Gemetar Saat Kehilangan Tidak Gemetar Saat Diberi
Agama | 2026-02-19 04:02:09
Tidak semua ujian datang dalam bentuk air mata, justeru sebagian datang dalam bentuk tepuk tangan. Ketika Allah mengangkat derajat seseorang, melapangkan rezekinya, meninggikan namanya, dan menjadikannya dihormati, saat itulah ujian berat sedang dimulai. Banyak orang gemetar saat kehilangan, tetapi sedikit yang gemetar saat diberi. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)” (QS. Al-Anbiya: 35). Keberhasilan, gelar, jabatan, pengaruh, dan segala bentuk pengakuan dunia bukanlah hadiah cuma-cuma melainkan adalah amanah yang sedang menguji isi dada.
Saat berada dalam kekurangan, manusia lebih mudah merunduk. Ia merasa membutuhkan pertolongan Allah dan menghargai keberadaan orang-orang di sekitarnya. Namun ketika posisi berubah dan derajat diangkat, rasa membutuhkan itu bisa memudar tanpa disadari. Syukur dapat bergeser menjadi rasa memiliki. Kesadaran bahwa semuanya adalah karunia dapat berubah menjadi keyakinan bahwa semuanya adalah hasil kemampuan diri. Pergeseran ini tidak terdengar gaduh, tidak pula terasa kasar, namun bisa tumbuh perlahan di dalam hati yang mulai nyaman dengan pujian.
Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun sebagai cermin sepanjang zaman. Ketika diingatkan agar tidak sombong, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash: 78). Kalimat ini tampak sederhana, tetapi di sanalah letak kesalahan yang mendasar karena telah memisahkan nikmat dari Sang Pemberi Nikmat. Padahal Allah telah menegaskan, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An-Nahl: 53). Ilmu, kecerdasan, kesempatan, relasi, bahkan waktu yang tepat, semuanya berada dalam genggaman-Nya.
Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi” (HR. Muslim). Kesombongan bukan selalu tentang suara yang meninggi atau sikap yang kasar. Tetapi bisa hadir dalam bentuk yang sangat halus, merasa tidak lagi perlu mendengar, sulit menerima nasihat, atau menganggap perasaan orang lain sebagai hal sepele. Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin tampak tinggi di hadapan manusia, tetapi sedang merendahkan dirinya di hadapan Allah.
Semakin tinggi derajat seseorang, semakin berat pula pertanggungjawabannya. Rasulullah SAW bersabda, bahwa manusia kelak akan ditanya tentang ilmunya, untuk apa diamalkan (HR. Tirmidzi). Artinya, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang diraih, tetapi tentang bagaimana keberhasilan itu dijalani. Apakah lisan tetap terjaga ketika nama semakin dikenal? Apakah hati tetap lembut ketika penghormatan semakin besar? Apakah hati tetap takut menyakiti orang lain, meskipun merasa tidak lagi membutuhkan? Dan masihkah teringat tangan-tangan yang pernah menguatkan langkah sebelum sampai pada keberhasilan?
Kesadaran akan kontribusi orang lain bukan sekadar etika terhadap sesama, melainkan bagian dari keimanan. Nabi SAW bersabda, “Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Hadits ini mengingatkan bahwa bersyukur memiliki konsekuensi sosial. Seseorang tidak dapat dikatakan bersyukur kepada Allah sementara pada saat yang sama menghapus peran manusia yang pernah menjadi perantara nikmat itu. Melupakan jasa sesama bukan hanya kekurangan adab, tetapi juga retaknya makna syukur itu sendiri.
Para ulama menjelaskan bahwa nikmat yang diberkahi adalah nikmat yang menambah kerendahan hati. Jika keberhasilan membuat seseorang semakin sadar bahwa semua bisa dicabut kapan saja, semakin mudah mengakui kekurangan, dan semakin berhati-hati dalam bersikap, maka itu pertanda rahmat. Namun jika keberhasilan membuatnya merasa aman, merasa tidak tersentuh, dan perlahan menutup telinga dari kebenaran, maka bisa saja orang itu sedang berada dalam istidraj kenikmatan yang meninabobokan sebelum pertanggungjawaban.
Pada akhirnya yang Allah timbang bukanlah tinggi rendahnya jabatan, tetapi berat ringannya hati dalam memikul amanah. Bisa jadi seseorang berdiri megah di atas panggung dunia, namun gemetar ketika berdiri di hadapan Rabb-nya. Dan bisa jadi seseorang yang tidak dikenal manusia justru tenang di hadapan Rabb-nya, karena orang tersebut menjaga akhlaknya.
Ketika Allah mengangkat derajat seseorang, sering kali pandangan tertuju pada ketinggian yang baru diraih. Padahal yang lebih penting adalah menoleh ke dalam dan memeriksa hati, apakah hati masih lembut? Apakah masih takut menyakiti? dan masih sadar bahwa segala yang ada dapat berakhir hanya dalam satu tarikan napas.
Sesungguhnya yang paling berbahaya bukanlah kegagalan yang menghadirkan tangis di malam hari, melainkan keberhasilan yang diam-diam menjauhkan hati dari tangis dan sujud di hadapan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
