Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (027) Kesunyian yang Menghidupkan Iman

Khazanah | 2026-02-09 18:47:27
Malam mengajari kita satu hal: iman tidak selalu menguat karena banyak bicara tentang Tuhan, tetapi karena berani diam lama di hadapan-Nya.

Tidak semua kesunyian melemahkan. Ada sunyi yang justru menghidupkan iman. Dalam keheningan malam, ketika suara dunia mereda, hati lebih mudah mendengar panggilan Tuhan. Pada saat itulah, manusia berhenti menjadi pusat segalanya, dan kembali menyadari betapa ia hanyalah hamba yang rapuh.

Al-Qur’an menggambarkan hamba-hamba yang saleh sebagai mereka yang menghidupkan malam dengan bersujud dan berdiri di hadapan Rabb-nya.

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun.” (QS. Az-Zariyat: 17–18)

Mereka tidak hadir di malam hari untuk mencari pujian atau ingin tampak lebih suci dari yang lain. Kesunyian malam justru menjadi ruang aman bagi kejujuran iman—ketika tidak ada yang melihat, kecuali Allah semata.

Dalam sunyi, banyak topeng tersingkap. Kita tak lagi sibuk menjaga citra, tak lagi berlomba tampak benar. Yang tersisa hanyalah jiwa yang lelah, penuh kekurangan, dan sangat membutuhkan ampunan. Di hadapan-Nya, semua prestasi dunia mengecil, semua kehebatan diri luruh.

Rasulullah ﷺ sendiri memilih malam sebagai waktu paling jujur untuk mendekat. Hingga kedua kaki beliau bengkak karena panjangnya berdiri dalam shalat. Ketika ditanya mengapa begitu bersungguh-sungguh, beliau menjawab:

“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Malam mengajarkan bahwa iman tidak selalu tumbuh di tengah keramaian, tetapi justru saat kita berani sendiri—jujur pada kelemahan, dan pasrah pada kekuatan-Nya.

Kesunyian bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi. Sebab iman sering kali menguat bukan karena banyak bicara tentang Tuhan, melainkan karena berani diam lama di hadapan-Nya—tanpa topeng, tanpa pembelaan diri.

Malam seakan berbisik pelan: dalam sunyi yang tulus, iman akhirnya menemukan suaranya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image