Menemukan Tauhid di Balik Puing dan Gagal Bayar
Agama | 2026-02-14 10:09:04
Belakangan ini, batin kita terusik oleh dua wajah kehilangan yang berbeda namun bermuara pada satu kesadaran yang sama. Di satu sisi, kita menyaksikan saudara-saudara di Sumatera harus merelakan rumah dan harta benda tersapu banjir bandang. Di sisi lain, muncul keguncangan finansial pada platform investasi PT Dana Syariah. Kasus gagal bayar bernilai triliunan rupiah membuat banyak orang terkatung-katung dan kehilangan pegangan atas aset mereka. Fenomena ini bukan sekadar kemalangan fisik atau kegagalan sistem, melainkan salah satu instrumen Tuhan yang mengajak kita untuk meninjau kembali hakikat kepemilikan.
Dunia sebagai Ruang Ujian
Dalam kacamata iman, hidup bukanlah tempat tinggal permanen, melainkan sebuah ruang ujian keimanan. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, skenario kehidupan memang dirancang untuk menguji siapa yang paling baik amalnya melalui penciptaan kematian dan kehidupan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 2:
”yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Harta dan keluarga, yang seringkali kita anggap sebagai milik absolut, sebenarnya hanyalah variabel ujian atau fitnah. Al-Qur'an mengingatkan dalam QS. At-Taghabun ayat 15:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah pahala yang besar.” Kehadiran mereka seringkali menguji sejauh mana hati kita terpaku pada Sang Pemberi atau justru pada pemberian-Nya.
Filosofi Membakar Emas: Perspektif Semantik
Jika kita membedah kata fitnah melalui kacamata semantik dalam kamus Al-Munjid fil Lughah, kita akan menemukan kedalaman makna yang sangat relevan dari akar kata fa-ta-nun. Salah satu makna yang paling kuat dalam konteks ini adalah ahraqahu yang berarti membakar. Layaknya emas yang harus dibakar dengan api yang sangat panas untuk memisahkan logam mulia dari kotoran yang menempel, begitulah musibah bekerja dalam kehidupan manusia.
Proses "pembakaran" melalui lenyapnya harta dan guncangan duniawi ini bertujuan ”Liyubayyinu al jayyid min ar radiy” (memperjelas mana yang berkualitas dari yang buruk). Atau dengan kata lain untuk membedakan mana iman yang tulus dan mana yang rapuh. Kehilangan harta lewat air yang mengalir di Sumatera atau angka yang menguap di aplikasi investasi adalah cara langit menyingkap kualitas iman kita. Allah ﷻ sedang menguji apakah ketauhidan kita murni seperti emas yang tetap berkilau meski dibakar api, atau hanya sepuhan lahiriah yang luntur saat diterpa panasnya ujian.
Kembali ke Hakikat Kepemilikan
Analisis ini membawa kita pada prinsip dasar ekonomi syariah yang fundamental: kepemilikan mutlak (Absolute Ownership) hanyalah bagi Allah ﷻ. Manusia hanyalah pemegang mandat atau khalifah yang dititipkan hak pakai sementara atas apa yang ada di langit dan bumi. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 120:
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” Perasaan memiliki seutuhnya terhadap keluarga dan harta benda adalah beban yang sangat berat jika tidak dibarengi kesadaran bahwa kita hanyalah "tamu" yang sedang meminjam properti milik Tuan Rumah.
Dalam konteks inilah, ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un kerap terdengar begitu akrab di lisan, namun asing di kesadaran. Ia sering terucap sebagai respons spontan atas musibah, tetapi jarang hadir sebagai pengakuan tauhid yang sungguh-sungguh. Padahal, kalimat itu bukan sekadar ungkapan duka, melainkan pernyataan paling jujur tentang hakikat kepemilikan: bahwa segala sesuatu kepunyaan Allah ﷻ dan kepada-Nya pula segala yang dipinjamkan akan kembali.
Menghadapi musibah ini, tentu memberikan pertolongan dan empati tetap harus dikedepankan. Namun, Tauhid hadir bukan untuk meniadakan rasa sedih, melainkan sebagai penawar agar kesedihan itu tidak berubah menjadi keputusasaan. Saat kita menyadari bahwa segala sesuatu memiliki "masa pinjam", maka saat Sang Pemilik mengambilnya kembali, kita dilatih untuk tidak merasa dirampok. Pada akhirnya, kehilangan di dunia adalah penyadar, pengingat agar kita lebih berhati-hati dan tidak membangun "istana pasir" di tepi pantai kehidupan yang fana. Satu-satunya yang tidak akan pernah hilang dari kita hanyalah Allah ﷻ, pemilik hakiki yang kepada-Nya kita semua akan kembali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
