Ketika Kalimat Tauhid Hanya Tinggal Ucapan
Khazanah | 2026-01-09 18:52:40
Di tengah rutinitas ibadah umat Islam, kalimat laa ilaaha illallah adalah dzikir yang paling sering terucap. Ia hadir dalam adzan, shalat, dzikir harian, bahkan menjadi kalimat terakhir yang diharapkan keluar dari lisan seorang muslim saat ajal menjemput. Namun pertanyaannya, sudahkah kalimat tauhid itu benar-benar hidup dalam kesadaran dan perilaku kita, atau sekadar menjadi ucapan yang berulang tanpa penghayatan?
Kalimat tahlil bukanlah sekadar rangkaian kata. Ia adalah inti ajaran Islam, fondasi iman, dan poros seluruh amal perbuatan. Karena itu, para ulama menempatkan tauhid sebagai kunci keselamatan dunia dan akhirat.
Tauhid sebagai Jalan Menuju Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa siapa pun yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga. Hadis ini sering kita dengar, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar harapan di akhir hayat. Ia mengisyaratkan bahwa hidup seorang muslim seharusnya dibingkai oleh tauhid sejak awal hingga akhir.
Orang yang terbiasa menghidupkan kalimat tauhid dalam kesehariannya—bukan hanya di lisan, tetapi juga dalam sikap dan pilihan hidup—akan dimudahkan untuk menutup hidupnya dengan kalimat tersebut. Sebaliknya, tauhid yang tidak dirawat berisiko menjadi asing saat paling dibutuhkan.
Keikhlasan yang Mengantarkan Keberuntungan
Dalam hadis lain, Rasulullah menjelaskan bahwa manusia yang paling berbahagia mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat adalah mereka yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan tulus dari hati. Keikhlasan menjadi kata kunci. Tauhid tidak berhenti pada pengakuan, tetapi menuntut kepasrahan total kepada Allah.
Di sinilah tantangan umat Islam hari ini. Di tengah kuatnya orientasi duniawi, kalimat tauhid sering kali kalah oleh kepentingan materi, jabatan, dan gengsi sosial. Padahal, tauhid sejati meniscayakan keberanian untuk menempatkan Allah di atas segalanya.
Tauhid dan Keselamatan dari Api Neraka
Beberapa hadis menyebutkan bahwa Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya. Namun para ulama menegaskan, keikhlasan ini harus dibuktikan dengan konsekuensi nyata: menjauhi kesyirikan dan mengamalkan ajaran Islam secara lahir dan batin.
Artinya, kalimat tauhid tidak bisa dijadikan tameng semu yang dipisahkan dari perilaku. Ia justru menjadi kompas moral yang mengarahkan seorang muslim untuk hidup jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Memperbarui Iman di Tengah Rutinitas
Iman bukan sesuatu yang statis. Ia bisa menguat dan melemah. Karena itu Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbarui iman dengan memperbanyak ucapan laa ilaaha illallah. Dzikir ini bukan sekadar pengulangan, tetapi sarana menyadarkan hati tentang siapa yang sebenarnya menjadi pusat kehidupan.
Dalam realitas hari ini, anjuran ini terasa sangat relevan. Banyak orang rajin beribadah secara formal, tetapi mudah goyah ketika berhadapan dengan godaan dan tekanan hidup. Tauhid yang diperbarui akan melahirkan keteguhan, bukan hanya kesalehan simbolik.
Kunci Segala Kebaikan
Rasulullah pernah menyebut kalimat tauhid sebagai kebaikan yang paling utama, bahkan mampu menghapus dosa dan kesalahan. Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah sumber energi spiritual yang luar biasa. Ia menjadi fondasi bagi seluruh amal, sekaligus pengingat bahwa perubahan besar selalu bermula dari keyakinan yang benar.
Menghidupkan tauhid berarti menjadikan Allah sebagai tujuan akhir dari setiap langkah. Dari sanalah lahir kejujuran dalam bekerja, keikhlasan dalam beramal, dan ketenangan dalam menghadapi ujian hidup.
Menjadikan Tauhid Sebagai Kesadaran Hidup
Kalimat laa ilaaha illallah adalah kunci delapan pintu surga, tetapi kunci itu hanya bermakna jika benar-benar digunakan. Tauhid yang hidup akan tercermin dalam cara kita mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan memaknai kehidupan.
Di tengah zaman yang penuh distraksi, menghidupkan tauhid adalah upaya melawan kelalaian. Bukan dengan sekadar memperbanyak ucapan, tetapi dengan menghadirkan kesadaran bahwa tidak ada yang lebih layak ditaati, dicintai, dan diharapkan selain Allah.
Barangkali, inilah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kalimat tauhid masih menjadi pusat hidup kita, atau hanya tinggal ucapan yang berlalu di lisan?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
