya tidak diukur dari tinggi rendahnya jabatan, melainkan dari kedalaman ilmunya, kejernihan nuraninya, dan luasnya manfaat yang dihadirkan. Gelar doktor tidak kehilangan martabat hanya karena tidak disertai kursi tertentu. Sebab martabat ilmu tidak melekat pada jabatan, tetapi pada tanggung jawab moral yang menyertainya.
Dunia akademik membutuhkan lebih banyak pemburu kualitas daripada pemburu jabatan. Kampus akan lebih kokoh jika para intelektualnya sibuk memperdalam gagasan, memperkuat integritas, dan memperluas manfaat. Jabatan akan datang kepada yang siap memikulnya. Namun kualitas harus tetap tumbuh, dengan atau tanpa jabatan.
Barangkali yang perlu ditata kembali bukanlah struktur jabatan, melainkan struktur cara berpikir. Jabatan adalah amanah yang kelak dipertanyakan, sedangkan kualitas adalah investasi yang kelak dipertanggungjawabkan. Dan dalam timbangan yang lebih abadi, yang dihitung bukanlah posisi yang pernah diduduki, tetapi nilai yang pernah diperjuangkan.
Pada akhirnya, yang bertahan dalam sejarah bukanlah mereka yang sekadar pernah menjabat, melainkan mereka yang menjaga integritas ketika memiliki kesempatan dan tetap menjaga kualitas ketika kesempatan itu tidak pernah datang.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
