Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Arah Kehidupan Baru Manusia dalam Perspektif Al-Quran

Khazanah | 2026-01-15 12:11:04

Manusia tidak pernah memilih di mana ia dilahirkan, kepada siapa ia dititipkan, dan di tanah mana ia pertama kali menghirup udara kehidupan. Semua itu adalah keputusan Allah SWT. Dari keputusan awal inilah perjalanan manusia dimulai, dengan bekal, arah, dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Sejak awal kelahiran, manusia sesungguhnya telah berada dalam sistem pengaturan Ilahi yang sangat rapi. Kita dibesarkan dalam keluarga, memiliki tempat tinggal, relasi sosial, dan ruang hidup bukan karena kehendak pribadi, melainkan karena kasih sayang dan pengaturan Allah SWT. Dari situlah manusia mulai menjalani kehidupannya, tunduk pada kedaulatan-Nya, dan bergantung sepenuhnya pada kehendak-Nya.

Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari tanah. Dari tanahlah manusia diciptakan, dengannya manusia hidup, dan kepadanya pula manusia akan kembali. Al-Qur’an menegaskan hubungan eksistensial manusia dengan tanah dalam firman Allah SWT:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”

(QS. Thaha: 55)

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah penegasan kekuasaan Allah SWT. Manusia diciptakan dari bahan yang sama, yaitu tanah, lalu dibentuk menjadi makhluk yang hidup, sehat, dan kuat. Setelah kehidupan berakhir, manusia kembali dikuburkan ke dalam tanah, menjadi seperti sebelum ia diciptakan. Dan dari bahan yang sama itu pula, Allah akan membangkitkan manusia kembali pada kehidupan kedua di hari kebangkitan.

Ayat ini sekaligus menjadi pengingat asal-usul manusia. Tidak ada satu pun manusia yang lebih mulia dari yang lain berdasarkan asal penciptaannya. Semua berasal dari bahan yang sama dan akan kembali pada tempat yang sama. Karena itu, tidak ada ruang bagi kesombongan. Al-Qur’an menegaskan bahwa satu-satunya pembeda kemuliaan manusia adalah ketakwaannya, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam Islam, tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa hidup manusia bukan sekadar siklus biologis: makan, bekerja, tidur, dan kembali mengulang rutinitas. Kehidupan diciptakan untuk diisi dengan penghambaan kepada Allah SWT. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Allah tidak mungkin menciptakan makhluk tanpa tujuan, perintah, dan larangan. Seluruh kehidupan manusia diarahkan agar bermuara pada ibadah.

Ibadah bukan hanya ritual formal, tetapi wujud bakti dan cinta. Dalam KBBI, ibadah dimaknai sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Dalam Islam, ibadah mencakup ketaatan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan, ibadah meliputi seluruh sisi kehidupan: ritual dan sosial, hubungan vertikal dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablumminannas).

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-An’am: 162)

Islam memandang dunia sebagai ladang amal. Apa yang ditanam manusia di dunia akan dipanen di akhirat. Oleh karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang menanam amal kebaikan dengan cara yang benar. Kematian justru menjadi pintu menuju kehidupan yang kekal.

Allah SWT menjelaskan hakikat hidup dan mati sebagai ujian:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(QS. Al-Mulk: 2)

Ujian kehidupan seharusnya tidak menjauhkan manusia dari Allah, tetapi justru mendekatkannya. Dalam setiap ujian terdapat peluang untuk kembali, bertobat, dan memperbaiki arah hidup. Allah Maha Perkasa, namun juga Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang kembali.

Kehidupan berjalan seperti sebuah siklus: pagi dan malam silih berganti, tidur dan bangun terus berulang. Namun ada satu hal yang tidak pernah berputar kembali, yaitu umur. Karena itu, setiap bangun tidur sejatinya adalah kelahiran baru. Sebuah kesempatan untuk mensyukuri hidup dan menata kembali arah pengabdian.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa lama kita berjalan di dunia, tetapi ke mana arah langkah itu ditujukan. Dan dalam sunyi tahajud, Allah sering kali mengembalikan arah itu—pelan-pelan, namun pasti—kepada tujuan sejatinya: penghambaan kepada-Nya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image